Senin, 27 Juni 2016

Jejak Pahlawan Aceh Teungku Pang Husen

TEUNGKU PANG HUSEN PAHLAWAN MUDA BELIA

Teungku Pang Husen seorang pahlawan dari Aceh yang luput dari catatan sejarawan. Seangkatan dengan Pang Nanggroe suami Cut Nyak Meutia. Yang membangkitkan spirit rakyat Aceh melawan penjajah Belanda di tanah Pasai. Teungku Pang Husen syahid pada tahun 1894 dalam berperang melawan agresi serdadu Belanda. Makamnya terdapat di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Pahlawan ini hanya berusia sekitar 36 tahun. Syahid sebelum sempat menikah. Pahlawan muda belia ini tidak mau menikah sebelum negara yang ia cintai merdeka dan bebas dari belenggu penjajah. Ia lebih cinta kepada tanah airnya Aceh, dibandingkan wanita yang ia cintai. Kegigihan Teungku Pang Husen dalam melawan penjajah sama dengan perjuangan Teuku Umar pahlawan nasional asal Aceh Barat. Namun sayang, sejarah Teungku Pang Husen Belum ada dalam buku sejarah. Inilah cacatan sejarah yang tercecer yang perlu diketahui oleh generasi muda untuk meneruskan perjuangan para pahlawan yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya untuk agama Islam dan tanah air. Semoga Allah memberikan bidadari bermata sayu di surga kepada Teungku Pang Husen sebagai pengganti kekasihnya di dunia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Sejarah ini saya tulis berdasarkan cerita almarhumah Hj. Anduwah janda seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, nenek saya. Dan bersumber dari kisah Tgk. Ibrahim Pmtoh seorang pembaca hikayat Aceh, ayah saya. Semoga bermanfaat karena belum dimuat dalam buku sejarah. Lebih lengkap mengenai Teungku Pang Husen dapat dibaca di http://hamdanimulya.blogspot.com. (Hamdani Mulya).


Minggu, 26 Juni 2016

Fatimah Ibunda yang Merawat Hikayat Aceh

Melacak Jejak Hikayat Aceh di Pedalaman Aceh Utara

Foto Hikayat Aceh
Ibu Fatimah Pemilik Manuskrip Hikayat Aceh

Merekam Jejak dan Jasa Ibunda Sultan Malikussaleh

MAKAM PUTRI BETUNG (PUTRO BEUTONG) IBUNDA SULTAN MALIKUSSALEH
Makam Putri Betung (Putro Beutong)
Makam Putri Betung (Putro Beutong) ibunda Sultan Malikussaleh. Kurang perawatan butuh perhatian semua pihak. Dari kandungan ibunda Putri Betung lahir seorang raja Muslim termasyhur di kerajaan Samudra Pasai, Aceh. Namun sayang jasa ibunda dihargai tidak sebanding dengan kemegahan Pasai sebagai sejarah warisan peradaban dunia. Berlokasi di desa Rheng Bluek, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Padahal makam ini tidak terisolir sangat dekat dengan jalan raya. Hiruk-pikuk kenderaan yang melintas jalan kecamatan Geudong-Jungka Gajah membuat orang-orang yang pernah bercita-cita untuk kembali mengulang masa kejayaan Aceh seperti masa Sultan Malikussaleh, lupa. Miris memang!, ironis rasanya ketika hari ini kita lupa jasa nenek moyang. Karena di tangan Ibunda Putri Betung, Sultan Malikussaleh besar menjadi Raja sehingga Pasai disegani dunia ketika itu. Mana tangan-tangan dermawan yang mau merawat sejarah nenek moyang kita? Yang begitu gagah merawat raja yang sampai saat ini kita kagumi. Sering saya melewati kuburan ibunda sultan yang semoga selalu diberi rahmat Allah dan diluaskan kuburnya ini. Sampai hari ini, ketika Museum Islam Samudra Pasai sudah dibangun. Namun sayang makam ibunda sultan, famplet papan nama situs sejarah saja belum ada. Warna cat pagar lapuk dimakan usia. Di sinilah ibunda Putri Betung berbaring. "Aku selalu mengingat jasamu. Dirimu kukenang sepanjang masa. Aku mencintaimu laksana menyayangi ibu kandungku sendiri, karena engkau adalah nenek pahlawanku". (Hamdani, S.Pd. Penulis adalah Pengamat Sejarah Aceh).

