Tampilkan postingan dengan label ULAMA ACEH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULAMA ACEH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2018

Biografi Singkat Ulama Aceh

Abi Cot Seunira (Tgk.H.Muhammad) Ulama Aceh dalam Sejarah

Oleh Tgk. Hamdani, S.Pd
Penulis sejarah ulama Aceh
IMG-20170810-WA0016.jpg
Foto: Tgk.H.Muhammad (Abi Cot Seunira)
Ulama merupakan pewaris para Nabi yang sangat berjasa dalam berdakwah. Menyebarkan syiar Islam ke seluruh penjuru dunia. Ulama laksana lampu di permukaan bumi. Meninggalnya ulama bagaikan padamnya lampu di permukaan bumi. Ulama selalu ikhlas dalam mengajarkan umat di balai pengajian, dayah (pesantren), surau, bahkan di madrasah-madrasah ulama selalu hadir mengajari umat agar lebih mengenal Allah.
Dengan berbekal ilmu dari para ulama dunia terasa terang dengan khazah keilmuan. Siapa saja yang memuliakan ulama berarti orang tersebut sama dengan telah memuliakan Nabi Muhammad, karena ulama adalah waris para Nabi yang mewariskan ilmu kepada umat.
Salah satu sosok ulama yang patut menjadi teladan adalah almarhum Abi Cot Seunira. Beliau bernama lengkap Tgk.H. Muhammad pimpinan pesantren Darul Aman Cot Seunira, desa Paya Kambuek, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara.
Tgk. H. Muhammad Cot Seunira lahir pada tahun 1945 dan berpulang ke hadirat Allah, menghadap sang khalik pada tahun 2014.
Abi Cot Seunira begitu beliau akrab dipanggil oleh murid-muridnya. Seorang ulama yang rendah hati dan bersahaja panutan umat. Seorang guru bagi rakyat Meurah Mulia secara khusus dan panutan bagi rakyat Aceh.
Abi Cot Seunira merupakan lulusan dayah terkemuka Babussalam Blang Bladeh, Kab. Bireuen. Setelah menetap di kampung tanah air nya Paya Kambuek, Abi Cot Seunira mendirikan sebuah dayah bernama Darul Aman. Beliau sendiri menjabat sebagai pimpinan hingga akhir hayatnya.
Setelah Abi Cot Seunira berpulang ke rahmatullah, menghadap Allah Yang Maha Kuasa. Tampuk pimpinan dayah Darul Aman dipimpin oleh Tgk. Muhibuddin atau yang dikenal dengan nama Akhi Muhib. Tgk. Muhibbudin merupakan anak sulung dari Abi Cot Seunira. Tgk. Muhibuddin adalah seorang teungku alumni dayah terpadu Ruhul Islam, dan beliau juga pernah mengenyam pendidikan di beberapa dayah tersohor lainnya di Aceh antara lain di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Demikianlah riwayat ringkas ini. Orang-orang yang berjasa bagi dunia pendidikan, ilmunya terus mengalir sebagai amal jariah. Namanya selalu dikenang umat. Mereka dengan ilmunya telah memberi bukti bahwa mereka pernah hadir ke dunia untuk mengabdi bagi kemajuan pendidikan Islam, nusa, dan bangsa.

"Ulama itu bagaikan embun di pagi hari
Hangat di dekat sejukkan sanubari
Tunjuki umat Muhammad kala gerah di kalbu
Pemberi minum di saat haus ilmu." (Tgk. Hamdani, S.Pd).

