Rabu, 19 Desember 2018

Manuskrip Puisi Hamdani Mulya

Puisi Karya Tulisan Tangan Manuskrip Bersejarah


Puisi karya Hamdani Mulya
Di era Teknologi Informatika Komputer (TIK) modern yang serba canggih ini. Setiap orang lebih mudah dalam mencari berbagai informasi. Begitu juga bagi para penulis, akan terasa lebih mudah menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan. Penulis dapat mempublikasikan setiap karyanya dalam pustaka pribadi seperti blogspot dan website. Bahkan ada media online lebih mudah lagi dengan aplikasi media terbaru seperti steemit.
IMG_20180319_214316.jpg
Puisi tulisan tangan karya Hamdani Mulya.

Di zaman milenium ini yang dikenal dengan julukan era digital penulis dapat menyalurkan bakat menulis melalui media-media online seperti tersebut di atas. Para penulis dengan secepat mungkin dapat memainkan jari-jari di atas keyboard komputer atau mengetik di layar hp android, setelah beberapa menit kemudian menghasilkan sebuah tulisan yang langsung dapat dipublikasikan di media online. Hanya dalam beberapa detik karya sang penulis dapat dibaca oleh masyarakat di seluruh dunia. Penulis tidak mesti pusing-pusing lagi berpikir untuk dapat menerbit buku.
Berbeda dengan penulis tempoe dulu, mereka bersusah payah untuk menghasilkan sebuah karya yang bagus. Mereka menulis di atas kertas dengan menggunakan pulpen atau pena. Bahkan ada sebagian penulis tempoe dulu yang menggunakan getah-getah pohon sebagai tinta untuk menulis. Dawat dari pohon itu akhirnya menjadi sebuah tulisan yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Yang kini menjadi sebuah manuskrip, perlu dipahami bahwa manuskrip merupakan karya tulisan tangan asli yang dianggap sebagai karya peninggalan bersejarah. Paling kurang jika sudah berusia 100 tahun, karya tersebut dapat disebut sebagai manuskrip. Waktu mesin foto kopi belum lahir ke dunia, karya-karya manuskrip terus disalin ulang menurut jumlah kebutuhan. Sebagai salah satu cara untuk menyebarkan karya-karya penulis, ketika mesin foto kopi belum ada. Para ilmuan muslim seperti ulama penulis kitab telah melakukan tradisi tulis menulis manuskrip ratusan tahun yang lalu.
Dengan kehadiran komputer dan android tradisi menulis dengan tangan hampir ditinggalkan generasi muda. Hanya anak TK, SD, SMP, dan SMA yang masih mengikuti tradisi menulis dengan tangan. Itupun hanya saat menulis di buku catatan, jika ada tugas menulis karangan seperti cerpen atau makalah para siswa pun sudah menulis dengan komputer.
Dengan demikian, mari kita semarakkan lagi kegemaran menulis dengan tangan. Menulis dengan pena harus dilestarikan. Cara yang dapat dilakukan misalnya dengan menyelenggarakan lomba menulis puisi karya tulisan tangan, menulis surat untuk ibu, dan menulis cerpen semua dilombakan menulis dengan tangan.
Sebagai contoh berikut saya paparkan dua buah puisi karya tulisan tangan saya, yang saya tulis beberapa tahun lalu. Puisi ini bertema tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam.
IMG_20180319_214241.jpg
Puisi berjudul Mengeja Alamat (1) karya tulisan tangan Hamdani Mulya.
IMG_20180319_214902.jpg
Puisi berjudul Sepanjang Luka-luka karya tulisan tangan Hamdani Mulya.
Demikian tulisan ringkas ini semoga bermanfaat bagi pembaca.

Foto: Hamdani Mulya.

