Sabtu, 17 November 2018

Esai Sastra Indonesia


Esai Sastra
RINDU TANAH KELAHIRAN DALAM SAJAK
CATATAN ZULIA KARYA ZAB BRANSAH

Oleh Hamdani Mulya
Mahdi Idris (kiri) dan Zab Bransah (kanan)

Buku antologi puisi (sehimpun sajak) berjudul Catatan Zulia boleh disebut sebagai sebuah karya yang lahir dari hasil perjalanan sang musafir penyair Zab Bransah. Mahdi Idris selaku editor buku ini menulis dalam pengantarnya Catatan Zulia; Membaca Sajak Kerinduan memaparkan bahwa puisi merupakan bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun maknanya sangat kaya. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata konotatif, yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.
Penyair Zab Bransah adalah nama pena dari Zakaria, M.Pd. anak dari pasangan Bapak Ali Basyah Bransah dan Ibu Siti Maryam. Lahir pada 6 Juli 1964, di sebuah desa kecil Blang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Zab Bransah seorang penyair yang hidup sering berpindah-pindah tempat sejak menempuh pendidikan dan melaksanakan tugas sebagai seorang guru tentu harus melakukan hijrah ke berbagai daerah. Ia juga kerap kali melakukan ziarah ke berbagai tempat. Lawatan-lawatan tersebut Zab Bransah lakukan untuk tujuan pendidikan dan tugasnya sebagai guru sekaligus sebagai seorang penyair.
Dorongan menulis puisi muncul dalam diri seorang penyair tidak datang begitu saja dari dunia tak dikenal, akan tetapi datang dari sebuah pengalaman yang dihayati secara total. Pengalaman yang dimaksud adakala disebut sebagai pengalaman puitik, yang sumbernya berasal dari pengalaman fisik maupun dari pengalaman metafisik dalam pengertian yang seluas-luasnya (Soni dalam Zab Bransah, 2018:vii).
Hal tersebut menjadi sebuah acuan bahwa begitupun puisi-puisi yang ditulis Zab Bransah dalam buku Catatan Zulia merupakan hasil dari sebuah perjalanan yang panjang dan berliku. Dari hasil perenungan yang mendalam Zab Bransah menuangkan berbagai pengalaman hidupnya dalam sajak-sajak yang ditulisnya. Puisi yang terhimpun dalam buku ini berjumlah enam puluh sajak. Ia tulis dalam rentang waktu yang panjang, sejak tahun 1986-2018. Beliau tulis sejak belia, ketika duduk di bangku kuliah, sampai usianya menjelang senja yang kini memasuki 54 tahun tetap istiqamah menekuni dunia menulis puisi.
Zulia adalah metafora yang digunakan Zab Bransah untuk seseorang yang ia rindukan, ia cintai, sekaligus yang ia benci. Siapakah sebenarnya sosok Zulia yang dikisahkan dalam puisi-puisi yang ditulisnya? Itulah pertanyaan yang pernah saya lontarkan kepada Zab Bransah. Ia menjawab “Zulia adalah metafora, kiasan, Zulia adalah sosok siapa saja yang mencintai perdamaian, sosok yang merindukan persaudaraan, Zulia itu gambaran rindu, cinta, dan kasih sayang antar sesama manusia. Persaudaraan dan perdamaian yang dirindukan oleh semua orang.”
Antologi sehimpun sajak Catatan Zulia merupakan gambaran rindu, cinta, dan keprihatinan pada tanah kelahiran. Suasana dilema perasaan batin sang penyair yang ia ungkapkan dalam larik-larik yang puitis dan menggugah perasaan para pembaca. Perasaan kerinduannya pada tanah kelahiran Zab Bransah tuangkan dalam sebuah puisi berjudul “Pulang 1” sebagai berikut:

Langkahku malam ini
merindukan kembali pada tanah kelahiran
jalan masih panjang menapaki diri
pada malam-malam semakin menepi pada janji
menyambutku kembali.
(Catatan Zulia, hal.5)