Qasidah Aceh Syiar dalam Syair

 Qasidah Aceh Syiar dalam Syair yang Harus Dilestarikan 
Foto Buku Qasidah Aceh

Ketika saya menulis buku Bahasa Nenek Moyang (Indatu) Orang Aceh tahun 2015 lalu. Saya mencari referensi buku Qasidah Aceh di sebagian besar toko yang ada di Aceh Utara dan Lhokseumawe tidak saya dapatkan, buku kecil tersebut tidak ada cetakan ulang. Lalu saya keliling pasar-pasar kecamatan mencari di tempat penjualan kitab, juga tidak ada. Ternyata buku Qasidah Aceh sekarang sudah menjadi manuskrip dan bahan langka. Setelah keliling beberapa kampung beberapa hari, baru saya dapatkan pada salah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama disimpan, sampulnya sudah tidak ada. Kertasnya lapuk dimakan usia. Lalu saya foto kopi dan diberikan sampul kertas jeruk. Tanggal 15 Mai 2016 lalu datanglah Bapak Hermansyah, MA.Hum filolog Aceh ketika meneliti hikayat Aceh, lalu qasidah Aceh foto kopi karya almarhum Tgk. M. Thaib Abubakar Geudong Pase, Aceh Utara, saya berikan sebagai cenderamata kepada Bapak Hermansyah sebelum beberapa hari beliau terbang ke Jerman melanjutkan studi program Doktor.Ternyata bagi Bapak Hermansyah yang dosen UIN Ar-Raniry itu, buku penulis Aceh sangat dihargai. Ada beberapa buku lain yang saya hadiahkan untuk Bapak Hermansyah yaitu Bahasa Nenek Moyang (Indatu) Orang Aceh, dan terjemahan Dalail Khairat dan Qasidah Alburdah.
Foto Buku Syair Aceh, Ceuremeun

Satu lagi buku syair Aceh Ceureumen yang berisi pendidikan kesehatan karya Marzuki Sabon karyawan dinas kesehatan Aceh ditulis tahun 1992. Berisi syair penyuluhan kesehatan saya peroleh dari salah seorang masyarakat juga. Di toko buku sudah langka. (Hamdani, S.Pd. Penulis adalah pengamat Sastra Aceh dan Guru MAN Lhokseumawe)

Meurukon Sastra Tutur Media Dakwah

Meurukon Sastra Tutur 
Media Dakwah yang Harus Dilestarikan

Oleh Hamdani, S.Pd.
Foto Ilustrasi Meurukon Aceh
"Pue seubab meukroh bak pajoh bawang, Nabi neularang yoh masa dile? Puna hadis Nabi di sinan? Cie Tgk baca."
Artinya: "Apa sebabnya makruh makan bawang, Nabi melarang pada masa lalu? Apa ada hadis Nabi di situ? mohon Ustaz baca."
Itulah sebuah pertanyaan yang masih saya ingat ketika menjadi anggota Meurukon Aceh di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Pada era tahun 1990-an ketika meurukon semarak diadakan di kampung-kampung di Aceh, meurukon dijadikan sebagai media penyampaian dakwah. Meurukon merupakan sastra tutur dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh unsur Islam. Meurukon berasal dari awalan "meu" dan "rukon" dalam bahasa Aceh. Awalan meu merupakan yang menunjukkan pekerjaan dan rukon dalam bahasa Indonesia berarti rukun. Dalam tradisi meurukon pertanyaan tentang rukun iman, rukun Islam, rukun shalat, dan hukum Islam lainnya sering dilontarkan kepada pihak kedua untuk memahami hukum-hukum Islam. Meurukon dapat dikatakan sebagai media dakwah, kala meurukon masih menjadi idola anak muda maupun orang tua pada era tahun 1990-an. Seiring perkembangan zaman yang serba elektronik dan digital, serta maraknya pengaruh televisi. Meurukon sebagai media tutur sastra Aceh yang berisikan pesan moral dan nasehat sudah menjadi barang langka di negeri sendiri. Ironis dan sungguh menyedihkan tidak ada lagi yang peduli nasib meurukon kini. Meurukon di Aceh saat ini hanya tersisa di beberapa daerah di Banda Aceh dan Pidie, di sana meurukon masih dilestarikan dan dilombakan. 
Di desa Paya Bili, desa kecil tempat saya dilahirkan dulu ada grup meurukon yang dibina oleh almarhum Tgk. Abdul Gani. Sebagai syaikhuna saat itu adalah Tgk. Syamsuddin Meunasah Geulumpang. Sementara kami anak-anak sebaya usia bangku SMP dipimpin oleh syaikhuna cilik bernama Tgk. Harwin Ilyas. Kami anak-anak senang dan gembira selalu dibawa ikut grup meurukon orang dewasa. Kala itu grup meurukon Paya Bili sering diundang menyenandungkan syiar dalam syair ke penjuru kampung-kampung di Aceh Utara, bahkah ke Aceh Timur seperti ke daerah Idi dan Pereulak. Itulah kekaguman saya terhadap orang tua dan anak muda tempo dulu sangat menghargai budaya dan sastra indatu (nenek moyang).
Saya masih ingat ketika sahabat syaikuna cilik Tgk. Harwin Ilyas ketika itu menyalin syair meurukon yang dituturkan oleh Tgk. Syam. Anak muda berkumpul di meunasah (surau) sebagai persiapan latihan meurukon. 