Biografi Singkat Ulama Aceh

Abi Cot Seunira (Tgk.H.Muhammad) Ulama Aceh dalam Sejarah

Oleh Tgk. Hamdani, S.Pd
Penulis sejarah ulama Aceh
IMG-20170810-WA0016.jpg
Foto: Tgk.H.Muhammad (Abi Cot Seunira)
Ulama merupakan pewaris para Nabi yang sangat berjasa dalam berdakwah. Menyebarkan syiar Islam ke seluruh penjuru dunia. Ulama laksana lampu di permukaan bumi. Meninggalnya ulama bagaikan padamnya lampu di permukaan bumi. Ulama selalu ikhlas dalam mengajarkan umat di balai pengajian, dayah (pesantren), surau, bahkan di madrasah-madrasah ulama selalu hadir mengajari umat agar lebih mengenal Allah.
Dengan berbekal ilmu dari para ulama dunia terasa terang dengan khazah keilmuan. Siapa saja yang memuliakan ulama berarti orang tersebut sama dengan telah memuliakan Nabi Muhammad, karena ulama adalah waris para Nabi yang mewariskan ilmu kepada umat.
Salah satu sosok ulama yang patut menjadi teladan adalah almarhum Abi Cot Seunira. Beliau bernama lengkap Tgk.H. Muhammad pimpinan pesantren Darul Aman Cot Seunira, desa Paya Kambuek, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara.
Tgk. H. Muhammad Cot Seunira lahir pada tahun 1945 dan berpulang ke hadirat Allah, menghadap sang khalik pada tahun 2014.
Abi Cot Seunira begitu beliau akrab dipanggil oleh murid-muridnya. Seorang ulama yang rendah hati dan bersahaja panutan umat. Seorang guru bagi rakyat Meurah Mulia secara khusus dan panutan bagi rakyat Aceh.
Abi Cot Seunira merupakan lulusan dayah terkemuka Babussalam Blang Bladeh, Kab. Bireuen. Setelah menetap di kampung tanah air nya Paya Kambuek, Abi Cot Seunira mendirikan sebuah dayah bernama Darul Aman. Beliau sendiri menjabat sebagai pimpinan hingga akhir hayatnya.
Setelah Abi Cot Seunira berpulang ke rahmatullah, menghadap Allah Yang Maha Kuasa. Tampuk pimpinan dayah Darul Aman dipimpin oleh Tgk. Muhibuddin atau yang dikenal dengan nama Akhi Muhib. Tgk. Muhibbudin merupakan anak sulung dari Abi Cot Seunira. Tgk. Muhibuddin adalah seorang teungku alumni dayah terpadu Ruhul Islam, dan beliau juga pernah mengenyam pendidikan di beberapa dayah tersohor lainnya di Aceh antara lain di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Demikianlah riwayat ringkas ini. Orang-orang yang berjasa bagi dunia pendidikan, ilmunya terus mengalir sebagai amal jariah. Namanya selalu dikenang umat. Mereka dengan ilmunya telah memberi bukti bahwa mereka pernah hadir ke dunia untuk mengabdi bagi kemajuan pendidikan Islam, nusa, dan bangsa.

"Ulama itu bagaikan embun di pagi hari
Hangat di dekat sejukkan sanubari
Tunjuki umat Muhammad kala gerah di kalbu
Pemberi minum di saat haus ilmu." (Tgk. Hamdani, S.Pd).

Rabu, 05 Desember 2018

Esai Sastra Indonesia




Membaca Mata Hati L.K. Ara pada Angin dalam Catatan

Oleh Hamdani Mulya
(Penulis Esai dan Pegiat Literasi di Forum Penulis Aceh Teungku Pang Husen.)
IMG_20180331_104658.jpg
Buku Angin dalam Catatan sebuah buku karya goresan pena sastrawan nasional asal dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Layak dikoleksi oleh para penikmat buku. Sebuah buku yang sarat dengan pesan moral. Buku yang nikmat dibaca serta dinikmati, bagaikan gurih dan lezatnya kopi arabika dari tanah Gayo.
L.K. Ara sastrawan besar Indonesia yang lahir pada 12 November 1937 di tanah seribu bukit Takengon sebelum Indonesia merdeka, telah menulis puluhan buku. Salah satu buku ukiran tangan sastrawan senior L.K. Ara adalah buku kumpulan puisi Angin dalam Catatan yang diterbitkan oleh PeNa Banda Aceh tahun 2016.
Buku yang berisi nilai keagamaan, sejarah, pelestarian alam, sosial, dan pendidikan.
Salah satu puisi yang ditampilkan dalam buku ini berjudul Wanita dari Lampadang puisi patriotisme yang membangkitkan semangat juang para generasi muda. Puisi ini berkisah tentang perjuangan para pahlawan wanita Aceh, berjuluk srikandi dari tanah rencong. Wanita yang gigih berjuang mengusir penjajah Belanda dari negeri ini. Apakah wanita yang dimaksud dalam puisi ini Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, atau Laksamana Keumalahayati ? Yang jelas puisi ini berisi perjalanan perjuangan wanita-wanita Aceh yang tangguh dan pemberani.
Seperti yang terlukis dalam larik puisi berikut "Ada seorang remaja dari Lampadang, Rumah dan kampungnya dibakar, Lalu ia menyingkir ke hutan rimba. Ketika remaja, Ia bukan gadis manja, Ringan tangannya, bergunjing ia tak suka, Tekun belajar agama."
Untuk lebih jelas berikut kutipan puisi Wanita dari Lampadang dalam bentuk lembaran digital. Selamat membaca.
IMG_20180331_103640.jpg
IMG_20180331_103850.jpg
Itulah puisi yang sarat dengan nilai kepahlawanan yang harus diteladani oleh para generasi penerus bangsa.
Berikut ditampilkan Biografi Singkat sastrawan L.K. Ara.
IMG_20180331_104421.jpg


