Kamis, 26 Maret 2020

Esai Sastra: Lagu di Persimpangan Jalan Goresan Pena Mahdi Idris Dalam Sebuah Tembang Puisi


Esai Sastra
LAGU DI PERSIMPANGAN JALAN
GORESAN PENA MAHDI IDRIS DALAM SEBUAH TEMBANG PUISI

Oleh Hamdani Mulya

Saya tulis risalah ini sebagai sebuah apresiasi kepada penulis  Mahdi Idris, sebagai seorang penulis sekaligus guru, Mahdi Idris telah menoreh karya yang begitu apik sehingga melahirkan sebuah buku yang layak dibaca bertajuk Lagu di Persimpangan Jalan. Dengan lincah dan mengalir deras di atas lembaran buku. Ia sangat lihai bercerita dengan suka duka, cinta dan air mata, sekaligus rindu akan tanah leluhurnya Aceh yang sarat budaya serta kearifan lokal yang mestinya dipelihara dengan baik. Kali ini ia bercerita dengan berpuisi, ya itulah puisi sebuah karya yang ringkas, namun sarat pesan moral. Dalam beberapa bait saja, jika ide puisi ditulis dalam bentuk cerpen atau novel mungkin halaman bukunya akan lebih tebal dan penuh kisah yang panjang.
Lagu di Persimpangan Jalan sebuah buku terbitan Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara tahun 2014 ini, diberikan pengantar oleh penulis Teuku Kemal Pasya yang ia ungkapkan dalam “Berpuisi, Meretas Jalan Sendiri”. Teuku Kemal Pasya berharap agar lahan kepenulisan Aceh harus tumbuh subur dalam areal menanam sastra seperti yang ia ungkapkap berikut ini “... di bidang puisi lebih menyedihkan. Lahan Aceh masih tandus dan rapuh,” Teuku Kemal Pasya prihatin dengan geliat puisi yang dihasilkan penulis berdarah Aceh kurang produktif.
Hal tersebut cocok seperti kata-kata Mahdi Idris dalam puisi berikut:
Akulah diri paling rapuh
Berdiri perkasa
Halau badai raksasa
Meski kekuatan tinggal sedepa

            (Akulah Ranting, Mahdi Idris, hal 28)

            Atas keprihatinan Teuku Kemal Fasya di atas, lalu Mahdi Idris berangkat dengan semangat membara ke ladang satra menampakkan eksistensinya bahwa karya sastra penulis berlatar Aceh harus tumbuh subur dalam ladang kancah sastra nasional. Mahdi Idris dengan bukunya ingin menerangkan bahwa penulis Aceh memiliki buku yang berpotensi bersanding sejajar di rak buku dengan buku-buku nasional lainnya. Hal tersebut Mahdi Idris ungkapkan dalam puisi “Lagu di Persimpangan  Jalan” terdapat pada bait berikut:
Ah, kami siap berangkat kapan saja agar kau mengerti harga diri
Kami lebih leluasa menciptakan impian dan cinta pada tanah ibu.
Kami akan menggarap sepetak tanah lagi tanah itu demi anak cucu,
Mengintip bintang di jendela. Seusai panen, mereka bernyanyi sekeras-kerasnya.

(Mahdi Idris, hal 21)

Dengan kehadiran Mahdi Idris dalam kancah sastra tanah air telah menambah literatur buku karya penulis Aceh dalam katalog Perpustakaan Nasional. Tak pelak, ia dalam beberapa tahun menghasilkan beberapa buku seperti kumpulan cerpen Jawai dan Lelaki Bermata Kabut. Mahdi Idris sangat piawai bercerita melalui buku, karena ia berangkat dari seorang penceramah di masjid, mengajar di kampus, dan kali ini Mahdi Idris berceramah dalam sebuah buku. Tentu akan menambah nilai sebagai sosok seorang penulis sekaligus ustaz yang menjadi imam bagi penulis lainnya dalam menjadikan rujukan buku karya Mahdi Idris.
Dalam buku Mahdi Idris juga menguak tirai betapa berjasanya Aceh bagi nusantara, Aceh serupa istri yang begitu setia kepada seorang suami yang bernama nusantara. Bisa dikatakan bahwa Mahdi Idris merupakan sosok penyair yang nasionalis, namun ia juga sangat mencintai tanah kelahirannya Aceh yang berjuluk Serambi Mekkah. Ungkapan batin penyair dapat terbaca pada puisi berjudul “Aceh” pada bait berikut:
Engkaulah wujud paling setia menemani kesenjaan
Beribu purnama telah kugenggam bersamamu
Di atas hamparan tanah dan air mata yang terpancar
Dari kelenjar mata berair bermusim waktu
.............................................................

