Sabtu, 13 Januari 2018
Jumat, 19 Mei 2017
Cerpen Indonesia
Cerpen
TEUNGKU PANG HUSEN PAHLAWAN
MUDA BELIA DARI RIMBA PASAI
MUDA BELIA DARI RIMBA PASAI
Oleh Hamdani Mulya
![]() |
| Gambar ilustrasi: Teungku Pang Husen (1858-1894) |
Teungku Pang Husen adalah pahlawan
dari Aceh atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Tanah Rencong. Ia lahir tahun 1858. Teungku Pang Husen
merupakan salah satu dari sekian banyak keluarga pejuang yang pernah dimiliki
Aceh, yang juga terkenal dengan julukan Serambi Mekkah. Sejak kecil Teungku Pang Husen dididik ilmu
agama oleh banyak ulama. Bahkan ayahnya sendiri adalah salah satu dari sekian
banyak guru agama yang pernah mengajarnya.
Teungku Pang Husen tumbuh sebagai
seorang pemuda gagah yang tampan
rupawan. Saat itu tanah Aceh sedang berada dalam bahaya. Para pejuang Aceh
sekuat tenaga berusaha mengusir penjajah Belanda. Teungku Pang Husen terpanggil untuk
berjuang di medan laga bersama sahabat-sahabatnya.
“Kita harus berjuang mengusir penjajah!,” demikian tekad Teungku Pang Husen. Sejak itulah
mereka keluar masuk hutan untuk bertempur dan melawan Belanda. Perlakuan Belanda
yang semena-mena dengan berbagai pemaksaan dan penyiksaan akhirnya menimbulkan
perlawanan dari rakyat.
Angin berhembus membelai wajah-wajah lelah di tepi pantai
Samudra Pasai, Aceh. Pasukan Laskar Tanah Rencong masih menggempur pusat-pusat pertahanan
armada kapal Marechausée Belanda
yang akan berlabuh mendarat di pantai Pasai. Perang terus berkecamuk atas
geladak kapal perang Belanda. Terlihat beberapa prajurit bertopi khas Aceh
berlari menghampiri Teungku Pang Husen.
“Teungku Pang Husen!, armada tentara kafir Belanda hampir
mendekati pelabuhan Pasai. Apa tindakan kita selanjutnya?,” salah seorang
pasukan yang setia membela tanah Aceh tercinta melaporkan kepada Teungku Pang
Husen bahwa Belanda hampir mendarat untuk menjajah tanah Aceh.
“Siapkan pasukan,”
kata Teungku Pang Husen.
“Kita pantang mundur walaupun tubuh berkalang tanah, siapapun
yang gugur berjuang melawan penjajah Belanda adalah mati syahid,” seru Teungku Pang
Husen memberikan semangat jihad membela agama Islam dan tanah leluhurnya Aceh
yang berjuluk Serambi Mekkah.
Pang Husen adalah sosok pahlawan yang gagah berani dari tanah
Aceh telah mempertaruhkan jiwa raganya demi negara tercinta. Pang
Husen seorang pejuang Aceh yang gagah
berani berperang mengusir penjajah Belanda dari tanah Aceh dan Indonesia. Pang Husen Husen bersama pasukannya terus
bertahan walaupun perang yang tak seimbang. Pasukan Aceh yang bersenjata pedang
dan rencong semangatnya terus berkobar melawan Belanda yang bersenjata bedil
dan meriam. Namun semangat juang pasukan Aceh tetap berkobar tidak pernah padam
untuk melindungi tanah Aceh dari serangan penjajah Marechausée Belanda. Pasukan Teungku Pang Husen terus
berjuang dengan bergerilya masuk hutan, keluar hutan. Tidak pernah surut
walaupun sejengkal tanah. Setiap saat terus menggempur menyerang pasukan
patroli-patroli Belanda. Akhirnya pasukan Belanda pun merasa kualahan.
