Rabu, 13 Januari 2016

Riwayat Singkat Ulama Aceh

RIWAYAT SINGKAT ULAMA ACEH
Oleh Tgk. Hamdani, S.Pd.
Guru MAN Lhokseumawe 

Ulama yang terkumpul dalam riwayat singkat ulama Aceh ini merupakan ulama yang pendakwah, cerdik pandai, intelektual, penulis buku, dan ilmuan muslim yang patut menjadi contoh teladan. Ulama merupakan pewaris para nabi yang sangat berjasa dalam menyebarkan syiar Islam di seluruh penjuru muka bumi. Riwayat singkat ulama Aceh ini disusun untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan sejarah Islam.

                                               
1.     Tgk. Abuya Muda Waly Al-Khalidy
Almarhum Abuya Muhammad Muda Waly lahir di Labuhanhaji, Aceh Selatan. Pendiri dayah (pesantren) Darussalam yang bergelar Syaikhul Islam Al-Kaamil Al-Mukammil Al-Arif Billah Abuya Muhammad Waly Al-Khalidy (1917-1961 M). Gubernur Aceh juga menetapkan Abuya Syekh Muhammad Muda Waly sebagai tokoh pendidikan Aceh, karena jasa almarhum dalam berjuang memajukan pendidikan di Aceh ini.Gelar Abuya Muda Waly ditetapkan dalam rapat alim ulama di Darussalam pada tahun 2009. Sehingga beliau bergelar Syaikhul Islam. Kemudian pada tahun 2007 di Masjid Raya Baiturrahman melalui kajian Islam tingkat tinggi para ulama Aceh telah menetapkan gelar Al-Arif Billah untuk Syekh Muda Waly. Seorang ulama yang termasyhur di kalangan masyarakat Aceh dan Padang serta menjadi rujukan bagi penulis sejarah Islam nusantara.

2.     Tgk. H. Hasanul Basri HG
Abu Mudi merupakan ulama kharismatik Aceh termasyhur. Pelopor berdirinya Institut Agama Islam Al-Aziziah Samalanga. Satu-satunya dayah terpadu tingkat perguruan tinggi Islam di seluruh Indonesia. Telah menjadi contoh dan studi banding bagi daerah-daerah lain di nusantara. Ulama yang juga penulis kitab. Sosok inspiratif yang menjadi contoh bagi perkembangan pendidikan di Indonesia dan Asia Tenggara.
  
3.     Tgk. H. Ibrahim Bardan
Abu Panton adalah salah seorang ulama yang akrab dengan murid-muridnya. Penulis buku resolusi konflik. Beliau menawarkan cara-cara menyelesaikan konfik dengan cara-cara bijak dan lembut. Almarhum pernah menjadi pimpinan dayah Malikussaleh Panton Labu, Aceh Utara. Sering menjadi pembicara pada muzakarah (musyawarah) ulama Aceh.                            

4.     Tgk. H. Mustafa Ahmad
Abu Paloh Gadeng adalah seorang ulama kharismatik yang sangat lembut dalam berdakwah. Namun tegas dalam melawan arus pengaruh budaya asing. Seorang ulama tempat berlabuhnya hati rakyat tempat meminta nasehat dan petuah-petuah. Beliau merupakan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Kab. Aceh Utara. Ulama ahli tauhid dan fikih. Sosok yang dikagumi oleh rakyat dan muridnya. Ulama yang termasyhur di seluruh penjuru Aceh.
         
5.     Tgk. Abdul Jalil Bin Hamzah
Seorang ulama yang sering dipanggil Tgk. Samakurok adalah ulama yang memiliki keramat. Ulama yang lembut dan rendah hati. Hidup sederhana tetapi bersahaja. Lahir sekitar tahun 1954 yang diperkirakan oleh ahli sejarah Aceh, di desa Paya Kambuek, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Meninggal di tempat yang sama pada tahun 1971 pada usia 47 tahun. Tgk. Samakurok adalah ayahanda dari Tgk. H. Abdullah yang sekarang menetap dan tinggal di kampung yang sama.

6.     Prof. Dr. Tgk. H.  Muhibuddin Waly
Abuya Muhibuddin Waly atau yang akrab disapa Abuya Profesor merupakan salah seorang ulama yang penulis buku. Ahli fikih yang dikagumi oleh rakyat Aceh, karena ulama itu adalah pewaris nabi. Merupakan salah seorang anak ulama terkemuka Abuya Muhammad Muda Waly dari Labuhahhaji, Aceh Selatan. Pendapat dan pandangan Abuya Muhibuddin sering dijadikan sebagai rujukan bagi ulama Aceh lainnya.