Rabu, 25 Januari 2017

Tgk.H.Usman Ishaq (Abon Usman Nudi) Ulama Aceh dalam Sejarah

ABON USMAN NUDI ULAMA AHLI TAUHID DAN FIKIH TELAH BERPULANG KE RAHMATULLAH



Foto Hamdani Mulya.
Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Uman Nudi)
Meninggalnya ulama laksana padamnya lampu di permukaan bumi. Abon Usman Nudi yang bernama lengkap Tgk. H. Usman Ishaq merupakan pimpinan dayah Nahrul Ulum Diniyah Islamiyah  (Nudi), Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Beliau berpulang menghadap Sang Khalik, Allah Yang Maha Pencipta, pada hari Senin, 16 Januari 2017. Di kediamannya di desa Nga, Simpang 4, Jl. Line Pipa/ Sp Nudi. Selamat jalan guru kami dan guru umat. Semoga Allah menempatkan guru kami di surga-Nya yang indah. Amin.
Ribuan masyarakat dari kalangan muridnya maupun rakyat berdatangan dari berbagai penjuru. Untuk melaksanakan shalat jenazah kepada guru umat Abon Usman Nudi. Beliau merupakan ulama kharismatik alumni dayah Budi Lamno berguru kepada Tgk. Ibrahim Budi Lamno. Ulama yang sangat berwibawa dan dihormati oleh semua kalangan. Kepergian beliau secara tiba-tiba tidak dilalui dengan sakit yang parah meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat Kec. Meurah Mulia dan Aceh secara umum. Shalat jenazah selesai dilaksanakan hampir menjelang magrib. Bahkan pelayat ada yang melaksanakan shalat magrib di kediaman ulama ahli tauhid dan fikih tersebut. Aroma wangian juga tumpah menusuk hidung. Semoga ini jadi pertanda bahwa beliau merupakan ulama yang dicintai dan dirahmati oleh Allah. Amin.
Bagaikan hilir air doa terus mengalir mengiringi kepergian Abon Usman Nudi. Bahkan pada malam hari hampir seribuan masyarakat terus berkunjung ke rumah duka. Di Sp Jl. Line Pipa/Sp Nudi, Meurah Mulia, Aceh Utara. Tamu yang melakukan tahlilan datang dari berbagai penjuru. Mulai dari kalangan santri, ulama, pejabat, MPU, bahkan beberapa anggota DPRK ikut melayat dan melantunkan doa untuk almarhum sebagai syaikhul Islam. Beberapa mantan pejabat juga terlihat pada malam hari seperti Drs. Tgk. H. Daud Hasbi (Abi Daud) mantan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Utara, Tgk. Marhaban Habibi anggota DPRK Aceh Utara, kalangan akademisi Tgk. Husnaini Hasbi, MA. dosen IAIN Malikussaleh, pejabat pemerintah maupun swasta, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
Kepergian ulama Aceh tersohor Abon Usman Nudi yang juga adik ipar dari Drs. H. Daud Hasbi, M.Ag. (Abi Daud Hasbi) mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Utara membuat seluruh rakyat Aceh kehilangan sang panutan. Beliau merupakan sosok teladan yang sudah puluhan tahun mengabdi mengajarkan umat di pesantren yang dipimpinnya. Mewariskan ratusan murid. Sejak kepergian beliau menghadap Sang Khalik sekitar seribuan masyarakat datang melayat kerumah duka. Tampak para pejabat, muspika, dan berbagai kalangan terlihat menghadiri rumah duka. Suasana di kediaman rumah duka Syaikhul Islam Abon Usman Nudi terlihat ramai.
"Jika manusia tidak punya ilmu agama Islam, maka manusia akan sesat. Ilmu agama sangat penting dalam mengarungi hidup di dunia dan akhirat." Itulah beberapa pesan yang masih saya ingat ketika menjadi murid Abon Usman.

