Jumat, 09 November 2018

Cerpen Anak


Cerpen

BERKUNJUNG KE RUMAH CUT NYAK MEUTIA SRIKANDI DARI ACEH
Foto: Keisha Elsria Mulya

Karya Keisha Elsria Mulya

Teman-teman, kamu pernah berkunjung ke Aceh enggak sih? Soalnya, di Aceh banyak sekali tempat wisata bersejarah seperti Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang selamat dari amukan tsunami tahun 2004 lalu, kamu juga dapat melihat museum rumah Aceh yang indah dengan ukiran motif khas daerah berjuluk Serambi Mekkah. Jika kamu jalan-jalan ke Aceh kamu juga dapat berkunjung ke monumen Kapal Apung, sebuah monumen tsunami berupa sebuah kapal nelayan yang tersangkut kandas di atap rumah warga Banda Aceh saat tsunami. Sambil kamu menikmati mie Aceh dan kopi arabika Gayo yang sangat lezat dan gurih.
Oh ya, teman-teman liburan tahun ini saya mengajak ayah dan ibu saya berwisata ke rumah Cut Nyak Meutia pahlawan nasional dari Aceh. Oh ya, kamu tahu enggak siapa Cut Nyak Meutia itu? Gambar Cut Nyak Meutia sering kita lihat ditempel di dinding sekolahmu yang disandingkan bersama foto pahlawan lain, seperti foto Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar dari Meulaboh yang memiliki taktik perang gerilya.
Cut Nyak Meutia lahir hampir satu setengah abad yang lalu di Pirak Timu, Aceh Utara. Cut Nyak Meutia putri dari Ulee Balang Pirak, ayahnya Teuku Ben Daud seorang tokoh terkemuka yang menentang upaya Belanda menjajah Aceh.
Hari itu, matahari bersinar begitu cerah pukul 08.00 WIB. Hari minggu pagi saya bersama adik saya yang bernama Qais Zhafran Mulya, sudah bersiap-siap. Kami sudah memakai baju kesukaan masing-masing. Adik saya yang akrab disapa Qais si ganteng yang doyan makan, tidak pernah lupa dengan kacamata hitam kesayangannya. Ayah saya memakai baju adat Aceh yang layaknya seperti baju Teuku Umar, karena ayah saya sangat mencintai sejarah pahlawan. Dengan menumpangi kendaraan roda dua kami pun melaju menempuh jalan yang berliku dan berbelok-belok. Setelah beberapa jam kemudian kami pun tiba di rumah Cut Nyak Meutia pahlawan yang bergelar srikandi dari Aceh. Setelah melewati perkampungan dan persawahan yang indah. Kendaraan kami pun berhenti di depan rumah Cut Nyak Meutia. Tiba-tiba, ayahku berkata “Anakku inilah rumah pahlawan kita Cut Nyak Meutia,” Ayahku menunjuk ke arah rumah Cut Nyak Meutia.
Saya dan adik merasa terkagum-kagum. Melihat sebuah rumah yang sangat indah dan besar, bermotif ukiran Aceh. Ayahku bercerita sambil melihat-lihat rumah Cut Nyak Meutia yang berbentuk panggung itu.
Ayah berpesan “Annakku bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan.” Nasehat ayahku akan selalu aku ingat. Salah satu cara untuk menghargai jasa para pahlawan adalah dengan belajar yang rajin dan tekun. Begitulah cara mengisi kemerdekaan dengan berprestasi.
Di depan rumah Cut Nyak Meutia berdiri tegak tiang bendera seperti tegaknya jiwa pahlawan yang rela dibakar terik mata hari demi negara tercinta. Bendera merah putih berkibar melambai-lambai kepada kami seperti hendak berkata “Selamat datang para pecinta pahlawan di rumah wanita pejuang, ibu bangsa kita Cut Nyak Meutia.”
Lalu saya bersama keluarga saya masuk ke rumah yang menjadi saksi sejarah dimana Cut Nyak Meutia dilahirkan. Rumah tersebut terdapat bagian-bagian seperti serambi depan dan serambi belakang. Serta memiliki ruang tengah yang disebut reumoh inong, sebuah ruang yang dikhususkan untuk kaum wanita. Rumah Cut Nyak Meutia berbentuk seperti rumah adat Aceh secara umum. Rumah ini memiliki tujuh anak tangga.