Zab Bransah penyair kelahiran Meureudu, Pidie Jaya, yang bertugas sebagai seorang guru di MAN 1 Langsa yang jauh dari kampung halamannya. Kadang kala mengalami gejolak batin, mengalami rasa kerinduan yang membuncah akan tanah kelahirannya. Rindu itu ia ungkapkan dalam sajak-sajaknya, sehingga rindu itu pun terobati dengan sajak sebagai pengobat rindu, Catatan Zulia.
Zab Bransah sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibu-bapa, ia pun sering merindukan orang tuanya di kampung halaman. Segenap doa selalu ia curahkan demi ibunda tercinta. Begitupun harapan akan keberhasilan dalam mengarungi lembah kehidupan selalu ia memohon restu dari sang Ibunda Siti Maryam. Seperti yang ia ukir dalam puisi indah goresan pena yang begitu apik berjudul “Bunda” sebagai berikut:

Bunda, relakan anakmu melangkah
tak salah arah
kalau nanti arah menjauh
biar hati menunjuk ke arah pulang.

bunda, relakan hati
anakmu melangkah!
(Catatan Zulia, hal. 60)

Zab Bransan mantan anak muda yang pernah merasa hidup di era tahun 1980-an, kini merasa banyak kehilangan pada era zaman modern yang dikenal dengan “era milenial”. Adat dan istiadat telah hilang tergerus zaman. Pengaruh modernisasi telah mengalami pergeseran pada tatanan adat istiadat dalam masyarakat. Adat istiadat telah hilang ditelan zaman. Seperti tambo (bedug) yang hampir punah, hampir tidak dikenali lagi oleh anak muda zaman sekarang. Zab Bransah sangat merindukannya, agar semua itu kembali lagi seperti pada masa mudanya. Hal tersebut Zab Bransah ungkapkan dalam puisi bertajuk “Tambo” berikut:

Lama sudah kerinduan padanya untuk
diperdengarkan kembali
nyanyian subuh untuk membangunkan kita
nyanyian para petani dan nelayan
pada tiap saat berbunyi sebagai pertanda.
(Catan Zulia, hal. 36)


Mahdi Idris (kiri) dan Hamdani Mulya (kanan)

Begitulah sehimpun sajak Catatan Zulia ditulis sebagai sebuah ungkapan hati Zab Bransah. Sebagai sebuah catatan, layaknya seperti sebuah monumen sastra tanah air, yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Sebagai saksi hidup seorang penyair Zab Bransah bahwa ia pernah lahir dan singgah di dunia ini, untuk menjadi tamadun dunia sastra. Begitulah kehidupan sosok sang penulis di alam nyata yang riwayat hidupnya ditulis  untuk dibaca dan menjadi kenangan zaman. Sejarah ditulis, dirawat, untuk diriwayatkan. Nama penulis selalu terukir indah dalam kenangan wajah zaman. Semoga. Demikianlah riwayat ringkas buku karya Zab Bransah. Dari Meureudu menuju kota Langsa kisah ziarah dalam sehimpun sajak Catatan Zulia.
           