ALUMNI DAYAH NUDI TURUT BERDUKA CITA DAN DOA BERSAMA UNTUK ALMARHUM ABON USMAN NUDI
Semenjak berpulangnya ke Rahmatullah Tgk. H. Usman bin Ishaq ulama kharismatik yang akrab disapa Abon Usman Nudi pada Senin, 16 Januari 2017. Tamu terus berdatangan melayat ke rumah duka untuk berdoa, berzikir, maupun membaca Al-Qur'an. Semoga menjadi amal tambahan bagi almarhum. Begitu juga kalangan santri murid Abon Usman yang bernaung di bawah panji persatuan para Alumni Dayah Nudi.
"Saya merasa sangat kehilangan atas kepergian beliau," ungkap salah seorang alumni Tgk. Lukman Husen.
Sementara itu alumni yang sepuh Tgk. Abdurrahman juga menghimbau dan mengharapkan kepada seluruh alumni untuk turut hadir dalam acara duka ini, untuk membantu apa saja yang mampu selama hari-hari duka.
"Kami seluruh alumni dayah Nudi sangat kehilangan Abon Usman sosok teladan dan panutan umat, beliau guru saya yang sangat saya cintai," pesan Tgk. Hamdani, S.Pd. juru bicara alumni yang juga penulis yang akrab dengan wartawan dan awak media ini.
"Kabar duka ini juga sudah kami sampaikan melalui media sosial dan media online lainnya untuk diketahui oleh para alumni," sambung Tgk. Hamdani. 

Menurut pengamatan selama ini alumni dayah Nudi sudah tersebar di berbagai penjuru di berbagai profesi ada yang menjadi ulama muda, pendakwah, guru pengajian, menjadi dosen, bahkan banyak yang bekerja sebagai PNS maupun swasta. (Berita Dokumentasi Alumni Dayah Nudi. Penulis Tgk. Hamdani, S.Pd. Juru Bicara Alumni Dayah Nudi, Murid Abon Usman Nudi, dan Guru MAN Lhokseumawe).


Foto Hamdani Mulya.
Abon Usman Nudi bersama Tgk. Mulyadi M. Jamil

Foto Hamdani Mulya.
Abon Usman Nudi bersama muridnya Tgk. Aiyub

Selasa, 19 April 2016

Abon Usman NUDI

RIWAYAT ULAMA ACEH

         Dayah Nahrul Ulum Diniyah Islamiyah (NUDI) beralamat di desa Mee, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara. Dayah NUDI dipimpin oleh Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Usman NUDI) merupakan ulama ahli tauhid dan ahli fikih alumni dayah BUDI Lamno.
Riwayat singkat ulama dayah ini merupakan kisah guru (gure) yang patut menjadi contoh teladan. Ulama merupakan pewaris para Nabi yang sangat berjasa dalam menyebarkan syiar Islam di seluruh penjuru muka bumi. Riwayat singkat ulama pimpinan dayah NUDI ini ditulis untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan sejarah Islam. Serta sebagai dokumentasi sejarah yang ditulis berdasar data dan fakta.
        Sejarah dayah NUDI juga ditulis dalam rangka menumbuhkan semangat menulis bagi para santri dayah (pesantren), karena menulis merupakan tradisi intelektual Muslim yang harus dipertahankan. Menulis merupakan kegemaran ilmuan Muslim yang perlu diwariskan kepada generasi muda Islam di masa yang akan datang agar kejayaan Islam yang sudah mengakar tidak punah seiring perkembangan zaman. Salah satu cara mengikat dan merangkai ilmu adalah dengan menulis, karena menulis merupakan tradisi mengikat ilmu dengan pena. Oleh karena itu maka kiranya perlu diberikan suatu motivasi menulis bagi generasi muda Islam khususnya santri dayah. Dalam rangka meningkatkan pemahaman serta menumbuhkan kreativitas dalam menulis sebagai tradisi intelektual Muslim.
Kemegahan Aceh tempo dulu itu disebabkan karena kegemaran ulama dan cendekiawan Muslim yang gemar menulis kitab dan buku. Penulis Aceh termasyhur dulu kala rata-rata merupakan lulusan dayah sebagai pusat pendidikan Islam tertua di Aceh dan nusantara. Beberapa ulama Aceh yang dikagumi dunia yang namanya harum sampai ke seluruh penjuru dunia antara lain adalah Teungku Chik Awee Geutah dan Abu Tanoh Abe. Itulah beberapa sosok ulama Aceh penulis kitab yang sangat berjasa dalam penyebaran syiar Islam.

Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Usman NUDI)
 Pimpinan Dayah Nahrul Ulum Diniyah Islamiyah (NUDI)
Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara
Tgk. Mulyadi dan Tgk. H. Usman Ishaq 
(Abon Usman NUDI) di Mekkah sedang Umrah, tahun 2016








Sumber foto: Kiriman Tgk. Mulyadi dari Mekkah Arab Saudi, tanggal 18 April 2016.
Penulis: Hamdani, S.Pd. alumni dayah NUDI.

Minggu, 10 April 2016

Alumni Dayah NUDI dalam Sejarah

ALUMNI DAYAH NUDI DALAM SEJARAH
Dayah Nahrul Ulum Diniyah Islamiyah (NUDI) beralamat di desa Mee, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara. Dayah NUDI dipimpin oleh Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Usman NUDI) merupakan ulama ahli tauhid dan ahli fikih alumni dayah BUDI Lamno.
Tgk. H. Usman Ishaq
(Abon Usman NUDI)
                         
Alumni dayah NUDI yang terkumpul dalam riwayat singkat alumni dayah ini merupakan guru (gure) dan sahabat alumni yang telah berhasil menjadi pendakwah, cerdik pandai, intelektual, penulis buku, dan ilmuan Muslim yang patut menjadi contoh teladan. Demikian juga guru kami para ulama yang merupakan pewaris para Nabi yang sangat berjasa dalam menyebarkan syiar Islam di seluruh penjuru muka bumi. Riwayat singkat alumni dayah NUDI ini ditulis untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan sejarah Islam. Serta sebagai dokumentasi sejarah yang ditulis berdasar data dan fakta.

            Sejarah dayah NUDI juga ditulis dalam rangka menumbuhkan semangat menulis bagi para santri dayah (pesantren), karena menulis merupakan tradisi intelektual Muslim yang harus dipertahankan. Menulis merupakan kegemaran ilmuan Muslim yang perlu diwariskan kepada generasi muda Islam di masa yang akan datang agar kejayaan Islam yang sudah mengakar tidak punah seiring perkembangan zaman. Salah satu cara mengikat dan merangkai ilmu adalah dengan menulis, karena menulis merupakan tradisi mengikat ilmu dengan pena. Oleh karena itu maka kiranya perlu diberikan suatu motivasi menulis bagi generasi muda Islam khususnya santri dayah. Dalam rangka meningkatkan pemahaman serta menumbuhkan kreativitas dalam menulis sebagai tradisi intelektual Muslim.
Kemegahan Aceh tempo dulu itu disebabkan karena kegemaran ulama dan cendekiawan Muslim yang gemar menulis kitab dan buku. Penulis Aceh termasyhur dulu kala rata-rata merupakan lulusan dayah sebagai pusat pendidikan Islam tertua di Aceh dan nusantara. Beberapa ulama Aceh yang dikagumi dunia yang namanya harum sampai ke seluruh penjuru dunia antara lain adalah Teungku Chik Awee Geutah dan Abu Tanoh Abe. Itulah beberapa sosok ulama Aceh penulis kitab yang sangat berjasa dalam penyebaran syiar Islam.

Alumni Dayah NUDI Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara
Bersama Abu Ibrahim BUDI Lamno dan Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Usman NUDI)
Pimpinan Dayah NUDI, tahun 1990-an