7.     Tgk. H. Abdul Manan
Tgk. Abdul Manan merupakan seorang ulama yang sering mejadi narasumber dan moderator pada acar seminar Islam serta muzakarah ulama Aceh. Beliau adalah ulama yang politisi mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kab. Aceh Utara. Juga menjadi penceramah dan khatib di mimbar-mimbar masjid di Aceh. Ulama ahli tauhid dan fikih ini sering juga menjadi guru pengajian di masjid dan meunasah (surau).
                              
8.     Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA
Abu Profesor Muslim adalah salah seorang ulama intelektual kampus. Beliau merupakan guru besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Seorang penulis dan pengasuh rubrik tanya jawab tentang hukum Islam di surat kabar. Ulama alumni Mesir yang lembut ini adalah putra asli kelahiran Matang Glumpang Dua, Kab. Bireun. Sering mewakili Aceh ke tingkat nasional. Beliau adalah seorang ilmuan muslim yang patut menjadi contoh bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. Mantan Ketua Mejelis Permusyawaratan Ulama Aceh.
                            
9.     Drs. Tgk. H. Djamaluddin Waly
Abuya Djamaluddin Waly adalah salah seorang ulama Aceh terkemuka. Abuya Djamaluddin Waly sering memimpin zikir dan doa bersama yang diberi nama dengan majelis Zikir Al-Waliyyah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Abuya Drs. Djamaluddin Waly sebagai ulama Aceh yang mencintai rakyat ternyata juga piawai dalam menulis syair. Beliau adalah seorang ulama Aceh yang sastrawan. Selain sebagai ulama Aceh dan sastrawan ternyata Abuya Djamaluddin Waly juga seorang politisi andal yang termasuk lumayan lama berkiprah di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Istimewa Aceh (1968-1987) dan menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (1987-1999) di Senayan Jakarta. Juga sering menjadi pembicara pada acara seminar Islam serta menjadi penceramah di masjid.

10.  Drs. Tgk. H. M. Daud Hasbi, M.Ag
Abi Daud adalah seorang ulama dan pejabat negara. Beliau merupakan mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Aceh Utara. Seorang ulama yang tegas dalam berdakwah. Pelopor bangkitnya dayah terpadu di provinsi Aceh. Pendiri dayah Jeumala Amal Lueng Putue dan dayah Inshafuddin Banda Aceh. Namun Abi Daud merupakan asli putra kelahiran desa Paya Kambuek, Kec. Meurah Mulia yang beribukota Jungka Gajah, Kab. Aceh Utara. Sosok yang disegani dan dikagumi di seluruh penjuru Aceh karena berwibawa dan bersahaja.

11. Tgk. H. Faisal M. Ali
Ulama muda yang satu ini sering menjadi nara sumber pada seminar Islam di Majelis Permusyawaratan Ulama dan sering diundang oleh Perguruan Tinggi Islam sebagai pemateri mengenai syariat Islam. Abi Faisal Sibreh juga akrab dengan mahasiswa dan intelektual muslim. Beliau adalah ulama yang dekat dengan kaum muda.                                      
                  


Ulama itu bagaikan embun di pagi hari
Hangat di dekat sejukkan sanubari
Tunjuki umat Muhammad kala gerah di kalbu
Pemberi minum di saat haus ilmu
( Puisi Hamdani Mulya )




Ulama Aceh yang Sastrawan

ABUYA DJAMALUDDIN WALY
ULAMA ACEH YANG SASTRAWAN
 Oleh Hamdani, S.Pd.
Guru MAN Lhokseumawe

Pada suatu hari di pertengahan bulan Juni 2013. Ketua Pengurus Masjid Besar Islamic Centre Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Tgk. H. Ramli Amin, S.Ag. memperkenalkan sebuah buku kepada saya berjudul Panduan Zikir dan Doa Bersama. Setelah saya amati dan saya teliti ternyata buku tersebut ditulis oleh seorang ulama yang termasyhur dan saya kagumi yaitu Abuya Tgk. H. Djamaluddin Waly. Salah seorang anak ulama tersohor di negeri ini almarhum Abuya Muhammad Muda Waly dari Labuhanhaji, Aceh Selatan. Pendiri dayah (pesantren) Darussalam yang bergelar Syaikhul Islam Al-Kaamil Al-Mukammil Al-Arif Billah Abuya Muhammad Waly Al-Khalidy (1917-1961 M).
Mengenai gelar Abuya Muhammad Muda Waly ini saya dapatkan data pada lembaran bagian awal pembuka buku. Di situ tertera foto Abuya Muhammad Muda Waly beserta nama lengkap beliau dan di bawahnya tertulis nama-nama anak ulama yang akrab disapa Abuya Muda Waly yang pernah memimpin dayah Darussalam. Antara lain adalah Abuya Djamaluddin Waly penulis buku Panduan Zikir dan Doa Bersama  yang terdiri atas 6 buku atau 6 jilid ini.
Mengenai julukan gelar Abuya Muda Waly juga dipaparkan oleh penulis buku pada halaman 39 buku keempat (4) dalam bentuk bahasa ragam sastra yang indah. Seperti yang tertulis dalam beberapa bait syair berjudul “Sejarah Singkat Syekh Muda Waly” berikut ini:

Rapat alim ulama di Darussalam
Pada tahun 2009 tahun Masehi
Memberi gelar Syaikhul Islam
Untuk hamba Tuhan Syekh Muda Waly

Dan terbaca pada bait berikutnya pada syair yang sama berikut :

Tahun 2007 di Masjid Raya Baiturrahman
Melalui kajian Islam tingkat tinggi
Para ulama Aceh telah menetapkan
Al-Arif Billah untuk Syekh Muda Waly

Gubernur Aceh juga menetapkan Abuya Syekh Muhammad Muda Waly sebagai tokoh pendidikan Aceh, karena jasa almarhum dalam berjuang memajukan pendidikan di Aceh ini.
Buku  yang bersampul depan warna hijau bagian atas dan kekuning-kuningan bagian bawah ini bergambar Abuya Djamaluddin Waly. Sedangkan  pada sampul bagian  belakangnya tampak dengan jelas gambar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di masjid kebanggaan rakyat Aceh itulah Abuya Djamaluddin Waly sering memimpin zikir dan doa bersama yang diberi nama dengan majelis Zikir Al-Waliyyah.
Tidak banyak sejarawan, kritikus sastra, maupun pengamat sastra yang mengetahui bahwa Abuya Drs. Djamaluddin Waly sebagai ulama Aceh yang mencintai rakyat ternyata juga piawai dalam menulis syair. Saya tidak ragu mengatakan bahwa beliau adalah seorang ulama Aceh yang sastrawan. Hal tersebut tergambar jelas dari isi buku yang ditulisnya, antara lain terdapat dalam buku yang keempat (4) yang rata-rata setiap judul materi ditulis dalam ragam bahasa sastra berbentuk syair 4 baris yang mirip pantun.
Jika provinsi Riau terkenal dengan ulama dan sastrawan Raja Ali Haji, maka Aceh memiliki sastrawan yang juga ulama hebat bernama Abuya Djamaluddin Waly. Jika rakyat Indonesia pernah kagum dengan ulama yang sastrawan seperti Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (HAMKA), maka Abuya Djamaluddin Waly adalah HAMKA-nya orang Aceh. Seperti kita juga kagum kepada sosok ulama dan sastrawan Ali Hasjmy, karena ulama-ulama itu adalah permata bangsa dan pewaris para nabi.
Selain dalam syair di atas nilai sastra yang terkandung dalam buku Abuya Djamaluddin juga terdapat pada bait pertama (1) syair berjudul “Bapak Rohani” pada halaman 32 buku tersebut seperti tersusun rapi pada larik-larik berikut:

Bapak Rohani memberi bimbingan
Untuk mendapat hidayah Rabbi
Mendekatkan diri kepada Tuhan
Siang dan malam petang dan pagi

Dan juga terkandung pada bait keenam (6) syair yang sama berikut ini:

Cinta Tuhan dapat jaminan
Dimasukkan dalam syurga tinggi
Demikian hadis Nabi menjelaskan
Kepada ummat Islam pengikut Nabi

Syair tersebut merupakan ragam karya sastra yang bernuansa sufi atau tasawuf seperti yang pernah ditulis oleh seorang ulama besar dan sastrawan sufi dari dunia sastra Arab bernama Rabiah al-Adawiyah yang dikutip Abuya Djamaluddin Waly pada lembaran kata mutiara halaman 60 buku keenam (6) jilid terakhir berikut ini:
“Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka, bakarlah aku di neraka; Jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan syurga, jauhkan aku dari syurga. Namun, jika aku menyembah-Mu karena-Mu, maka jangan Engkau jauhkan aku dari keindahan abadi” (Rabiah al-Adawiyah dalam Abuya Djamaluddin Waly, 2003:60).
   