                                                                                                Aceh Utara, 18 November 2018


         BIOGRAFI PENULIS ESAI

Hamdani Mulya

Hamdani Mulya adalah nama pena dari Hamdani, S.Pd. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara pada 10 Mai 1979. Alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Menulis puisi dan artikel pendidikan di beberapa majalah dan surat kabar. Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Warta Unsyiah, Seumangat BRR, Meutuwah Diklat, Khazanah, Jurnal Al-Huda, dan di beberapa website (blog) internet seperti: http://hamdanimulya.blogspot.com.
Puisi Hamdani Mulya juga terkumpul bersama penyair Aceh dan sastrawan Indonesia lainnya dalam antologi puisi Dalam Beku Waktu (2003), Paru Dunia (Saweu Pena Publisher, 2016), Yogja dalam Nafasku (Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016), Aceh 5:03 6,4 SR (FAM, 2017), dan Gempa Pidie Jaya (Imaji, 2017). Puisi Hamdani Mulya yang berjudul “Rindu dalam Damai di Bawah Payung Cinta” menjadi puisi favorit bagi juri dalam acara lomba menulis puisi “Damai dalam Sastra” yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Unsyiah dan menjadi puisi kategori puisi terbaik juara I tahun 2003.
Pak Hamdani, panggilan akrab penulis kota Belahan Sungai Lhokseumawe ini. Sejak tahun 2006 sampai 2018 menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bertugas sebagai guru Bahasa Indonesia di MAN kota Lhokseumawe. Kadang-kadang mengasuh mata kuliah yang sama di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe berstatus sebagai dosen luar biasa dari tahun 2005 sampai tahun 2011. Sejak tahun 2018 sampai sekarang bertugas sebagai guru bidang studi Bahasa Indonesia di SMAN 1 Lhokseumawe.
Buah pikirannya tentang sastra, bahasa, dan pendidikan juga menjadi bahan rujukan skripsi mahasiswa STAIN. Pada tahun 2005 Hamdani Mulya diundang oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas. Untuk ikut serta dalam seminar nasional guru seluruh Indonesia di Bogor. Karena cerpennya yang berjudul “Nahkoda Pelabuhan Air Mata” masuk dalam finalis lomba mengarang cerpen tingkat nasional. Di ajang inilah ia berguru dan belajar menulis puisi beberapa saat kepada sastrawan nasional terkemuka Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri.
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) lain yang pernah diikutinya yaitu: Diklat Penyiaran Radio Baiturrahman FM di Banda Aceh tahun 2002, Diklat Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia di Medan tahun 2006, Diklat Pra Jabatan PNS di Sigli tahun 2006, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di Lhokseumawe tahun 2007.
Hamdani juga telah membacakan beberapa puisi yang ditulisnya di beberapa kota seperti Lhokseumawe, Sigli, Banda Aceh, dan Medan. Kumpulan puisinya yang berjudul “Mengeja Alamat” dibacakan di radio Multi Suara FM Lhokseumawe dan puisinya “Syair Orang Sehat” dibacakan di Radio Republik Indonesia Lhokseumawe. Di samping menjadi guru dan dosen kadang-kadang juga menjadi juri lomba menulis puisi dan cerpen tingkat siswa di Lhokseumawe. Hamdani adalah penulis buku Cerdas  Berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Unimal Press Lhokseumawe tahun 2011, Bahasa Indatu Nenek Moyang Ureueng Aceh penerbit Afkaribook tahun 2017, dan novel Pengantin Surga penerbit Magzha Pustaka Yogyakarta tahun 2018.


Foto: Penulis Hamdani Mulya (kiri), Ananda tersayang Qais Zhafran Mulya, ananda Keisha Elsria Mulya (tengah), dan Istri tercinta Sri Wahyuni, S.Pd.I (kanan).









Kamis, 15 November 2018

Esai Sastra

Gempa dalam Puisi Sastrawan Indonesia Membuka Tabir Aceh 5:03 6,4 SR

Oleh Hamdani Mulya
Penulis esai dan puisi
Puisi sebagai karya sastra yang mengandung nilai estetika (keindahan). Juga dapat dijadikan sebagai dokumenter sejarah peradaban manusia. Adakalanya puisi juga merekam bencana seperti gempa dan tsunami. Puisi yang dimaksud terhimpun dalam buku antologi puisi berjudul Aceh 5:03 6,4 SR. Buku kumpulan puisi sastrawan nusantara tersebut yang menjadi editornya adalah Sulaiman Juned, dkk.
IMG_20170829_112223.jpg
Sastrawan yang terkumpul dalam buku yang menarik ini datang dari berbagai penjuru nusantara mengungkapkan rasa simpatinya untuk warga Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen yang terkena efek gempa yang meruntuhkan ratusan bangunan dan memakan korban puluhan jiwa.
Buku itu diawali dengan sebuah judul puisi Duka di Tanah Rencong ukiran manis karya Abdul Hamid yang datang dari Tanah Datar, Sumatera Barat. Ia datang dengan segenap jiwanya melalui puisinya tersusun rapi pada larik-larik berikut:
di pelipis mata jauh, sebening kaca
entah, jauh melayang hilang
dalam endapan rasa
Allah
kami melihat tangis
kami menyaksikan pilu...
kami merasakan duka, dengan
air mata jatuh ke jiwa
Tanah Datar, Desember 2016
Buku yang menggugah hati pembaca ini diterbitkan oleh Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Jawa Timur. Memuat 197 puisi karya penulis nusantara.
Sulaiman Juned sastrawan asal Aceh sekaligus editor bersimpati lewat puisi berjudul Aceh: Subuh 5.03, 6,4 SR seperti terungkap dalam bait berikut:
di waktu
subuh. Tak ada yang bisa
mengukur waktu. Hanya
Allah yang tahu segala rencana. Di tanah
tempat Abi mencari hidup kita harus bersahabat dengan gempa, nak
maka, bersiaplah
...
Pekan Baru, 07 Desember 2016
Sementara itu, Hamdani Mulya penulis asal tanah Pasai, Aceh Utara merekam jejak gempa dalam puisi bertajuk Aceh Menangis dalam Isak Tak Terkira yang menggugah hati dan menggetarkan dunia pada bait berikut:
Toko dan rumah ambruk bersama penghuninya
Di subuh yang masih gulita
Aku kabarkan duka tentang bayi
Kerabat kita yang tertimbun tanah yang rata
Aceh menangis dalam isak tak terkira
Ketika anak-anak, ibu-ibu, dan orang tua
Harus tidur berselimut angin di tenda-tenda
Berderai gerimis hujan air mata
ketika Aku lihat mereka berselimut duka
Di tanah Aceh, bumi aulia
Aceh Utara, 19 Desember 2017
Itulah isi buku yang layak dibaca oleh pecinta dan penikmat sastra dalam kancah sastra tanah air. Sulaiman Juned, dkk selaku editor buku ini mengungkapkan bahwa nilai estetika dan pesan moral adakalanya bersatu menjadi catatan atas peristiwa yang mendera sebuah wilayah, dan penyair menjadi juru berita atas realita yang ada. Realitas musibah, kerugian harta benda, korban jiwa, dan tangis para korban. Demikianlah para penulis berkisah dalam desah nafas yang panjang, berkisah desah nafas tanah rencong yang diruntuhkan oleh gempa.
Allah mengirim surat kepada hamba-Nya, surat yang tak tertulis, tetapi tersirat maknanya dalam peristiwa gempa yang menggetarkan dunia.
IMG20170520125934.jpg
Foto: Hamdani Mulya