Lalu Mahdi Idris mengakhiri puisi tersebut dengan larik berikut:

Aceh, adalah rindu yang menggebu
Tempat memulang diri pada cinta anak-cucu
Agar kesetiaan takkan pudar
Sampai segala cinta melekang diri di dada

(Mahdi Idris, hal 42-43)

Hal tersebut senada dengan apa yang dikatakan penyair nasional Cecep Samsul Hari bahwa Mahdi Idris menulis sajak-sajaknya tanpa pretensi menaklukkan bahasa. Sangat terlihat bahwa baginya, puisi adalah interiorisasi atas kumpulan pengalaman pribadinya sebagai hamba Tuhan, sebagai penyair, dan sebagai putra Aceh yang sangat mencintai tanah kelahirannya.
“Mahdi Idris tidak saja mengenalkan kita pada kenangan negeri, pun kita diajak pula dalam percakapannya dengan dengan Tuhan,” ungkap Asrizal Nur penyair asal Depok, Jawa Barat di sampul belakang buku berwarna putih berlukisan pemandangan alam.
Hal tersebut dapat dipahami dan ditangkap dari pesan moral yang disampaikan Mahdi Idris dalam puisi berjudul “Doa” pada bait berikut:
Ya Allah, akulah jiwa dina antara para abdi
biar sorga takkan lekat harumnya
namun persinggahlah sedetik waktu menemui Engkau
memandang-Mu, sungguh Tuhanku paling azali.

Dan juga terbaca pada puisi “Malam Tahajjud” pada bait-bait berikut:
Akan kutuai sebilah kerinduan mencumbui malam
Pada lorong sunyi antara kerimbunan air mata dan kelakar buta,
Berharap sebutir embun jatuh dari pangkuan langit
Saat jiwa menjadi diri paling nista.

Kubakar mimpi-mimpi bertualang dengan asma-Mu
bila Kau sudi terima aku sebagai hamba paling dina
antara para abdi.

Bila telah Kautulis aku pemilik paling nista
apa yang hendak kukata pada Engkau selain doa-doa,
terimalah aku sesaat menjelang ajal tiba.

Sebagai seorang panyair berlatar pesantren memang rata-rata corak karya yang tulis Mahdi Idris mengandung pesan religius, itulah yang saya maksud bahwa Mahdi Idris juga berdakwah dengan buku melalui media puisi dan cerpen.
“Pilihan diksinya memikat. Mudah dicerna. Bermacam cerita ditulis Mahdi Idris di dalam puisi-puisinya, dari soal kesunyian diri hingga pencarian Tuhan, “ papar Muhammad Subhan, penulis novel Rinai Kabut Singgalang, menetap di Pandang Panjang menilai buku Lagu di Persimpangan Jalan.
“80 puisi penyair Mahdi Idris dalam Lagu di Persimpangan Jalan disampaikan lewat realitas sosial yang ditangkapnya melalui perjalanan hidup-terkontemplasi dari proses kemurnian imajinatif lalu mengkritisi kehidupan dengan bahasa konfiguratif-religiusitas...,” ungkap Sulaiman Juned, penyair, dan dosen Instititut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Mahdi Idris menutup dan mengakhiri buku ini dengan sebuah puisi begitu apik sebagai sebuah monumen sastra, ia ingin namanya abadi bersama puisi yang ia tuliskan lumayan panjang ini, untuk dikenang sepanjang zaman. Puisi tersebut berjudul “Sebab Puisi Tak Pernah Mati” pada bait berikut ini.
Pernahkah kau dengar, puisi-puisi melayang tinggi menuju langit, lalu bersemayam dalam kandil ruh para nabi, atau disiksa karena dosa, wajahnya dibakar api neraka Jahannam. Tidak bukan? Engkau tak pernah mendengar sebuah puisi yang tiba-tiba terserang penyakit kronis atau bunuh diri dalam kamar penyair, dalam buku pelajaran bahasa yang enggan dijamah pelajar, atau dalam perpustakaan yang semakin jarang didatangi pembaca. Puisi tak pernah mati!