Di dinding rumah ini terpasang berbagai foto dan gambar lukisan sejarah perang Aceh. Tampak beberapa foto perang ketika penjajah Belanda menyerbu daerah Pasai. Juga terdapat beberapa lukisan wajah Cut Nyak Meutia berukuran besar dipajang di dinding rumah. Membangkitkan semangat para pengunjung untuk terus mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih oleh para pahlawan.
Hari itu tampak ratusan pengunjung berlalu lalang melihat-lihat suasana rumah Cut  Nyak Meutia, ada para pemerhati sejarah, siswa, dan mahasiswa. Bahkan para wisatawan pun ikut berkunjung kerumah Cut Nyak Meutia.
Di bagian serambi depan rumah terlihat sebuah foto besar dokumentasi perang Aceh. Tiba-tiba ayah saya bertanya “Wahai anak-anak, tahukah kamu foto siapakah itu?”
“Saya tidak mengenali wajah yang ada di foto itu Ayah,” jawab saya.
“Oo, itu foto Raja Sabi wahai anak-anakku, Raja Sabi adalah anak kesayangan Cut Nyak Meutia satu-satunya.” Jelas Ayah menjelaskan panjang lebar.
Ya, itulah Raja Sabi putra dari Teungku Chiek Ditunong suami Cut Nyak Meutia. Raja Sabi seorang putra pejuang yang sejak berusia sekitar 5 tahun sering masuk-keluar hutan menemani ibunya bergerilya mengusir penjajah Belanda dari negeri tercinta.
Setelah beberapa jam di dalam rumah Cut Nyak Meutia, saya dan keluarga ke luar menuju arah kiri rumah. Di situ terdapat sebuah lumbung padi yang dalam bahasa Aceh disebut kroeng pade dan disampingnya terdapat beberapa buah jeungki. Jeungki merupakan alat penumbuk padi dan tepung, teknologi tradisional masyarakat Aceh. Beberapa meter ke arah kiri lumbung padi terdapat sebuah balai kecil. Di balai tersebut sering digelar pengajian dan doa bersama untuk mengenang jasa arwah para pahlawan yang telah mendahului kita. Karena rumah Cut Nyak Meutia juga sering dikunjungi penziarah dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional. Di kiri dan kanan rumah juga ditanami pepohonan yang indah dan rindang.
Hari pun sudah siang, saya dan keluarga saya pun akhirnya mengakhiri liburan kali ini dengan makan siang bersama. Ibu saya membawa menu kesukaan kuah pliek u, menu khas tradisional Aceh dengan lauk ikan panggang. Setelah shalat zuhur berjamaah saya dan keluarga saya pun bertolak kembali ke kampung halaman. Sungguh indah perjalan liburan tahun ini. Selain dapat melihat pemandangan alam yang indah, juga dapat ilmu pengetahuan pelajaran sejarah. Ayo, mari kita selalu mengisi hari-hari kita dengan belajar. Bahkan sambil bermain pun kita harus menjadikannya sebagai pelajaran. Seperti yang saya lakukan. Belajar sambil bermain, bermain mengenal sang pahlawan Cut Nyak Meutia. Dengan meneladani pahlawan, berarti kita meneruskan perjuangan. Selamat meneruskan perjuangan Cut Nyak Meutia: Perempuan, Pejuang, dan Pahlawan.
                      Aceh Utara, 31 Oktober 2018

Naskah Cerpen ini meraih juara harapan dua lomba menulis Cerpen bagi siswa SD/MI yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Utara pada 31 Oktober 2018.

Riwayat Singkat Penulis
Keisha Elsria Mulya lahir di Aceh Utara 18 Oktober 2008. Keisha merupakan siswa berprestasi MIN 7 Aceh Utara. Ia sering mengikuti berbagai lomba untuk mengasah kemampuan serta bakat yang ia miliki. Di sekolahnya ia sering masuk dalam juara peringkat kelas. Keisha memperdalam ilmu tentang menulis cerpen kepada ayahnya Hamdani Mulya seorang penulis buku dan pegiat literasi.
Foto: Keisha Elsria Mulya
Penulis Cerpen





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.