Rabu, 14 November 2018

Puisi-Puisi Hamdani Mulya


Puisi-puisi Hamdani Mulya

Hamdani Mulya

Tangis Leuser
Leuser menangis dalam isak tak terkira
Mendesah karena pohon yang tumbang
dan ranting dicincang
Sungai yang dulu biru, gemercik airnya bertalu-talu,
Kini bercampur debu dan serbuk kayu
Lalu bandang  datang menyapu.

Kita rindu pada hutan rimbun
Seperti mimpi-mimpi burung yang dulu
bernyanyi di sarangnya
Sambil menatap sungai jernih di pagi hari,
Berdiri di ranting dan pohon
yang dulu indah itu.

Ayo, mari merawat hutan negeri ini
sebagai rasa syukur atas karunia Ilahi.
Aceh Utara, 20 Mei 2017

Cut Nyak Dhien       
Rinduku pada Cut Nyak
Laksana gerahku pada mata air
Mengumbar selaksa cinta
Yang aku tanam lewat
Curahan kasihmu di igauanku.

Betapa aku telah jadi bara
kagum padamu, Cut Nyak
Dalam detak jantungku  
Menyirat cinta yang anggun

Aku anakmu yang selalu bersenandung merdeka
Pada jejak tanah yang telah kauperjuangkan
Mengetam segala rindu padamu.
Aceh Utara,  26 Juni 2016

Perempuan Bermata Rencong
Perempuan bermata rencong itu
Laksamana Malahayati
Adalah perempuan perkasa
Dari Blang Padang
Berselempang pedang
Bersemangat baja.

Perempuan bermata rencong  
Laksamana Malahayati
Adalah perempuan gagah
Dari Serambi Mekkah
Yang berpeluh memeluk senjata,
Penjajah gentar menghadapinya.

Laksamana Malahayati
Ini negerimu bahagia
Merah putih berkibar
Di jagat Indonesia.
Aceh Utara, 26 Juni 2016

Hamdani Mulya adalah nama pena dari Hamdani, S.Pd. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara pada 10 Mei 1979. Ia adalah alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Menulis puisi dan artikel pendidikan di beberapa majalah dan surat kabar, seperti Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Seumangat BRR, Jurnal Al-Huda, dan lain-lain. Karyanya juga dapat ditemukan dalam antologi bersama penyair Aceh, antara lain Dalam Beku Waktu. Ia aktif mengelola blognya http://hamdanimulya.blogspot.com.