Penyair boleh mati bahkan bunuh diri, sebab kecewa atas kata-katanya sendiri, atau ditusuk bayonet jelmaan huruf salah ketikan, menebas kehidupannya bersama kata. Penyair boleh mati, memang, dia akan mati suatu saat nanti. Sebab dia penyair, bukan puisi. Puisi tak pernah mati!

Puisi tetap hidup! Kadang serupa air, tanah, udara kadangkala menyerupai karang cadas, tegak menjulang di awan, jelma mercusuar. Kadang kala menjelma pohon rimbun tempat teduh di padang tandus tapi bukan untuk penulis puisi. Bukan! Puisi untuk dunia yang anggun atau dunia galau. Puisi tetap hidup, sampai ia tak lagi dikenal sebagai puisi, tapi coretan tangan seseorang dalam kesunyian yang menangisi nasibnya.

(Tanah Luas, 2012)

Mahdi Idris mengungkapkan bahwa puisi tak pernah mati. Ia ingin karya yang ia tulis selalu dibaca sepanjang zaman, nama Mahdi Idris terus hidup di hati dan jiwa para pengagum puisi yang ia tulis. Puisi tak pernah mati menurut pandangan Mahdi Idris, namun puisi akan pudar perlahan-lahan serta layu seiring waktu yang berputar. Hanya Allah Yang Maha Hidup dan Allah Yang Maha Kekal.
Bagi para penulis menduduki posisi terhormat di atas mimbar pendidikan. Para penulis namanya akan abadi sepanjang zaman bersama karya yang ia tulis, meskipun jasadnya telah terbujur di pembaringan terakhir, karena para penyair juga akan mati. Namun suatu kehormatan bagi para penulis, ia meninggalkan jejak-jejak sejarah melalui goresan pena yang ia wariskan melalui buku-buku karya yang ditulisnya. Semoga. Mahdi Idris sebagai salah satu contoh penulis yang berpandangan jauh ke depan, ia memiliki cita-cita yang panjang. Seperti yang pernah diungkapkan Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” dalam puisi berjudul “Aku”, namun sayang! Chairil Anwar dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa pada usia muda, ia meninggal pada umur 27 tahun. Tetapi karena kegigihan Chairil Anwar dalam menulis puisi, namanya dan puisi-puisi Chairil Anwar hidup dan masih bisa dibaca pengagumnya sampai seribu tahun lagi.
“Menulislah walau hanya beberapa kalimat yang mengandung hikmah dan petuah, yang menjadi madu bagi pembaca, yang akan diteguk di surga nantinya. Janganlah engkau menulis kalimat panjang lebar, yang menjadi racun bagi pembaca, racun yang akan engkau teguk di neraka nantinya,” (Hamdani Mulya).
Demikianlah risalah ringkas ini, semoga bermanfaat bagi pengembangan karya sastra yang bercorak religius. Karya sastra sebagai media dakwah yang mengandung pesan dan petuah. Berdakwah melalui karya sastra. Salam dari Aceh, Serambi Mekkah.

Aceh Utara, 24 Maret 2020.

Riwayat Singkat Penulis:
Hamdani Mulya adalah nama pena dari Hamdani, S.Pd Guru SMAN 1 Lhokseumawe. Pemerhati bahasa dan sastra, Penulis buku Sajak Secangkir Air Mata (Syair Orang Sehat, 2019). Karyanya dimuat dibeberapa media cetak dan online.