Keterangan Gambar:
  A.    Abu Ibrahim BUDI Lamno memakai baju jas dan berpeci hitam berdiri di tengah.
  B.  Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Usman NUDI) memakai peci hitam dan berjanggut berdiri paling belakang.
  C.     Nama Para Alumni baris belakang dilihat dari kiri ke kanan.
1.      Syamsyuddin (Wiraswasta)
2.      Saiful Anwar (Wiraswasta)
3.      Tgk. Nurdin (Guru balai pengajian)
4.      Ismuhar (Satpam Telkom)
5.      Tgk. Juwaini, S.Ag. (Guru Dayah Syamsyudduha)
6.      Tgk. Jafar (Wiraswasta)
7.      Tgk. Fakruddin (Guru MTsS NUDI)
8.      Tgk. Zamzami (Wiraswasta)
9.      Tgk. Aliyuddin (Wiraswasta)
10.  Jamaluddin (Wiraswasta)
11.  Tgk. Rusli (Wiraswasta)
12.  Saiful Bahri (Wiraswasta)
13.  Yusuf (Wiraswasta)

Nama Para Alumni baris depan dilihat dari kiri ke kanan.
1.      Martunis (Wiraswasta)
2.      Dr. Irsyadillah (Dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh)
3.      Tgk. Jafar (Guru balai pengajian)
4.      Jalaluddin (Wiraswasta)
5.      Syafruddin (Wiraswasta)
6.      Mukhlisin (Tenaga Tata Usaha MAN Lhokseumawe)
7.      Hamdani, S.Pd. (Guru MAN Lhokseumawe dan penulis buku)
8.      Tgk. Harwin Ilyas (Wilayatul Hisbah dan penceramah)
9.      Martunis (Karyawan Puskesmas)
10.  Zulkarnaini (Wiraswasta)


Dayah NUDI, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara


PENGALAMAN SEORANG ALUMNI 
DAYAH NUDI KENANGAN YANG ELOK UNTUK DIINGAT
    
Tempat yang paling indah di dunia ini adalah masjid, mushalla, dayah (pesantren), madrasah, dan tempat menuntut ilmu agama Islam. Masjid dan semua tempat menuntut ilmu agama Islam yang tersebut di atas merupakan tempat yang paling dimuliakan oleh Allah. Di dayah sebagai tempat menuntut ilmu agama kita dapat menemukan kebahagiaan dan menikmati nikmatnya iman beserta kasih sayang Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Orang-orang yang menuntut ilmu di jalan Allah akan mendapatkan rahmat dan hidayah Allah di dunia dan di akhirat. Seperti nasehat Abuya Jamaluddin Waly dalam syair yang ditulis dalam bukunya Panduan Zikir dan Doa Bersama (2003:32) berikut:

Cinta Tuhan dapat jaminan
Dimasukkan dalam syurga tinggi
Demikian hadis Nabi menjelaskan
Kepada ummat Islam pengikut Nabi

