Jumat, 19 Mei 2017

Cerpen Indonesia


Cerpen
TEUNGKU PANG HUSEN PAHLAWAN 
MUDA BELIA DARI RIMBA PASAI

Oleh Hamdani Mulya
Gambar ilustrasi: Teungku Pang Husen (1858-1894)
Teungku Pang Husen adalah pahlawan dari Aceh atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tanah Rencong. Ia lahir tahun 1858. Teungku Pang Husen merupakan salah satu dari sekian banyak keluarga pejuang yang pernah dimiliki Aceh, yang juga terkenal dengan julukan Serambi Mekkah. Sejak kecil Teungku Pang Husen dididik ilmu agama oleh banyak ulama. Bahkan ayahnya sendiri adalah salah satu dari sekian banyak guru agama yang pernah mengajarnya.
Teungku Pang Husen tumbuh sebagai seorang pemuda gagah yang tampan rupawan. Saat itu tanah Aceh sedang berada dalam bahaya. Para pejuang Aceh sekuat tenaga berusaha mengusir penjajah Belanda. Teungku Pang Husen terpanggil untuk berjuang di medan laga bersama sahabat-sahabatnya. “Kita harus berjuang mengusir penjajah!,demikian tekad Teungku Pang Husen. Sejak itulah mereka keluar masuk hutan untuk bertempur dan melawan Belanda. Perlakuan Belanda yang semena-mena dengan berbagai pemaksaan dan penyiksaan akhirnya menimbulkan perlawanan dari rakyat.
Angin berhembus membelai wajah-wajah lelah di tepi pantai Samudra Pasai, Aceh. Pasukan Laskar Tanah Rencong masih menggempur pusat-pusat pertahanan armada kapal Marechausée Belanda yang akan berlabuh mendarat di pantai Pasai. Perang terus berkecamuk atas geladak kapal perang Belanda. Terlihat beberapa prajurit bertopi khas Aceh berlari menghampiri Teungku Pang Husen.
“Teungku Pang Husen!, armada tentara kafir Belanda hampir mendekati pelabuhan Pasai. Apa tindakan kita selanjutnya?,” salah seorang pasukan yang setia membela tanah Aceh tercinta melaporkan kepada Teungku Pang Husen bahwa Belanda hampir mendarat untuk menjajah tanah Aceh.
“Siapkan pasukan,”  kata Teungku Pang Husen.
“Kita pantang mundur walaupun tubuh berkalang tanah, siapapun yang gugur berjuang melawan penjajah Belanda adalah mati syahid,” seru Teungku Pang Husen memberikan semangat jihad membela agama Islam dan tanah leluhurnya Aceh yang berjuluk Serambi Mekkah.
Pang Husen adalah sosok pahlawan yang gagah berani dari tanah Aceh telah mempertaruhkan jiwa raganya demi negara tercinta. Pang Husen seorang pejuang Aceh yang gagah berani berperang mengusir penjajah Belanda dari tanah Aceh dan Indonesia. Pang Husen Husen bersama pasukannya terus bertahan walaupun perang yang tak seimbang. Pasukan Aceh yang bersenjata pedang dan rencong semangatnya terus berkobar melawan Belanda yang bersenjata bedil dan meriam. Namun semangat juang pasukan Aceh tetap berkobar tidak pernah padam untuk melindungi tanah Aceh dari serangan penjajah Marechausée Belanda. Pasukan Teungku Pang Husen terus berjuang dengan bergerilya masuk hutan, keluar hutan. Tidak pernah surut walaupun sejengkal tanah. Setiap saat terus menggempur menyerang pasukan patroli-patroli Belanda. Akhirnya pasukan Belanda pun merasa kualahan.
Bersama pasukannya, Teungku Pang Husen terus berjuang dengan lebih dahsyat. “Jangan biarkan Belanda lolos dari sergapan kita!” Kata pejuang muda belia itu dengan bersemangat. Mereka semakin gencar menyergap patroli-patroli Belanda. Sudah banyak korban dari pihak pasukan Belanda yang tewas di tangan Teungku Pang Husen dan pasukannya. Menghadapi keadaan itu, pasukan Belanda semakin takut terhadap pahlawan muda belia dari Tanah Rencong itu.
Namun, pada sebuah pertempuran, banyak pasukan Teungku Pang Husen yang gugur  di medan perang. Teungku Pang Husen dengan 45 pasukan yang tersisa berhasil meloloskan diri. “Kita lanjutkan perang dengan cara bergerilya,” perintah Teungku Pang Husen kepada pasukannya. Bersama pasukannya yang hanya memiliki 13 pucuk senjata, Teungku Pang Husen melanjutkan perang secara bergerilya.
Sudah banyak kerugian pemerintahan Belanda baik berupa pasukan yang tewas maupun materi diakibatkan perlawanan pasukan Teungku Pang Husen. Oleh karena itu, pihak Belanda selalu berusaha membujuknya agar menyerahkan diri. Namun Teungku Pang Husen tidak pernah tunduk terhadap bujukan yang terkesan memaksa tersebut.