BIOGRAFI MAHDI IDRIS

Mahdi Idris Penulis Berlatar Pesantren Pintar Merangkai Sastra

Oleh Hamdani Mulya
Penulis esai dan pengamat sastra
FB_IMG_1505025921545.jpg
Foto: Mahdi Idris
Mahdi Idris seorang guru yang bersahaja. Lahir di Desa Keureutou, Kec. Lapang, Kab. Aceh Utara, 3 Mai 1979. Mahdi Idris merupakan sosok teungku (ustaz) yang berlatar belakang pendidikan dayah (pesantren). Telah menjadi ikon dan spirit bagi penulis Aceh bahwa kalangan santri dan dai pun mampu menulis karya sastra serupa cerpen dan puisi. Hal itu mengingatkan kita akan sejarah ulama nusantara tempo dulu bahwa betapa eloknya karya para penulis yang lahir dari lingkungan pesantren seperti Ali Hasjmy. Yang menulis berbagai jenis karya sastra yang lezat untuk dibaca.
cover-lelaki-bermata-kabutku.jpg
Foto: Buku Lelaki Bermata Kabut
Dengan kehadiran guru Mahdi Idris di kancah sastra tanah air tentunya geliat menulis untuk kalangan orang pesantren kembali berdenyut.
Guru Mahdi yang akrab disapa Teungku Mahdi oleh para sahabatnya merupakan pembuka jalan bagi kalangan santri, tentunya jalan untuk menuju ke arah kebangkitan menulis sebagai tradisi intelektual muslim. Jalan yang mungkin juga sudah lama ditumbuhi rumput atau belukar yang menutup ruang ke jalan sastra, kini di buka kembali oleh guru Mahdi Idris.
Cover Kumcer (1).jpg
Mahdi Idris mengawali pendidikan di pondok Pesantren Modern Al-Muslim Lhoksukon dari tahun 1992 sampai 1996. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren Nurul Yaqin Al-Aziziyah Aceh Pidie selama setahun. Pada tahun 1998 meneruskan perantauannya ke Aceh Barat Daya, tepatnya di Pesantren Raudhatul Ulum Alue Pisang, Kec. Kuala Batee. Pada tahun 2001 kembali ke kampung halaman, dan mengajar di Pesantren Nurul Huda Trieng Pantang, Kec. Lhoksukon, Aceh Utara sampai Juni 2003.
Cover Lagu.jpg
Mahdi Idris, pria yang lues dalam bergaul ini adalah Sarjana lulusan Fakultas Syariah, Jurusan Muamalat pada STIS Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Aceh Utara ini mengawali karier bidang menulis sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Lhokseumawe pada awal 2009.
Guru Mahdi bisa dikatakan sebagai penyemangat menulis bagi kalangan santri, siswa madrasah, dan guru pesantren untuk mengulang kegemilangan Aceh dalam buku sejarah dan sastra yang digores dengan tinta emas.
Guru Mahdi juga salah seorang guru yang pernah mengajar di Pesantren Terpadu Ruhul Islam Tanah Luas, SMAN 1 Matang Kuli, dan dosen STIA Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Aceh Utara. Ia sangat peka terhadap permasalahan sosial dan kearifan lokal Aceh. Lalu ia menuangkannya ide-ide tersebut dalam cerpen dan puisi yang ditulisnya.