Saya menulis kisah ini berawal dari kenangan indah ketika mengingat bahwa dayah itu sangat penting bagi saya. Karena di dayah NUDI itu saya mendapatkan berbagai ilmu agama Islam dan pengalaman-pengalaman yang mengesankan. Sejak berusia sekitar 9 tahun saya sudah mulai belajar di dayah ini pada kelas diniyah sore. Dan pada usia 12 tahun saya sudah dimasukkan oleh orang tua saya belajar pada malam hari sejak tahun 1992-1998. Sejak itu saya sudah harus belajar disiplin membagi waktu. Pada pagi hari harus berangkat ke sekolah dan sore hari untuk membantu orang tua saya. Jika ada acara latihan ceramah dalam rangka lomba pidato saya juga datang belajar pada sore harinya ke dayah NUDI. Begitulah kisahnya, dayah NUDI masih sangat akrab dalam ingatan saya.
Ada beberapa kisah yang berkesan bagi saya antara lain saya sangat senang dengan belajar berpidato (muhazharah). Setiap malam Jum’at saya terkagum-kagum melihat beberapa guru yang pintar berceramah. Saya ingin seperti guru-guru saya yang pintar berdakwah. Beberapa guru yang gemar berceramah antara lain adalah Tgk. Bustamam yang sering kami panggil Tgk. Faslon dan Tgk. Ibnu Hasan. Sedangkan yang menjadi protokol rutin bernama Tgk. Juwaini yang sekarang menjadi guru dayah Syamsyudduha Cot Murong.
Pada awalnya ketika saya dipersilakan berpidato saya jadi demam, karena tidak terbiasa memegang mixrofon dan baru pertama naik mimbar. Lama-lama belajar akhirnya ketagihan mau ceramah melulu di depan guru dan kawan-kawan. Ternyata ilmu yang saya dapatkan di dayah sangat membantu saya waktu sekolah di SMA Negeri Samudra Geudong tahun 1995-1998, karena di sekolah waktu itu juga ada materi berpidato pada pelajaran Bahasa Indonesia. Sampai saya kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala tahun 1998-2003 ilmu cara berpidato ternyata sangat penting, karena di jurusan saya ada mata kuliah Berbicara, di situ saya dites berceramah juga. Kata dosen pengasuh mata kuliah tersebut tujuannya adalah untuk menghasilkan orator (pembicara) yang ulung atau penceramah yang andal.
Sampai sekarang tahun 2016 ketika saya mengajar dan menjadi guru MAN Lhokseumawe ternyata ilmu berpidato itu sangat penting. Saat saya mendapat jadwal kuliah tujuh menit atau ceramah singkat setelah shalat zhuhur berjamaah di MAN Lhokseumawe. Ilmu yang saya dapatkan di dayah NUDI sangat berguna bagi saya dalam menjalankan tugas mengajar sambil berceramah di depan siswa.
Segala puji bagi Allah. Ilmu yang saya dapatkan ketika belajar di dayah NUDI sangat berguna dalam mengarungi hidup di dunia dan akhirat. Benar seperti yang disampaikan oleh Abon Usman NUDI pada suatu malam ketika mengaji. Abon Usman mengatakan “Ilmu agama Islam ini sangat penting dalam mengarungi hidup di dunia ini, jika tidak punya ilmu agama maka manusia akan sesat.” Itulah sepenggal kalimat nasehat guru kami. Memang benar. Kemanapun kita pergi, di manapun kita tinggal ilmu agama sangat penting, karena dengan ilmu agama hidup manusia akan terarah kejalan yang lurus menjadi manusia yang  bertakwa kepada Allah.
          Kisah yang berkesan lain juga ada, waktu di dayah NUDI. Misalnya jika ada orang berhalangan tidak dapat naik mimbar berceramah. Tgk. Juwaini memanggil saya untuk menggantikan dengan membaca syair Aceh atau qashidah. Lumayan untuk saya coba-coba belajar tulis syair.  Karena sejak duduk di bangku SMP tahun 1992-1993 saya sudah senang dengan pelajaran sastra. Pada bulan Maulid saya dan kawan-kawan sering di undang ke desa-desa untuk baca shalawat. Tgk. Faslon dan Tgk. Abdul Manan sebagai syeh zikir Maulid. Kami Teungku aneuk miet (ustaz anak-anak) mengikuti bacaan shalawat seperti yang dibaca oleh syeh zikir Maulid. Itulah indahnya tinggal di dayah sejak kecil sudah dimuliakan oleh guru-guru. Kami walau masih kecil tidak dipanggil dengan sebutan kamu, tapi kami di panggil teungku. Waktu itu saya Hamdani kecil dipanggil oleh Tgk. Abdul Manan dengan sopan Tgk. Hamdani atau Teungku Paya Bili, karena lahir di desa itu. Murid-murid dulu sangat hormat dengan gurunya. Sopan dan santun saat bertutur kata.