Bersama pasukannya, Teungku Pang Husen terus berjuang dengan lebih dahsyat. “Jangan
biarkan Belanda lolos dari sergapan kita!” Kata pejuang muda belia itu
dengan bersemangat. Mereka semakin gencar menyergap patroli-patroli Belanda.
Sudah banyak korban dari pihak pasukan Belanda yang tewas di tangan Teungku Pang Husen dan pasukannya. Menghadapi keadaan itu,
pasukan Belanda semakin takut terhadap pahlawan muda belia dari Tanah Rencong itu.
Namun, pada
sebuah pertempuran, banyak pasukan Teungku Pang Husen
yang gugur di medan perang. Teungku Pang Husen dengan 45
pasukan yang tersisa berhasil meloloskan diri. “Kita lanjutkan perang dengan
cara bergerilya,” perintah Teungku Pang
Husen kepada pasukannya. Bersama pasukannya yang hanya memiliki 13 pucuk
senjata, Teungku Pang Husen
melanjutkan perang secara bergerilya.
Sudah banyak
kerugian pemerintahan Belanda baik berupa pasukan yang tewas maupun materi
diakibatkan perlawanan pasukan Teungku
Pang Husen. Oleh karena itu,
pihak Belanda selalu berusaha
membujuknya agar menyerahkan diri. Namun Teungku Pang Husen tidak pernah tunduk terhadap bujukan yang
terkesan memaksa tersebut.
Kekuatan yang
tidak seimbang antara pasukan Belanda dan pasukan Teungku Pang Husen membuat banyak kerabat
dan teman dekat Teungku Pang Husen
mulai merasa cemas. Pihak Belanda
terus mendesak mengusulkan agar ia menyerah dan meminta pengampunan kepada Belanda. Namun usulan itu
ditolak mentah-mentah oleh Teungku
Pang Husen. “Tidak!” jawabnya tegas,” Aku akan berjuang sampai titik
darah penghabisan!”. Sejak pertama kali mengenal kata berjuang, Teungku Pang Husen telah menanamkan tekad “Takkan surut kaki melangkah hingga
badan berkalang tanah”. Teungku Pang
Husen tidak sedikitpun mengendurkan nyalinya dalam berjuang. Pada suatu
hari tempat persembunyian Tengku
Pang Husen tercium oleh Belanda. Belanda langsung mengerahkan pasukannya
menyerbu tempat persembunyian itu. “Sekarang kau dan pasukanmu telah dikepung!
Cepatlah menyerah!” teriak komandan pasukan Belanda. Namun, Teungku Pang Husen tetap menolak untuk
takluk.
Pada suatu
pertempuran dengan Korps Marechausée Belanda di rimba Pasai,
Teungku Pang Husen dan para pasukannya melarikan diri ke dalam
hutan. Teungku Pang Husen kemudian bangkit
dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan
merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju pedalaman rimba Pasai melewati hutan
belantara. Namun pada suatu hari
tahun 1894, Teungku Pang Husen bersama
pasukannya bentrok dengan Marechausée Belanda di Desa Paya Bili.
Dengan hanya bersenjata sebilah rencong dan pedang, ia maju paling depan untuk
memimpin pasukannya. Dengan semangat
membara Teungku Pang Husen menyerang, menebas dan menerjang lawan tanpa rasa
gentar. Banyak pasukan Belanda yang tewas. Di tengah pertempuran, sebutir
peluru menembus tubuh Teungku Pang
Husen. Darah mengucur deras. Akhirnya, Teungku Pang Husen gugur di medan pertempuran sebagai pejuang dari
tanah rencong. Dalam pertempuran itu Teungku Pang Husen gugur syahid pada usia 36 tahun dan belum
sempat menikah.
Teungku Pang Husen dengan gagah
berani membuktikan kecintaannya kepada nusa dan bangsanya. Ia membela dan
memperjuangkan kedaulatan bangsa sampai titik darah penghabisan. Itulah yang
dilakukan Teungku Pang Husen.