Kekuatan yang tidak seimbang antara pasukan Belanda dan pasukan Teungku Pang Husen membuat banyak kerabat dan teman dekat Teungku Pang Husen mulai merasa cemas. Pihak Belanda terus mendesak mengusulkan agar ia menyerah dan meminta pengampunan kepada Belanda. Namun usulan itu ditolak mentah-mentah oleh Teungku Pang Husen. “Tidak!” jawabnya tegas,” Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan!”. Sejak pertama kali mengenal kata berjuang, Teungku Pang Husen telah menanamkan tekad “Takkan surut kaki melangkah hingga badan berkalang tanah”. Teungku Pang Husen tidak sedikitpun mengendurkan nyalinya dalam berjuang. Pada suatu hari tempat persembunyian Tengku Pang Husen tercium oleh Belanda. Belanda langsung mengerahkan pasukannya menyerbu tempat persembunyian itu. “Sekarang kau dan pasukanmu telah dikepung! Cepatlah menyerah!” teriak komandan pasukan Belanda. Namun, Teungku Pang Husen tetap menolak untuk takluk.
Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée Belanda di rimba Pasai, Teungku Pang Husen dan para pasukannya melarikan diri ke dalam hutan. Teungku Pang Husen kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju pedalaman rimba Pasai melewati hutan belantara. Namun pada suatu hari tahun 1894, Teungku Pang Husen bersama pasukannya bentrok dengan Marechausée Belanda di Desa Paya Bili. Dengan hanya bersenjata sebilah rencong dan pedang, ia maju paling depan untuk memimpin pasukannya. Dengan semangat membara Teungku Pang Husen menyerang, menebas dan menerjang lawan tanpa rasa gentar. Banyak pasukan Belanda yang tewas. Di tengah pertempuran, sebutir peluru menembus tubuh Teungku Pang Husen. Darah mengucur deras. Akhirnya, Teungku Pang Husen gugur di medan pertempuran sebagai pejuang dari tanah rencong. Dalam pertempuran itu Teungku Pang Husen gugur syahid pada usia 36 tahun dan belum sempat menikah.
Teungku Pang Husen dengan gagah berani membuktikan kecintaannya kepada nusa dan bangsanya. Ia membela dan memperjuangkan kedaulatan bangsa sampai titik darah penghabisan. Itulah yang dilakukan Teungku Pang Husen. Atas jasa-jasa yang tak ternilai harganya, sudah sepantasnya ia pun dijuluki sebagai pahlawan dari tanah Aceh.
Ia mati syahid sebagai seorang pejuang. “Kobarkan terus perjuangan! Mati satu tumbuh seribu!” Itulah kata terakhir Teungku Pang Husen sebelum menghembuskan nafas terakhir. Pang Husen bersama pasukannya gugur di medan perang ketika melawan Belanda yang waktu itu menjajah tanah Aceh. Pang Husen dengan tersisa sekitar 7 pasukan pantang mundur walau tubuh berkalang tanah demi anak cucunya. Itulah sosok Pang Husen pahlawan sejati yang telah bertempur sampai titik darah terakhir, syahid dan dikebumikan di salah satu makam pekuburan umum di Desa Paya Bili, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Pang Husen pahlawan sejati dari tanah Aceh. Pang Husen adalah pejuang tangguh yang telah syahid saat bertempur mengusir Belanda dari tanah Aceh
            Jika dipahami dan dimaknai dari namanya, Pang Husen memiliki kemiripan dengan nama suami Cut Nyak Meutia yaitu Pang Nanggroe sepeninggalan dari almarhum suami pertamanya Teungku Chik Di Tunong. Ataukah nama “Pang” merupakan gelar atau pangkat yang disandang patriot ini ? Pang Nanggroe dan Pang Husen jika disandingkan sepertinya tidak asing bagi rakyat Aceh, dua-duanya sebagai pahlawan sejati.
            Itulah sepenggal kisah leluhur kita yang terukir dengan tinta emas dalam catatan sejarah. Untuk menambah ragam sejarah yang dapat menginspirasi anak cucu kita. Betapa gagah beraninya para nenek moyang kita berjuang dengan semangat membara demi Agama Islam dan tanah air yang kita cintai. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa arwah Pang Husen sebagai pahlawan bangsa dan menempatkan di surga-Nya. Amin

Aceh Utara, 20 Mai 2017

Pesan Moral: Janganlah cepat menyerah dalam perjuangan apa pun. Sepanjang masih ada kesempatan gunakan untuk meraih hasil sebaik-baiknya. Semoga cita-cita dan semangat juang Teungku Pang Husen dapat menjadi contoh bagi generasi penerus bangsa.

Riwayat Penulis:
Hamdani Mulya nama pena dari Hamdani, S.Pd. adalah pengamat sejarah Aceh dan guru Bahasa Indonesia MAN Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.