Kemudian grup yang satu lagi menjawab dengan syair berikut:
"Pue seubab meukroh bak pajoh bawang Nabi neularang yoh masa dile?, jawabannya: "Seubab-seubab bawang nyan babah teuh mube." Artinya: Nabi melarang makan bawang yang hukumnya makruh, karena menyebabkan bau mulut.
Jika pertanyaan sudah selesai dijawab oleh grup yang satu, kemudian dipersilakan kepada grup yang lain dengan bunyi syair berikut: "Di aneuk murid meumada dile, pulang keu gure Tgk Syaikhuna." Artinya: Murid sampai di sini dulu, kami kembalikan kepada guru Tgk. Syaikhuna.
Yang unik dalam sejarah ini adalah kami anak-anak jika pergi meurukon naik mobil, ongkosnya gratis ditanggung orang tua panitia grup meurukon. Kadang-kadang diberikan makanan gratis juga. Kami anak-anak paling senang jalan-jalan tidak habis modal waktu itu. Kini hampir 20 tahun sudah berlalu. Kenangan indah masa anak-anak selalu terukir indah dalam jiwa. Saya mencintai kalian semua sahabat masa kecil.


TEUNGKU PANG HUSEN PAHLAWAN MUDA BELIA


TEUNGKU PANG HUSEN PAHLAWAN MUDA BELIA

Teungku Pang Husen seorang pahlawan dari Aceh yang luput dari catatan sejarawan. Seangkatan dengan Pang Nanggroe suami Cut Nyak Meutia. Yang membangkitkan spirit rakyat Aceh melawan penjajah Belanda di tanah Pasai. Teungku Pang Husen syahid pada tahun 1894 dalam berperang melawan agresi serdadu Belanda. Makamnya terdapat di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Pahlawan ini hanya berusia sekitar 36 tahun. Syahid sebelum sempat menikah. Pahlawan muda belia ini tidak mau menikah sebelum negara yang ia cintai merdeka dan bebas dari belenggu penjajah. Ia lebih cinta kepada tanah airnya Aceh, dibandingkan wanita yang ia cintai. Kegigihan Teungku Pang Husen dalam melawan penjajah sama dengan perjuangan Teuku Umar pahlawan nasional asal Aceh Barat. Namun sayang, sejarah Teungku Pang Husen Belum ada dalam buku sejarah. Inilah cacatan sejarah yang tercecer yang perlu diketahui oleh generasi muda untuk meneruskan perjuangan para pahlawan yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya untuk agama Islam dan tanah air. Semoga Allah memberikan bidadari bermata sayu di surga kepada Teungku Pang Husen sebagai pengganti kekasihnya di dunia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Sejarah ini saya tulis berdasarkan cerita almarhumah Hj. Anduwah janda seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, nenek saya. Dan bersumber dari kisah Tgk. Ibrahim Pmtoh seorang pembaca hikayat Aceh, ayah saya. Semoga bermanfaat karena belum dimuat dalam buku sejarah. Lebih lengkap mengenai Teungku Pang Husen dapat dibaca di http://hamdanimulya.blogspot.com. (Hamdani Mulya).