Atas jasa-jasa yang tak ternilai harganya, sudah sepantasnya ia pun dijuluki sebagai pahlawan dari tanah Aceh.
Ia mati
syahid sebagai seorang pejuang. “Kobarkan terus perjuangan! Mati satu tumbuh
seribu!” Itulah kata terakhir Teungku
Pang Husen sebelum menghembuskan
nafas terakhir. Pang Husen bersama pasukannya gugur di medan
perang ketika melawan Belanda yang waktu itu menjajah tanah Aceh. Pang Husen
dengan tersisa sekitar 7 pasukan pantang mundur walau tubuh berkalang tanah
demi anak cucunya. Itulah sosok Pang Husen pahlawan sejati yang telah bertempur
sampai titik darah terakhir, syahid dan dikebumikan di salah satu makam pekuburan umum di Desa Paya Bili, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten
Aceh Utara, Provinsi Aceh. Pang Husen pahlawan sejati dari tanah Aceh. Pang
Husen adalah pejuang tangguh yang
telah syahid saat bertempur mengusir Belanda dari tanah Aceh
Jika dipahami dan dimaknai dari
namanya, Pang Husen memiliki kemiripan dengan nama suami Cut Nyak Meutia yaitu
Pang Nanggroe sepeninggalan dari almarhum suami pertamanya Teungku Chik Di
Tunong. Ataukah nama “Pang” merupakan gelar atau pangkat yang disandang patriot
ini ? Pang Nanggroe dan Pang Husen jika disandingkan sepertinya tidak asing
bagi rakyat Aceh, dua-duanya sebagai pahlawan sejati.
Itulah sepenggal kisah leluhur kita
yang terukir dengan tinta emas
dalam catatan sejarah. Untuk
menambah ragam sejarah yang dapat menginspirasi anak cucu kita. Betapa gagah
beraninya para nenek moyang kita berjuang dengan semangat membara demi Agama
Islam dan tanah air yang kita cintai. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa arwah Pang Husen sebagai
pahlawan bangsa dan menempatkan di surga-Nya. Amin.
Aceh Utara, 20 Mai 2017
Pesan Moral:
Janganlah cepat menyerah dalam perjuangan apa pun. Sepanjang masih ada
kesempatan gunakan untuk meraih hasil sebaik-baiknya. Semoga cita-cita dan
semangat juang Teungku Pang Husen dapat menjadi
contoh bagi generasi penerus
bangsa.
Riwayat Penulis:
Hamdani Mulya nama pena dari Hamdani, S.Pd. adalah pengamat sejarah Aceh dan guru Bahasa Indonesia MAN
Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.
Rubrik: BAHASA, SASTRA, SEJARAH, ULAMA
SASTRA
Senin, 27 Maret 2017
Museum Islam Samudra Pasai Aceh Utara
![]() |
| Penulis: Hamdani, S.Pd. |

MUSEUM ISLAM SAMUDRA PASAI
![]() |
| Foto: Museum Islam Samudra Pasai Aceh Utara Fotografer: Hamdani Mulya |
“Kerajaan Samudra Pasai adalah Kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Sejak berdirinya pada tahun 1297 M, di bawah kepemimpinan Sultan Malikussaleh,
kerajaan ini pernah berperan sebagai pusat kegiatan Politik, Ekonomi,
Perdagangan dan Penyiaran Agama Islam ke Nusantara bahkan Asia Tenggara. Pada
zaman Kerajaan Samudra Pasai dikenal Direuham (Dirham) yang merupakan mata uang
terbuat dari emas. Dalam catatan sejarah beberapa tokoh petualang dunia seperti
Ibnu Batutah, Marcopolo, dan Laksamana Ceng Ho pernah berkunjung ke Samudra.