Makanya saya sangat mencintai guru saya, seperti menyayangi orang tua kandung sendiri. Karena pengalaman saya sukses menjadi guru, itu karena ridha Allah, ridha orang tua, dan ridha guru saya. Riwayat ini saya sampaikan bukan untuk tujuan ria, melainkan sebagai nasehat dan motivasi bagi para sahabat dan murid-murid saya.
Pengalaman menarik lainnya adalah ada guru saya yang sudah menjadi dosen STAIN Malikussaleh Lhokseumawe yaitu Tgk. Husnaini Hasbi, S.Ag., MA. Jadi, kami bertemu lagi di kampus STAIN waktu sama-sama mengajar sebagai dosen. Tgk. Husnaini sebagai dosen tetap, sedangkan saya sebagai dosen luar biasa dari tahun 2005-2011.
Waktu saya belajar di dayah NUDI ketika itu Kepala Yayasannya adalah Tgk. H. Hasbi ayahanda Drs. Tgk. H. M. Daud Hasbi, M.Ag. (Abi Daud Hasbi) mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Utara. Guru dan murid waktu itu sangat kompak membangun dayah ini, kadang-kadang kami bergotong-royong, dan sering membuat acara lomba pidato, cerdas-cermat, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang dibantu oleh masyarakat dan Pak Camat Meurah Mulia. Tokoh-tokoh masyarakat Meurah Mulia juga ikut andil membangun dayah NUDI. Seperti Bapak Razali, S.Pd. mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Utara sering hadir ke dayah NUDI menjadi protokol acara MTQ.
Pada bulan Ramadhan juga kami adakan acara buka puasa bersama. Para alumni ikut memberikan donasi (sumbangan) baik dana maupun tenaga. Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Meurah Mulia (IPPM) banyak membantu memberikan motivasi agar alumni dayah NUDI dapat menjadi orang sukses di dunia dan di akhirat. Salah satu alumni yang sudah menjadi dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh adalah Dr. Irsyadillah Abubakar putra asli desa Teumpok Teungku, Kecamatan Meurah Mulia. Selain itu ada alumni bernama Tgk. Harwin Ilyas sebagai pendakwah andal dan Tgk. Bakhtiar, S.Ag. sebagai Kepala SMA Negeri Meurah Mulia. Dan masih banyak lagi yang belum terdata. Jika sahabat membaca tulisan ini mohon kirimkan data alumni yang lengkap ke email: tengkuhamdani@yahoo.com. Untuk dokumentasi alumni dayah NUDI.
Mohon maaf kepada guru-guru dan sahabat saya jika namanya belum kami sebutkan di sini. Saya sangat mengharapkan dukungan dari para guru dan sahabat sekalian. Terimakasih kepada guru (gure) kami Abon Usman NUDI yang telah mewariskan ilmu kepada kami (murid-muridmu), engkau sebagai ulama adalah pewaris para Nabi. Terimakasih kepada guru kami Tgk. Juwaini, S.Ag., Tgk. Fakruddin, dan Tgk. Faslon,  engkau adalah guru dan juga sahabat kami yang baik. Terimakasih tak terlupakan kepada guru kami Tgk. Husnan, S.Ag. (Kepala MTsS NUDI) dan Tgk. Zulhamdi, S.Ag. (Guru SMPN Meurah Mulia) yang setiap pulang dari Padang menuntut ilmu waktu itu bercerita tentang sejarah Islam di Minangkabau, kami terkesan dengan cerita Malin Kundang yang pernah guru ceritakan.   
Saya menjadi sukses hari ini karena rahmat serta karunia Allah. Salam untuk semua guru terbaik saya, cinta untuk semua sahabat sejati saya. Saya mengidolakan semua guru dan sahabat. Terimakasih kepada Ayahanda tercinta dan Ibunda tersayang yang telah mendidik ananda hingga saat ini, terimakasih atas bantuan dan doa-doa guru saya, dan sahabat sekalian. (Dokumentasi Alumni Dayah NUDI, Penulis: Hamdani, S.Pd. alumni dayah NUDI dan guru MAN Lhokseumawe).