 Abuya Djamaluddin juga menulis dengan bahasa yang indah “Sejarah Darussalam Labuhanhaji” pada syair halaman 40 buku keempat (4) berikut:

Di Labuhanhaji Aceh Selatan
Ada bangunan tempat mengaji
Tempat itu dinamakan
Dengan Darussalam Labuhanhaji

Yang membangun Darussalam
Hamba Tuhan Syekh Muda Waly
Sekitar tahun empat puluhan
Menurut hitungan tahun Masehi

Supaya tidak terjadi simpang siur dan salah pengertian perlu dicatat bahwa buku Panduan Zikir dan Doa Bersama tersebut tidak semuanya berisikan syair. Tulisan yang berupa syair hanya terdapat pada halaman 30-45 buku keempat (4) seperti syair “Bapak Jasmani”, “Bapak Rohani”, “Sejarah Singkat Syekh Muda Waly”, “Sejarah Darussalam Labuhanhaji”, dan syair “Alumni Darussalam Labuhanhaji”.
Sebagian besar isi buku ini bahkan berisikan pedoman atau penuntun zikir dan doa yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, Shalawat kepada Rasulullah Muhammad Saw (Cinta Rasul) dan disertai doa. Yang masing-masing lengkap dengan terjemahan menggunakan ragam sastra. Enak dibaca, meresap di hati sehingga merasakan kelezatan berzikir. Seperti yang ditulis dalam tanda kurung oleh Abuya Djamaluddin Waly pada setiap bagian bawah halaman daftar isi.
Ketika saya mengapresiasikan buku tersebut saya teringat akan suatu kenangan saat-saat bersama Abuya Djamaluddin Waly yang hanya sebentar saja saya berkenalan dengannya. Pada suatu hari tanggal 16 Maret 2013 dalam suatu Seminar Islam Internasional di Masjid Islamic Centre Lhokseumawe dan saya berikan cenderamata kepada Abuya Djamaluddin  sebuah buku yang saya tulis berjudul Wajah Aceh dalam Puisi (Hikayat Ulama Aceh).
Selain sebagai ulama Aceh dan sastrawan ternyata Abuya Djamaluddin Waly juga seorang politisi handal yang termasuk lumayan lama berkiprah di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Istimewa Aceh (1968-1987) dan menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (1987-1999) di Senayan Jakarta. Seperti yang tertulis pada data riwayat hidup Abuya Djamaluddin Waly halaman 64 buku kesatu (1).
Sebagai kenang-kenangan saya akhiri tulisan ini dengan sebuah syair indah yang ditulis oleh Abuya Djamaluddin Waly berjudul “Alumni Darussalam Labuhanhaji” berikut ini:

Ulama alumni Darussalam
Dalam hitungan banyak sekali
Hanya sebagian kami sebutkan
Untuk catatan aneuk rohani

Murid pertama Syekh Marhaban
Mengaji di Darussalam pertama kali
Gob nyan pernah mendapat jabatan
Menteri Pertanian di negeri ini

Disusul Syekh Umar adik Marhaban
Ban dua gob nyan aneuk Abu Krueng Kalee
Abu Usman Fauzi di likotnyan
Tempat tinggai gob nyan di Gampong Lueng Ie

Ulama terkenal Abu Adnan
Tinggai di Bakongan wahe ya akhi
Tgk. Hasan di Lamno Jaya
Bapak Mertua Djamaluddin Waly

Jailani Musa di Kluet Utara
Di Meulaboh kota Abdul Hamidi
Di Ujong Baroh Tgk. Abu Bakar
Di Nagan Raya Yahya ‘Umraithi

Abu Kamaruddin tinggai di Teunom
Tgk. Jafar Lailon di Labuhanhaji
Di Cot Keueng Tgk. Muhammad Ismi
Di Alue Bili Tgk. Ismail

Tgk. Muhammad Syam di Aron Tunggai
Tgk. Syam Marpali di Blang Pidie
Tgk. Bahauddin di Simpang Kanan
Tgk. Zamzami Syam di Singkili

Tgk. Basyah Kamal di Long Raya
Di Lamno Jaya Ibrahim Budi
Tgk. Daud Zamzami di Kuta Raja
Di Aceh Raya Muhammad Zamzami

Di Lam Reung Tgk. Zulkifli
Di Pulau Nasi Tgk. Adnan Haitami
Tgk. Gurah di Peukan Bada
Di Lhok Nga Tgk. Raffari

Tgk. Abdullah di Tanoh Mirah
Di Samalanga Tgk. Abdul Aziz
Tgk. Usman Basyah di kota Langsa
Aceh Tenggara Tgk. Jafar Siddiq

Tgk. Syahabuddin di kota Medan
Di Bangkinang Tgk. Aidarus Ghani
Ahmad Dimyati di Palembang
Di Padang Sidempuan Tgk. Nawawi

Haji Djamaluddin di kota Padang
Beserta ngon gob nyan Tgk. Labai Sati
Di Solok Khatib Abu Syamah
Tgk. Ismail di Padang Basi

Di Blang Bladeh Abu Tu Min
Tgk. Ahmad Sabil di Nanggroe Nisam
Tgk. Hanafi di Matang Kuli
Abah Usman di Matang Glumpang Dua

Sebagian besar Ulama di Aceh ini
Punya hubungan dengan Muda Waly
Langsung tak langsung datang mengaji
Tetap ada hubungan rohani

Hubungan rohani tetap abadi
Tidak bisa putus wahai ya akhi
Bapak rohani dengan anak rohani
Akan dipertemukan di akhirat nanti
 
       Itulah sekilas petuah dari permata bangsa ini Abuya Djamaluddin Waly. Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat lewat amanat yang dapat dipetik dari tulisan ringkas ini.



TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH

TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH
Oleh Hamdani, S.Pd.

1. Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Jika pun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Disebut juga dengan penelitian lanjutan.
Tradisi keilmuan menuntut para calon ilmuan (mahasiswa) bukan sekadar menjadi penerima ilmu. Akan tetapi sekaligus sebagai pemberi (penyumbang) ilmu. Dengan demikian, tugas kaum intelektual dan cendikiawan tidak hanya dapat membaca, tetapi juga harus dapat menulis tentang tulisan-tulisan ilmiah. Apalagi bagi seorang mahasiswa sebagai calon ilmuan wajib menguasai tata cara menyusun karya ilmiah. Ini tidak terbatas pada teknik, tetapi juga praktik penulisannya. Kaum intelektual jangan hanya pintar bicara dan “menyanyi” saja, tetapi juga harus gemar dan pintar menulis. 
Istilah karya ilmiah di sini adalah mengacu kepada karya tulis yang penyusunan dan penyajiannya didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Dilihat dari panjang pendeknya atau kedalaman uraian, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian. Dalam penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Penyusunan dan penyajian karya semacam itu didahului oleh studi pustaka dan studi lapangan (Azwardi, 2008:111).
Sementara itu, Yamilah dan Samsoerizal (1994:90) memaparkan bahwa ragam karya ilmiah terdiri atas beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Menurut pengelompokan itu, dikenal ragam karya ilmiah seperti; makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

2. Sikap Ilmiah
Ada tujuh sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh setiap penulis atau peneliti berdasarkan pendapat Istarani (2009:4) yaitu: sikap ingin tahu, sikap kritis, sikap terbuka, sikap objektif, sikap menghargai karya orang lain, sikap berani mempertahankan kebenaran, dan sikap menjangkau ke depan.

3. Ciri-ciri Karya Ilmiah
            Karangan ilmiah adalah karangan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan melalui bahasa tulis yang formal dengan sistematis-methodis. Karangan ilmiah bersifat sistematis dan tidak emosional. Dalam karya ilmiah disajikan kebenaran fakta.
            Ciri-ciri karya ilmiah menurut Alamsyah (2008:99) adalah sebagai berikut: (1) merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif ). Artinya, faktanya sesuai dengan yang diteliti, (2) bersifat methodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode tertentu dengan langkah langkah yang teratur dan terkontrol secara tertip dan rapi, (3) tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah. Artinya, laras bahasa ilmiah harus baku dan formal. Selain itu, laras ilmiah harus lugas agar tidak ambigu (ganda).

4. Manfaat Penulisan Karya Ilmiah
Ada beberapa manfaat penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut: (1) penulis akan terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif, karena sebelum menulis karya ilmiah, penulis harus membaca dulu, (2) penulis akan terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber dan mengembangkan ke tingkat pemikiran yang lebih matang, (3) penulis akan terasa akrab dengan kegiatan perpustakaan, seperti bahan bacaan dalam katalog pengarang atau katalog judul buku, (4) penulis akan dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis, (5) penulis akan memperoleh kepuasan intelektual, dan (6) penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat (Istarani, 2009:5).
Selain itu, dengan karya ilmiah penulis juga telah ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) melalui karya tulis yang dihasilkannya. Dengan demikian para penulis dan peneliti telah memberikan royalti (masukan) yang berguna bagi pengembangan iptek itu sendiri. Sehingga karya ilmiah tersebut dapat dibaca dan bermanfaat bagi para mahasiswa, intelektual, pendidik (guru dan dosen), dan bagi masyarakat umum.
  
5. Prinsip-prinsip Penulisan Karya Ilmiah
            Prinsip-prinsip umum yang mendasari penulisan sebuah karya ilmiah adalah:
1.  Objektif, artinya setiap pernyataan ilmiah dalam karyanya  harus didasarkan kepada data dan fakta. Kegiatan ini disebut studi empiris. Objektif dan empiris merupakan dua hal yang bertautan.
2.   Prosedur atau penyimpulan penemuannya melalui penalaran induktif dan deduktif.
3.   Rasio dalam pembahasan data. Seorang penulis karya ilmiah dalam menganalisis data harus menggunakan pengalaman dan pikiran secara logis.