Bukti-bukti arkeologi berupa Makam Kesultanan Kerajaan Samudra Pasai banyak
ditemukan di sini, diantaranya Makam Sultan Malikussaleh, Sultan Malikuldhahir,
dan Sultan Nahrisyah.” Itulah isi sebuah deskripsi yang tertulis pada monumen
yang terdapat di sebelah utara Museum Islam Samudra Pasai sebagai bukti
kegemilangan Kerajaan Islam Samudra Pasai.
![]() |
| Foto: Deskripsi Kerajaan Samudra Pasai |
Samudra
Pasai merupakan Pusat Peradaban Islam Asia Tenggara. Masuknya Islam pertama
kali ke nusantara adalah ke Kerajaan Samudra Pasai, Aceh. Dalam sejarah
peradaban dunia terukir dengan tinta emas bahwa Kerajaan Samudra Pasai
merupakan kerajaan yang gemilang dengan denyut syiar Islam. Kerajaan Islam
Samudra Pasai juga kerajaan yang gemilang dengan kemasyhuran kekayaan alam. Hal tersebut diakui oleh Ibnu Batutah seorang
penjelajah asal Maroko dalam catatan perjalanan lawatannya ke Samudra Pasai.
Demikian pun penjelajah dari dunia barat Marcopolo sangat berkesan dengan
lawatannya ke Samudra Pasai bahwa ia melihat masyarakat Samudra Pasai yang
ramah tamah. Sudah sepatutnya Samudra Pasai dijuluki dan dinobatkan sebagai
Pusat Islam Pertama Asia Tenggara, karena di sini Islam lebih dulu masuk dan
berkembang pesat.
![]() |
| Foto: Monumen Samudra Pasai |
Untuk mengenang kembali kegemilangan Kerajaan Samudra Pasai
pemerintah Kabupaten Aceh Utara membangun sebuah museum yang diberi nama Museum Islam Samudra Pasai.
Museum yang dibangun oleh pemerintah tersebut
berlokasi di Desa Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara patut
diapresiasikan. Sebagai upaya pelestarian Sejarah Kebudayaan Islam. Museum ini
dibangun di areal pusat jejak Kerajaan Islam Samudra Pasai, kerajaan yang
pernah berjaya dengan kegemilangan Islam dan kemasyhuran ilmuan muslim. Di
kerajaan Samudra Pasai denyut syiar Islam berkembang pesat banyak melahirkan
ulama besar, cendekiawan, sastrawan, ilmuan muslim pun bertabur laksana mutiara
di istana raja. Harapannya dengan didirikan museum ini agar dapat mengoleksi
kitab-kitab karya ulama, buku sastra seperti hikayat, buku sejarah, benda-benda bersejarah, bukti-bukti arkeologi, dan manuskrip
yang berkaitan dengan Kerajaan Samudra Pasai. Ini adalah salah satu upaya
mengulang kembali kegemilangan Aceh dengan literatur keilmuan. Di jejak
kerajaan ini juga telah dibangun Monumen Samudra Pasai yang lokasinya tidak
jauh dari museum. Tentunya langkah bijaksana itu harus disambut dengan gembira
oleh masyarakat Aceh dan Nusantara. (Penulis Hamdani, S.Pd. Guru MAN Lhokseumawe
dan Pengamat Sejarah Aceh).
![]() |
| Foto: Pengunjung Museum Islam Samudra Pasai |
Rubrik: BAHASA, SASTRA, SEJARAH, ULAMA
SEJARAH
Rabu, 25 Januari 2017
Tgk.H.Usman Ishaq (Abon Usman Nudi) Ulama Aceh dalam Sejarah
ABON USMAN NUDI ULAMA AHLI TAUHID DAN FIKIH TELAH BERPULANG KE RAHMATULLAH
![]() |
| Tgk. H. Usman Ishaq (Abon Uman Nudi) |
Meninggalnya ulama laksana padamnya lampu di permukaan bumi. Abon Usman Nudi yang bernama lengkap Tgk. H. Usman Ishaq merupakan pimpinan dayah Nahrul Ulum Diniyah Islamiyah (Nudi), Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Beliau berpulang menghadap Sang Khalik, Allah Yang Maha Pencipta, pada hari Senin, 16 Januari 2017. Di kediamannya di desa Nga, Simpang 4, Jl. Line Pipa/ Sp Nudi. Selamat jalan guru kami dan guru umat. Semoga Allah menempatkan guru kami di surga-Nya yang indah. Amin.