Tgk. Mulyadi dan Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Usman NUDI)
sedang Umrah di Mekkah, tahun 2016



RIWAYAT HIDUP PENULIS

Hamdani, S.Pd. dengan nama pena Hamdani Mulya. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara pada 10 Mai 1979. Belajar pendidikan pertama di rumah sendiri di kampung kelahiran berguru kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta. Menempuh Pendidikan Agama Islam di Dayah (Pesantren) Nahrul Ulum Diniyah Islamiyah (NUDI) Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara (1991 s.d 1998) berguru kepada Tgk. H. Usman Ishaq yang akrab dipanggil Abon Usman NUDI ulama kharismatik Aceh alumni dayah BUDI Lamno.
Hamdani memulai pendidikan dasar di SD Negeri Paya Bili (1992), SMP Negeri Meurah Mulia (1995), SMA Negeri Samudera Geudong (1998). Alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh tahun 2003.
Menulis puisi dan artikel pendidikan di beberapa majalah dan surat kabar. Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Seumangat BRR, Al-Huda, Khazanah, Meutuah Diklat, dan di beberapa website (blog) internet seperti: http://hamdanimulya.blogspot.com.
Puisinya juga terkumpul bersama penyair Aceh lainnya dalam antologi puisi Dalam Beku Waktu tahun 2002. Puisi Hamdani Mulya yang berjudul “Rindu dalam Damai di Bawah Payung Cinta” menjadi puisi favorit bagi juri dalam acara lomba menulis puisi “Damai dalam Sastra” yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Unsyiah dan menjadi puisi kategori puisi terbaik juara I tahun 2003.
Pak Hamdani, panggilan akrab penulis kota Belahan Sungai Lhokseumawe ini sejak tahun 2006 sampai sekarang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bertugas sebagai guru Bahasa Indonesia di MAN kota Lhokseumawe. Mulai tahun 2004 sampai tahun 2011 mengasuh mata kuliah yang sama di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe berstatus sebagai dosen luar biasa. Buah pikirannya tentang sastra, bahasa, dan pendidikan juga menjadi bahan rujukan skripsi mahasiswa STAIN.
     Pada tahun 2005 Hamdani Mulya diundang oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, untuk ikut serta dalam seminar nasional guru seluruh Indonesia di Bogor. Karena cerpennya yang berjudul “Nahkoda Pelabuhan Air Mata” masuk dalam finalis lomba mengarang cerpen tingkat nasional. Di ajang inilah ia berguru dan belajar menulis puisi beberapa saat kepada sastrawan nasional terkemuka Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri.
      Hamdani Mulya juga telah membacakan beberapa puisi yang ditulisnya di beberapa kota seperti Lhokseumawe, Sigli, Banda Aceh, dan Medan. Kumpulan puisinya yang berjudul "Mengeja Alamat" (puisi berkisah tsunami Aceh)  dibacakan di Radio Multi Suara FM Lhokseumawe dan puisinya "Syair Orang Sehat" dibacakan di Radio Republik Indonesia (RRI) Lhokseumawe. Di samping menjadi guru dan dosen kadang-kadang juga menjadi juri lomba menulis puisi dan cerpen tingkat siswa di Lhokseumawe. Hamdani adalah penulis buku Cerdas Berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Unimal Press Lhokseumawe tahun 2011 dan penulis buku Bahasa Nenek Moyang (Indatu) Orang Aceh tahun 2015.
     Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang pernah diikutinya yaitu: Diklat Penyiaran Radio Baiturrahman FM di Banda Aceh tahun 2002, Diklat Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia di Medan tahun 2006, Diklat Pra Jabatan PNS di Sigli tahun 2006, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di Lhokseumawe tahun 2007.


              FOTO PENULIS DARI MASA KE MASA


Hamdani Kecil, ketika duduk di bangku kelas 1
SD Negeri Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara tahun 1987



Hamdani Remaja, ketika duduk di bangku kelas 3
SMP Negeri Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara tahun 1995

Hamdani, S.Pd. Guru MAN Lhokseumawe tahun 2012

Hamdani, S.Pd. tahun 2016
Hamdani, S.Pd. tahun 2016