6. Tema Karya Ilmiah
            Dalam menulis karya ilmiah, penulis hendaklah mengangkat tema-tema yang aktual dan bukan suatu tema yang sudah basi dan kusam. Sehingga karya tulis yang dihasilkan lebih berbobot dan mendapat sambutan yang baik dari pembaca. Sebagian penulis kadang kala mengangkat tema yang kurang penting yang hanya menjadi sebuah tulisan yang mubazir. Selain itu, ada sebagian penulis ilmiah hanya bertindak sebagai seorang penulis plagiator atau diistilahkan dengan “penulis ceplakan atau sarjana foto kopi, julukan bagi mahasiswa yang skripsinya diupahkan pada tukang buat skripsi”.
            Mengenai tema Walija (1996:19-20) memaparkan bahwa kata ‘tema’ diserap dari bahasa Inggris theme yang berarti ‘pokok pikiran’. Kata theme itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, tithenai, yang berarti; meletakkan atau menempatkan. Tema sebuah karangan merupakan ide dasar atau ide pokok sebuah tulisan. Biasanya tema tidak dapat dilihat dengan kasat mata dalam sebuah karangan, karena bukan terdapat dalam sebuah kalimat yang utuh, tetapi tema merupakan cerminan dari keseluruhan isi karangan dari awal sampai akhir. Tema merupakan amanat atau pesan-pesan yang dapat dipetik dari karangan. Rumusan dari simpulan yang berupa pesan-pesan pengarang itulah yang disebut tema.
Sebuah tema yang baik adalah harus menarik perhatian penulis sendiri. Apabila penulis senang dengan pokok pembicaraan yang ingin dikarang tentu seorang pengarang dalam keadaan senang atau tidak dalam keadaan terpaksa. Selain menarik perhatian, tema yang hendak ditulis terpahami dengan baik oleh penulis.
Selain tema dalam setiap tulisan ilmiah juga harus memiliki topik. Ada sebagian orang menyamakan antara topik dengan tema. Ternyata pendapat itu keliru. Topik adalah pokok pembicaraan yang ingin disampaikan dalam karangan.
Rambu-rambu yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang penulis untuk menentukan dan memilih topik yang baik adalah sebagai berikut:
(1)   Topik sebaiknya aktual.
(2)   Topik sebaiknya berasal dari dunia atau bidang kehidupan yang akrab dengan penulis.
(3)   Topik sebaiknya memiliki nilai tambah atau memiliki arti yang penting, baik bagi penulis sendiri atau bagi orang lain.
(4)   Topik sebaiknya selaras dengan tujuan pengarang dan selaras dengan calon pembaca.
(5)   Topik sebaiknya asli, bukan pengulangan atas hal yang sama yang pernah disajikan oleh orang lain.
(6)   Topik sebaiknya tidak menyulitkan pencarian data, bahan, dan informasi lain yang diperlukan. 
    
7. Tahapan Umum Penulisan Karya Ilmiah
            Tahap persiapan mencakup kegiatan menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian. Masalah yang ditemukan itu didukung oleh latar belakang, identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah. Langkah berikutnya mengembangkan kerangka pemikiran  yang berupa kajian teoritis.
            Langkah selanjutnya adalah mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan. Metodologi dalam tahap persiapan penulisan karya ilmiah  juga diperlukan. Metodologi mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis data. Kemudian tahap penulisan merupakan perwujudan  tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai. Terakhir adalah tahap penyuntingan dilakukan setelah proses penulisan dianggap selesai.      

8. Bahasa Karya Ilmiah
            Bahasa memegang peranan penting dalam penulisan karya ilmiah. Oleh sebab itu pemahaman tentang diksi (pilihan kata atau seleksi kata, bahasa Inggris: diction), istilah, kalimat, penyusunan paragraf, dan penalaran yang diungkapkan harus dikuasai peneliti. Selain itu, penulisan karya ilmiah harus mengacu pada Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan sesuai dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Dengan demikian, gaya penulisan karya ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal.
            Di sisi lain, bahasa merupakan alat yang cukup penting dalam karangan ilmiah. Langkah pertama dalam menulis karya ilmiah yang baik adalah menggunakan tata bahasa yang benar (Suriasumantri, 1986:58). Apabila bahasa kurang cermat dipakai, karangan bukan saja sukar dipahami, melainkan juga mudah menimbulkan salah pengertian. Bahasa karangan yang kacau menggambarkan kekacauan pikiran penulis (Surakhmat dalam Finoza, 2006:215).
            Dalam menulis karya ilmiah penulis juga diharapkan mampu menggunakan bahasa secara cermat. Sajikan ide-ide secara urut sehingga pokok-pokok pikiran dan konsep tersusun secara koheren. Gunakan ungkapan yang ekonomis sehingga tidak terjadi pengulangan ide atau penggunaan kata-kata yang berlebihan. Selain itu, gunakan ungkapan halus (smooth), agar pembaca dapat mengikuti alur pembahasan dengan mudah. Gaya kalimat jangan seperti puitis dan perhatikan penulisan secara benar dan baku. 