Ribuan masyarakat dari kalangan muridnya maupun rakyat berdatangan dari berbagai penjuru. Untuk melaksanakan shalat jenazah kepada guru umat Abon Usman Nudi. Beliau merupakan ulama kharismatik alumni dayah Budi Lamno berguru kepada Tgk. Ibrahim Budi Lamno. Ulama yang sangat berwibawa dan dihormati oleh semua kalangan. Kepergian beliau secara tiba-tiba tidak dilalui dengan sakit yang parah meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat Kec. Meurah Mulia dan Aceh secara umum. Shalat jenazah selesai dilaksanakan hampir menjelang magrib. Bahkan pelayat ada yang melaksanakan shalat magrib di kediaman ulama ahli tauhid dan fikih tersebut. Aroma wangian juga tumpah menusuk hidung. Semoga ini jadi pertanda bahwa beliau merupakan ulama yang dicintai dan dirahmati oleh Allah. Amin.
Bagaikan hilir air doa terus mengalir mengiringi kepergian Abon Usman Nudi. Bahkan pada malam hari hampir seribuan masyarakat terus berkunjung ke rumah duka. Di Sp Jl. Line Pipa/Sp Nudi, Meurah Mulia, Aceh Utara. Tamu yang melakukan tahlilan datang dari berbagai penjuru. Mulai dari kalangan santri, ulama, pejabat, MPU, bahkan beberapa anggota DPRK ikut melayat dan melantunkan doa untuk almarhum sebagai syaikhul Islam. Beberapa mantan pejabat juga terlihat pada malam hari seperti Drs. Tgk. H. Daud Hasbi (Abi Daud) mantan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Utara, Tgk. Marhaban Habibi anggota DPRK Aceh Utara, kalangan akademisi Tgk. Husnaini Hasbi, MA. dosen IAIN Malikussaleh, pejabat pemerintah maupun swasta, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
Kepergian ulama Aceh tersohor Abon Usman Nudi yang juga adik ipar dari Drs. H. Daud Hasbi, M.Ag. (Abi Daud Hasbi) mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Utara membuat seluruh rakyat Aceh kehilangan sang panutan. Beliau merupakan sosok teladan yang sudah puluhan tahun mengabdi mengajarkan umat di pesantren yang dipimpinnya. Mewariskan ratusan murid. Sejak kepergian beliau menghadap Sang Khalik sekitar seribuan masyarakat datang melayat kerumah duka. Tampak para pejabat, muspika, dan berbagai kalangan terlihat menghadiri rumah duka. Suasana di kediaman rumah duka Syaikhul Islam Abon Usman Nudi terlihat ramai.
"Jika manusia tidak punya ilmu agama Islam, maka manusia akan sesat. Ilmu agama sangat penting dalam mengarungi hidup di dunia dan akhirat." Itulah beberapa pesan yang masih saya ingat ketika menjadi murid Abon Usman.ALUMNI DAYAH NUDI TURUT BERDUKA CITA DAN DOA BERSAMA UNTUK ALMARHUM ABON USMAN NUDI
Semenjak berpulangnya ke Rahmatullah Tgk. H. Usman bin Ishaq ulama kharismatik yang akrab disapa Abon Usman Nudi pada Senin, 16 Januari 2017. Tamu terus berdatangan melayat ke rumah duka untuk berdoa, berzikir, maupun membaca Al-Qur'an. Semoga menjadi amal tambahan bagi almarhum. Begitu juga kalangan santri murid Abon Usman yang bernaung di bawah panji persatuan para Alumni Dayah Nudi.