FB_IMG_1505026007962.jpg
Foto: Mahdi Idris bersama Muhammad Subhan Sastrawan berdomisili di Padang, Sumatera Barat
"Potret kehidupan Aceh dalam buku kumpulan cerpen ini begitu terasa, dan sebagai putra Aceh, Mahdi berhasil memotret realita kehidupan kampung halamannya dalam sebuah cerita. Begitu mengena dan penuh nuansa," ungkap Ayi Jufridar, Jurnalis dan Sastrawan mengomentari buku Lelaki Bermata Kabut yang diterbitkan oleh Cipta Media tahun 2011.
Lelaki Bermata Kabut adalah salah satu buku karya Mahdi Idris berupa kumpulan cerpen karya sastrawan muda asal Aceh yang juga seorang guru.

Eksitensi Mahdi Idris dalam berkarya memang tidak berhenti dalam sebuah cerpen, ia juga menulis puisi, resensi, dan ulasan sastra. Sebagai seorang guru ia juga mengajar dengan buku melalui karya yang ditulisnya, Mahdi mengajar dan berdakwah melalui media. Cara yang ia tempuh adalah dengan menulis. Ini sangat menggembirakan, mengingat gairah perkembangan sastra di Aceh semakin pesat dengan lahir para penulis muda yang mencoba menunjukkan eksitensinya, Mahdi adalah salah satunya.

"Menarik, ringan serta khas. Antologi cerpen sang guru Mahdi Idris mengajak saya dalam banyak hal dalam kisahnya. Kekhasan Aceh yang mengental, kritik sosial yang ringan serta tidak menggurui, membuat saya kagum dengan penulis guru ini...." demikianlah komentar R.H.Fitriadi, penulis novel asal Aceh menilai buku berjudul Jawai karya Mahdi Idris, buku yang layak dibaca oleh semua kalangan.
Mahdi Idris telah melahirkan beberapa buku hasil goresan penanya berupa kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit: Lelaki Bermata Kabut (Cipta Media, 2011), Sang Pendoa (Yayasan Pintar, 2013), dan kumpulan puisi Lagu di Persimpangan Jalan ( Yayasan Pintar, 2013).
Selain itu, karya Mahdi Idris dimuat di berbagai buku antologi puisi bersama sastrawan nasional lainnya. Karya Mahdi tersebar dimuat diberbagai surat kabar dan majah seperti: Harian Aceh, Serambi Indonesia, Aceh Independent, Aceh Post, Rakyat Aceh, majalah Potret, Assifa, Joe Fiksi, tabloid Narit, Waspada, Jurnal Seni Kuflet, Lintas Gayo, Metronews Jakarta, Pikiran Merdeka, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, dan lain-lain.
FB_IMG_1505026036999.jpg
Foto: Mahdi Idris
Mahdi juga aktif sebagai pengurus Mahkamah Adat Aceh (MAA) Kab. Aceh Utara dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kab. Aceh Utara. Beliau sering menjadi juri lomba menulis dan membaca karya sastra di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Serta menjadi khatib Jum'at di masjid.
Pada tahun 2011 Pak Mahdi meraih juara II sayembara penulisan buku pengayaan Puskurbuk Kemendikbud dengan judul naskah manuskrip Nyanyian Rimba, dikalangan pihak Kemendikbud Mahdi Idris dipanggil dengan sebutan Pak Aceh, satu-satunya guru dari seluruh Indonesia yang menghadap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memakai peci dan memakai baju muslim untuk mengambil hadiah, sertifikat, dan tropi penghargaan bagi penulis Mahdi Idris.
Kita berharap guru Mahdi Idris dapat menggantikan almarhum Ali Hasjmy ulama sekaligus sastrawan besar Indonesia asal Aceh, Bapak Bahasa dan Sastra Asia Tenggara. Menurut hemat penulis bisa dikatakan Mahdi Idris nantinya akan seperti Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (HAMKA) ulama yang sastrawan nasional asal Padang, Sumatera Barat, bagi orang Aceh. Sosok dan pemikiran HAMKA sebagian ada pada jati diri Mahdi Idris. Jadi bisa dikatakan bahwa Mahdi Idris adalah calon HAMKA-nya orang Aceh.
Demikianlah, semoga bermanfaat. Salam sastra dari tanah Pasai, Aceh Utara.