9. Penggunaan Bahasa dalam Karya Ilmiah
            Dalam penggunaan bahasa terdapat beberapa ragam bahasa. Sugono (1999:10) berpendapat bahwa berdasarkan pokok persoalan yang dibicarakan, ragam bahasa dapat dibedakan atas bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti ragam bahasa hukum, ragam bahasa niaga, ragam bahasa sastra, dan ragam bahasa jurnalistik.
Yamilah dan Samsoerizal (1994:10) mengklasifikasikan ragam bahasa dengan nama istilah ragam fungsiolek. Ragam fungsiolek adalah ragam berdasarkan sikap penutur mencakup daya ucap secara khas. Ragam ini digunakan antara lain dalam kegiatan: kesehatan, susastra, olahraga, jurnalistik, lingkungan, dan karya ilmiah. Setiap bidang tersebut menampakkan ciri tersendiri dalam pengungkapannya. Hadi dalam Alamsyah (2008:102) mengatakan bahwa bahasa ragam karya ilmiah memiliki karakteristik tersendiri yaitu : singkat, padat, sederhana, lugas, lancar, dan menarik.
Selain itu, gaya penulisan karya ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal. Kejelasan dimaksudkan bahwa setiap karya ilmiah harus mampu menyampaikan informasi kepada pembaca tentang objek penelitiannya secara gamblang. Kegamblangan ini dibicarakan sebagai foto kopi dari aslinya. Inilah yang dimaksud dengan reproduktif. Sedangkan impersonal berarti peniadaan kata ganti perorangan seperti: saya atau peneliti. Misalnya: Adapun masalah yang akan diteliti mencakup, pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan penelitian. Pada posisi kata impersonal “diteliti” tidak boleh menggunakan kata saya atau peneliti. 

10. Tertib Mengutip
Dalam tradisi mengarang ilmiah berlaku mengutip pendapat orang lain. Karya ilmiah pada umumnya merupakan hasil pengamatan atau penelitian yang merupakan lanjutan dari penelitian yang terdahulu. Dengan kata lain, hasil-hasil penelitian orang lain, pendapat ahli, baik yang dilisankan maupun yang dituliskan dapat digunakan sebagai rujukan untuk memperkuat uraian atau untuk membuktikan apa yang dibentangkan (Walija, 1996:125). Dalam dunia tulis-menulis ilmiah ada dua macam jenis kutipan, yaitu: kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung dalam pengutipannya harus diberi tanda kutip (“… “). Sedangkan kutipan tidak langsung tidak diberikan tanda kutip. Namun, kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung dalam tertib mengutip harus diberikan tanda dengan catatan kaki (footnotes) atau catatan perut (innotes).
Catatan kaki adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan uraian (teks) yang ditulis di bagian bawah halaman yang sama. Apabila keterangan semacam ini disusun di bagian akhir karangan biasanya disebut keterangan saja. Catatan kaki bukan hanya untuk menunjukkan sumber kutipan, melainkan juga dipergunakan untuk memberikan keterangan tambahan terhadap uraian atau teks. 
            Ada beberapa prinsip mengutip, yaitu: (1) tidak mengadakan perubahan, (2) memberitahu bila sumber kutipan mengandung kesalahan, (3)  memberitahu bila melakukan perbaikan, dan (4) memberitahu bila menghilangkan bagian-bagian tertentu yang ada di dalam kutipan.

11. Daftar Pustaka
            Daftar pustaka merupakan daftar sejumlah buku acuan atau referensi yang menjadi bahan utama dalam suatu tulisan ilmiah. Selain buku, majalah, surat kabar, catatan harian, dan hasil pemikiran ilmuan juga dapat dijadikan sebagai referensi dalam menulis. Walija (1996:149) mengatakan bahwa daftar pustaka atau bibliografi adalah daftar buku atau sumber acuan lain yang mendasari atau menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan karangan. Unsur-unsur pada daftar pustaka hampir sama dengan catatan kaki. Perbedaannya hanya pada daftar pustaka tiada nomor halaman.
            Unsur-unsur pokok daftar pustaka adalah sebagai berikut:
A. Buku sebagai Bahan Referensi
1) Nama pengarang, diurutkan berdasarkan huruf abjad (alfabetis). Jika nama   pengarang lebih dari dua penggal nama terakhir didahulukan atau dibalik.
2) Tahun terbit buku, didahulukan tahun yang lebih awal jika buku dikarang oleh penulis yang sama.
3)  Judul buku, dimiringkan tulisannya atau digaris bawahi.
4)  Data publikasi, penerbit, dan tempat terbit.
5) DAFTAR PUSTAKA ditulis dengan huruf kapital semua dan menempati posisi paling atas pada halaman yang terpisah.