"Saya merasa sangat kehilangan atas kepergian beliau," ungkap salah seorang alumni Tgk. Lukman Husen.
Sementara itu alumni yang sepuh Tgk. Abdurrahman juga menghimbau dan mengharapkan kepada seluruh alumni untuk turut hadir dalam acara duka ini, untuk membantu apa saja yang mampu selama hari-hari duka.
"Kami seluruh alumni dayah Nudi sangat kehilangan Abon Usman sosok teladan dan panutan umat, beliau guru saya yang sangat saya cintai," pesan Tgk. Hamdani, S.Pd. juru bicara alumni yang juga penulis yang akrab dengan wartawan dan awak media ini.
"Kabar duka ini juga sudah kami sampaikan melalui media sosial dan media online lainnya untuk diketahui oleh para alumni," sambung Tgk. Hamdani.
Menurut pengamatan selama ini alumni dayah Nudi sudah tersebar di berbagai penjuru di berbagai profesi ada yang menjadi ulama muda, pendakwah, guru pengajian, menjadi dosen, bahkan banyak yang bekerja sebagai PNS maupun swasta. (Berita Dokumentasi Alumni Dayah Nudi. Penulis Tgk. Hamdani, S.Pd. Juru Bicara Alumni Dayah Nudi, Murid Abon Usman Nudi, dan Guru MAN Lhokseumawe).
![]() |
| Abon Usman Nudi bersama Tgk. Mulyadi M. Jamil |
![]() |
| Abon Usman Nudi bersama muridnya Tgk. Aiyub |
Rubrik: BAHASA, SASTRA, SEJARAH, ULAMA
ULAMA ACEH
Minggu, 14 Agustus 2016
Puisi Indonesia Karya Ali Hasjmy
Puisi Ali Hasjmy
Menyesal
Karya Ali Hasjmy
Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju arah padang bakti
Wanita Bermata Rencong
Rawatlah Hutan Kita
Karya Keisha Elsria Mulya
Hutan adalah paru-paru dunia
Menyesal
Karya Ali Hasjmy
Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju arah padang bakti
![]() |
| Prof. Ali Hasjmy |
Biografi Ali Hasjmy
Profesor Ali Hasjmy (dibaca Ali Hasyimi) adalah seorang ulama yang sastrawan. Ali Hasjmy adalah penulis produktif, bapak bahasa dan sastra Asia Tenggara. Ali Hasjmy adalah putra terbaik bangsa Indonesia pada masa hidupnya. Sampai kini karyanya masih dibaca dan menjadi rujukan pembelajaran di sekolah-sekolah. Bukunya yang terkenal antara lain Semangat Merdeka terbitan Bulan Bintang, Jakarta.