Hamdani Mulya (kiri) dan Dr.Wildan, M.Pd (kanan) 
Pakar Bahasa dan Sastra Indonesia



Jumat, 09 November 2018

Cerpen Anak


Cerpen

BERKUNJUNG KE RUMAH CUT NYAK MEUTIA SRIKANDI DARI ACEH
Foto: Keisha Elsria Mulya

Karya Keisha Elsria Mulya

Teman-teman, kamu pernah berkunjung ke Aceh enggak sih? Soalnya, di Aceh banyak sekali tempat wisata bersejarah seperti Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang selamat dari amukan tsunami tahun 2004 lalu, kamu juga dapat melihat museum rumah Aceh yang indah dengan ukiran motif khas daerah berjuluk Serambi Mekkah. Jika kamu jalan-jalan ke Aceh kamu juga dapat berkunjung ke monumen Kapal Apung, sebuah monumen tsunami berupa sebuah kapal nelayan yang tersangkut kandas di atap rumah warga Banda Aceh saat tsunami. Sambil kamu menikmati mie Aceh dan kopi arabika Gayo yang sangat lezat dan gurih.
Oh ya, teman-teman liburan tahun ini saya mengajak ayah dan ibu saya berwisata ke rumah Cut Nyak Meutia pahlawan nasional dari Aceh. Oh ya, kamu tahu enggak siapa Cut Nyak Meutia itu? Gambar Cut Nyak Meutia sering kita lihat ditempel di dinding sekolahmu yang disandingkan bersama foto pahlawan lain, seperti foto Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar dari Meulaboh yang memiliki taktik perang gerilya.
Cut Nyak Meutia lahir hampir satu setengah abad yang lalu di Pirak Timu, Aceh Utara. Cut Nyak Meutia putri dari Ulee Balang Pirak, ayahnya Teuku Ben Daud seorang tokoh terkemuka yang menentang upaya Belanda menjajah Aceh.
Hari itu, matahari bersinar begitu cerah pukul 08.00 WIB. Hari minggu pagi saya bersama adik saya yang bernama Qais Zhafran Mulya, sudah bersiap-siap. Kami sudah memakai baju kesukaan masing-masing. Adik saya yang akrab disapa Qais si ganteng yang doyan makan, tidak pernah lupa dengan kacamata hitam kesayangannya. Ayah saya memakai baju adat Aceh yang layaknya seperti baju Teuku Umar, karena ayah saya sangat mencintai sejarah pahlawan. Dengan menumpangi kendaraan roda dua kami pun melaju menempuh jalan yang berliku dan berbelok-belok. Setelah beberapa jam kemudian kami pun tiba di rumah Cut Nyak Meutia pahlawan yang bergelar srikandi dari Aceh. Setelah melewati perkampungan dan persawahan yang indah. Kendaraan kami pun berhenti di depan rumah Cut Nyak Meutia. Tiba-tiba, ayahku berkata “Anakku inilah rumah pahlawan kita Cut Nyak Meutia,” Ayahku menunjuk ke arah rumah Cut Nyak Meutia.
Saya dan adik merasa terkagum-kagum. Melihat sebuah rumah yang sangat indah dan besar, bermotif ukiran Aceh. Ayahku bercerita sambil melihat-lihat rumah Cut Nyak Meutia yang berbentuk panggung itu.
Ayah berpesan “Annakku bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan.” Nasehat ayahku akan selalu aku ingat. Salah satu cara untuk menghargai jasa para pahlawan adalah dengan belajar yang rajin dan tekun. Begitulah cara mengisi kemerdekaan dengan berprestasi.
Di depan rumah Cut Nyak Meutia berdiri tegak tiang bendera seperti tegaknya jiwa pahlawan yang rela dibakar terik mata hari demi negara tercinta. Bendera merah putih berkibar melambai-lambai kepada kami seperti hendak berkata “Selamat datang para pecinta pahlawan di rumah wanita pejuang, ibu bangsa kita Cut Nyak Meutia.”
Lalu saya bersama keluarga saya masuk ke rumah yang menjadi saksi sejarah dimana Cut Nyak Meutia dilahirkan. Rumah tersebut terdapat bagian-bagian seperti serambi depan dan serambi belakang. Serta memiliki ruang tengah yang disebut reumoh inong, sebuah ruang yang dikhususkan untuk kaum wanita. Rumah Cut Nyak Meutia berbentuk seperti rumah adat Aceh secara umum. Rumah ini memiliki tujuh anak tangga.