Contoh penulisan daftar pustaka buku sebagai referensi:
Ismail, Taufiq. 1993. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Ananda.
Hamdani. 2011. Cerdas Berbahasa Indonesia. Lhokseumawe: Unimal Press.

Namun, jika bahan rujukan atau acuan dalam daftar pustaka yang bersumber dari internet ditulis sesuai dengan aturannya tersendiri berdasarkan pendapat Alamsyah (2008:119) sebagai berikut:
B.     Rujukan dari Internet Berupa Artikel dari Jurnal
Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti oleh tahun, judul karya (dicetak miring) dengan diberikan keterangan dalam kurung (Online), volume dan nomor, dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.
Contoh:
Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), jilid 5, No 4, (http://www.malang.ac.id, diakses 20 Januari 2000).
C.     Rujukan dari Internet Berupa E-mail Pribadi
Nama pengirim (jika ada) disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail pengirim), diikuti oleh tanggal, bulan, tahun, topik isi bahan (dicetak miring), nama yang dikirimi disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim).

Contoh: 1
Davis, A. (a.davis@uwts.edu.au). 10 Juni 1996. Learning to Use Web Authoring Tolls. Email kepada Alison Hunter (huntera@usq.edu.au).
Contoh: 2
Mulya, Hamdani. (mulyahamdani@yahoo.com). 15 Oktober 2009. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Email kepada Redaktur  Majalah Santunan Jadid (redaksisantunan@gmail.com). 

12. Contoh Format Umum Karya Ilmiah
Dalam tulisan ini disajikan contoh format umum skripsi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala (Hamdani, 2003). Format karya ilmiah lazim juga disebut sebagai kerangka karya ilmiah.

KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI

BAB   I   PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Sumber Data
1.5 Hipotesis
1.6 Manfaat Penelitian
1.7 Pentingnya Penelitian
1.8 Metode Penelitian
1.9 Teknik Penelitian

BAB   II  LANDASAN TEORITIS
2.1 Pengertian Cerpen
2.2  Pengertian Metafora Menurut Para Ahli
2.3  Metafora dalam Cerpen
2.4  Tipe Pelimpahan Metafora dalam Cerpen
2.5  Metafora sebagai Simbolis dalam Cerpen
2.6  Metafora sebagai Sarana Penceritaan dalam Cerpen
2.7  Metafora sebagai Gaya dan Nada
2.8  Metafora sebagai Penggambaran Watak Tokoh

BAB   III   ANALISIS METAFORA DALAM CERPEN KARYA NAHARUDDIN
3.1  Pengolahan dan Analisis Data

BAB   IV   PENUTUP
     4.1 Simpulan
     4.2 Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA
TABEL
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BIOGRAFI PENULIS



Soal Latihan
1.      Sebutkanlah ciri-ciri karya ilmiah yang anda ketahui !
2.      Sebutkan prinsip-prinsip penulisan karya ilmiah yang baik !
3.      Bahasa Indonesia yang bagaimakah digunakan dalam penulisan karya ilmiah !
4.      Apa syarat-syarat  tema karya ilmiah yang baik ?
5.     Sebutkan aturan-aturan penulisan daftar pustaka dalam karya ilmiah !


DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Teuku. 2008. Bahasa Indonesia: MKU Untuk Mahasiswa. Banda Aceh: FKIP, Unsyiah.

Azwardi. 2008. Menulis Ilmiah: Bahasa Indonesia Umum Untuk Mahasiswa. Banda Aceh: FKIP, Unsyiah.

Istarani. 2009. Makalah: Penyusunan Karya Tulis Ilmiah. Medan: Balai Diklat Keagamaan Medan.

Mulya, Hamdani. 2009. Diktat: Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Lhokseumawe: STAIN Malikussaleh.

Mulyono, Anton M. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Riyanto, Yatim. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC.

Walija. 1996. Komposisi: Mengolah gagasan Menjadi Karangan. Jakarta: Penebar Aksara.

Yamilah, M dan Samsoerizal, Slamet. 1992. Bahasa Indonesia Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.

---------- 2000. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Depdikbud.

---------- 1995. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.


Riwayat Singkat Penulis :
Hamdani, S.Pd. adalah Guru MAN Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Peneliti Bahasa dan Sastra Indonesia.