Sumbok Rayeuk, Nibong 10 September 2017
IMG20160817075738.jpg
Foto: Hamdani Mulya
Penulis esai

Kisah Cut Nyak Dhien dalam Buku Sastrawan Indonesia-Malaysia

Kisah Cut Nyak Dhien dalam Buku Sastrawan Indonesia-Malaysia

Oleh Hamdani, S.Pd
Penulis esai
IMG20161227101254.jpg
Foto: Buku Yogya dalam Nafasku
Cut Nyak Dhien seorang pahlawan nasional asal Aceh. Seorang ibu berhati lembut, namun berjiwa baca. Sosok perempuan yang tangguh, sangat ditakuti oleh penjajah Belanda. Cut Nyak Dhien juga seorang guru, di pengasingannya Sumedang ketika diasingkan oleh Belanda sempat menjadi guru agama Islam kala itu. Pemikirannya yang sangat berpenguruh dan membakar semangat juang rakyat dalam melawan penjajah, sangat mengkhawatirkan pihak Belanda.
Cut Nyak Dhien srikandi dari tanah rencong, Aceh. Seorang ibu bangsa, kebanggaan rakyat Aceh dan Indonesia. Namanya terus terukir dengan tinta emas dalam rimba literatur sejarah, laksana perjuangannya yang bergerilya di rimba belantara nusantara. Itu ia lakukan demi harkat dan martabat bangsanya.
Nama Cut Nyak Dhien dapat dibaca dalam buku-buku sejarah dunia. Tak terkecuali dalam buku yang berjudul Yogya dalam Nafasku juga menggoreskan kisah heroik Cut Nyak Dhien sebagai pahlawan nasional.
Seperti yang ditulis oleh oleh Dodo Widarda dalam sebuah puisi bertema kepahlawan berjudul Balada Teuku Umar-Tjut Nyak Dhien yang tersusun indah dalam bait berikut:

Dari nyala api butir-butir tanah lampisang
Aku mendengar suara sayup dari qalbu jiwa yang hidup
Obrolan sepasang belahan jiwa terngiang-terngiang
Antara Umar dan Dhien saat membelai Cut Gamblang

Mendidih suara dari bilik-bilik batin Tjut Nyak Dhien
Teringat akan lintasan-lintasan peristiwa silam;
Darah syuhada yang membasuh tanah rencong
dari belahan jiwa pertama Ibrahim Lamnga.
Harum semerbak ruh seorang syahid menghadap Allah
bersimbah darah Lamnga kembali pada Tuhannya
telah memendam sekam dalam jiwa Tjut Nyak
untuk tak pernah henti melawan kafe-kafe penjajah itu.
...
Itulah nukilan petikan puisi yang panjang tersebut. Ditulis untuk ditampilkan pada Festival Tjut Nyak Dhien di Sumedang, 30-31 Oktober 2014. Puisi tersebut ditulis di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Lalu puisi tersebut terkumpul dalam buku antologi puisi Yogya dalam Nafasku yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 2016. Buku tersebut memuat puisi sastrawan Indonesia, Malaysia, dan negeri serumpun Melayu.
Sosok Cut Nyak Dhien juga diukir oleh Hamdani Mulya penulis asal tanah Pasai, Aceh Utara. Puisi yang menggugah hati berjudul Ibuku yang Anggun Cut Nyak Dhien berikut:
Rinduku pada ibu
Laksana gerahku mata air
Mengumbar selaksa cinta
Yang aku tanam lewat
Curahan kasihmu di igauwanku
Betapa aku telah jadi
bara kagum padamu ibu
Dalam detak jantung adalah
doa untukmu
Biarkan cinta yang anggun
berpayung sutra
dan cinta pun berlabuh di tanah airku
Dengan Rahmat Allah
Tanah airku merdeka
Aku anakmu yang selalu bersenandung
Merdeka di setiap jengkal tanahmu
Ibuku yang anggun "Cut Nyak Dhien"
Aku merindukanmu di hamparan
Ali Hasyimi, telah berbuah budi
Cinta yang engkau taburi
Di negeri ini cinta telah berbuah budi
Api terpadam air
Di sini aku rindu ibuku "Cut Nyak Dhien"
Aceh Utara, 26 Juni 2016
Demikianlah ulasan singkat buku Yogya dalam Nafasku. Buku yang menjadi saksi sejarah bahwa Cut Nyak Dhien telah menjadi idola para penulis. Sosok Cut Nyak Dhien telah menjadi contoh teladan bahwa berjuang tidak ada kata berhenti di tengah jalan. Ia rela mengorbankan darah dan nyawanya sekalipun, demi harkat dan martabat bangsanya. Atas jasa-jasa yang sangat bernilai harganya pemerintah menganugerahkan Cut Nyak Dhien sebagai pahlawan nasional.