Di dinding rumah ini terpasang berbagai foto dan gambar lukisan sejarah perang Aceh. Tampak beberapa foto perang ketika penjajah Belanda menyerbu daerah Pasai. Juga terdapat beberapa lukisan wajah Cut Nyak Meutia berukuran besar dipajang di dinding rumah. Membangkitkan semangat para pengunjung untuk terus mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih oleh para pahlawan.
Hari itu tampak ratusan pengunjung berlalu lalang melihat-lihat suasana rumah Cut  Nyak Meutia, ada para pemerhati sejarah, siswa, dan mahasiswa. Bahkan para wisatawan pun ikut berkunjung kerumah Cut Nyak Meutia.
Di bagian serambi depan rumah terlihat sebuah foto besar dokumentasi perang Aceh. Tiba-tiba ayah saya bertanya “Wahai anak-anak, tahukah kamu foto siapakah itu?”
“Saya tidak mengenali wajah yang ada di foto itu Ayah,” jawab saya.
“Oo, itu foto Raja Sabi wahai anak-anakku, Raja Sabi adalah anak kesayangan Cut Nyak Meutia satu-satunya.” Jelas Ayah menjelaskan panjang lebar.
Ya, itulah Raja Sabi putra dari Teungku Chiek Ditunong suami Cut Nyak Meutia. Raja Sabi seorang putra pejuang yang sejak berusia sekitar 5 tahun sering masuk-keluar hutan menemani ibunya bergerilya mengusir penjajah Belanda dari negeri tercinta.
Setelah beberapa jam di dalam rumah Cut Nyak Meutia, saya dan keluarga ke luar menuju arah kiri rumah. Di situ terdapat sebuah lumbung padi yang dalam bahasa Aceh disebut kroeng pade dan disampingnya terdapat beberapa buah jeungki. Jeungki merupakan alat penumbuk padi dan tepung, teknologi tradisional masyarakat Aceh. Beberapa meter ke arah kiri lumbung padi terdapat sebuah balai kecil. Di balai tersebut sering digelar pengajian dan doa bersama untuk mengenang jasa arwah para pahlawan yang telah mendahului kita. Karena rumah Cut Nyak Meutia juga sering dikunjungi penziarah dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional. Di kiri dan kanan rumah juga ditanami pepohonan yang indah dan rindang.
Hari pun sudah siang, saya dan keluarga saya pun akhirnya mengakhiri liburan kali ini dengan makan siang bersama. Ibu saya membawa menu kesukaan kuah pliek u, menu khas tradisional Aceh dengan lauk ikan panggang. Setelah shalat zuhur berjamaah saya dan keluarga saya pun bertolak kembali ke kampung halaman. Sungguh indah perjalan liburan tahun ini. Selain dapat melihat pemandangan alam yang indah, juga dapat ilmu pengetahuan pelajaran sejarah. Ayo, mari kita selalu mengisi hari-hari kita dengan belajar. Bahkan sambil bermain pun kita harus menjadikannya sebagai pelajaran. Seperti yang saya lakukan. Belajar sambil bermain, bermain mengenal sang pahlawan Cut Nyak Meutia. Dengan meneladani pahlawan, berarti kita meneruskan perjuangan. Selamat meneruskan perjuangan Cut Nyak Meutia: Perempuan, Pejuang, dan Pahlawan.
                      Aceh Utara, 31 Oktober 2018

Naskah Cerpen ini meraih juara harapan dua lomba menulis Cerpen bagi siswa SD/MI yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Utara pada 31 Oktober 2018.

Riwayat Singkat Penulis
Keisha Elsria Mulya lahir di Aceh Utara 18 Oktober 2008. Keisha merupakan siswa berprestasi MIN 7 Aceh Utara. Ia sering mengikuti berbagai lomba untuk mengasah kemampuan serta bakat yang ia miliki. Di sekolahnya ia sering masuk dalam juara peringkat kelas. Keisha memperdalam ilmu tentang menulis cerpen kepada ayahnya Hamdani Mulya seorang penulis buku dan pegiat literasi.
Foto: Keisha Elsria Mulya
Penulis Cerpen