Puisi
Ramadhan
Karya Hamdani Mulya
Serupa kapal
Ramadhan datang setahun sekali
Siapa yang naik, maka akan membawanya
Ke dermaga takwa
Penumpangnya adalah
hamba-hamba-Nya yang shaleh
Tiketnya menahan hawa nafsu dan amarah
Siapa saja yang tidak menumpang
Kapal Ramadhan akan pergi
Maka rugilah hamba ini
yang tidak mau menumpangnya
Karena kapal ini hanya berlayar setahun sekali
Jika tidak dirimu naik ke kapal ini
Maka dirimu akan berenang ke muara tepian dosa
Dirimu akan terhanyut dibawa gelombang sengsara
Jika tak sanggup berenang, karena dirimu tak
latihan
Maka tenggelamlah dirimu ke jurang neraka
Ayo naiklah kapal Ramadhan untuk berlabuh
ke dermaga ampunan Allah Yang Maha Penyayang
lalu ditempatkan di taman Surga
Aceh Utara, 26 Juli 2016
Ibuku yang Anggun Cut Nyak Dhien
Karya Hamdani Mulya
Rinduku pada ibu
Laksana gerahku mata air
Mengumbar selaksa cinta
Yang aku tanam lewat
Curahan kasihmu di igauwanku
Betapa aku telah jadi
bara kagum padamu ibu
Dalam detak jantung adalah
doa untukmu
Biarkan cinta yang anggun
berpayung sutra
dan cinta pun berlabuh
di tanah airku
Dengan Rahmat Allah
Tanah airku merdeka
Aku anakmu yang selalu bersenandung
Merdeka di setiap jengkal tanahmu
Ibuku yang anggun “Cut Nyak Dhien”
Aku merindukanmu di hamparan
Ali Hasyimi, Telah berbuah budi
cinta yang engkau taburi
Di negeri ini cinta telah berbuah budi
Api terpadam air
Di sini aku rindu ibuku “Cut Nyak Dhien”
Aceh Utara, 26
Juni 2016
Wanita Bermata Rencong
Karya Hamdani Mulya
Wanita bermata
rencong
Laksamana
Malahayati
Adalah perempuan
perkasa
Dari negeri Blang
Padang
Berselempang
pedang
Bersemangat baja
Wanita bermata
rencong
Laksamana
Malahayati
Adalah perempuan
gagah
Dari Serambi
Mekkah
Berpeluh memeluk
senjata
Belanda kalang
kabut
Penjajah lari
takut
Laksamana
Malahayati
Indonesia ini negerimu
Kini bersulam
bahagia
Merah putih berkibar-kibar
Indah warnanya
Sumbok Rayeuk, Aceh Utara, 26 Juni 2016
![]() |
| Hamdani Mulya |
Biografi Hamdani Mulya
Hamdani,
S.Pd. dengan nama pena Hamdani Mulya. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah
Mulia, Kab. Aceh Utara pada 10 Mai 1979 dari pasangan Tgk. Ibrahim Pmtoh dan
Ummi Manauwiah. Alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP,
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Menulis puisi dan artikel pendidikan di beberapa majalah dan surat kabar.
Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta,
Santunan Jadid, Warta Unsyiah, Seumangat BRR, Meutuwah Diklat, Khazanah,
Jurnal Al-Huda, dan di beberapa website (blog) internet seperti:
http://hamdanimulya.blogspot.com.
Puisinya juga terkumpul bersama penyair Aceh
lainnya dalam antologi puisi Dalam
Beku Waktu tahun 2002. Puisi Hamdani Mulya yang berjudul “Rindu dalam Damai di Bawah Payung Cinta” menjadi puisi favorit bagi juri dalam
acara lomba menulis puisi “Damai dalam Sastra” yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan
Mahasiswa Unsyiah dan menjadi puisi kategori puisi terbaik juara I tahun 2003.
Pada tahun 2008 Pak Hamdani, panggilan akrab penulis kota Belahan Sungai Lhokseumawe ini menjadi
wartawan tetap surat kabar mingguan Haba
Rakyat. Sejak tahun 2006 sampai sekarang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dan bertugas sebagai guru Bahasa Indonesia di MAN kota Lhokseumawe.
Kadang-kadang mengasuh mata kuliah yang sama di STAIN Malikussaleh berstatus
sebagai dosen luar biasa dari tahun
2005 sampai tahun 2011.
Buah pikirannya tentang sastra, bahasa, dan
pendidikan juga menjadi bahan rujukan skripsi mahasiswa STAIN. Pada tahun 2005
Hamdani Mulya diundang oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah,
Depdiknas. Untuk ikut serta dalam seminar nasional guru
seluruh Indonesia di Bogor. Karena cerpennya yang berjudul “Nahkoda Pelabuhan
Air Mata” masuk dalam finalis lomba mengarang cerpen tingkat nasional. Di ajang
inilah ia berguru dan belajar menulis puisi beberapa saat kepada sastrawan
nasional terkemuka Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri.
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) lain yang pernah diikutinya yaitu: Diklat Penyiaran
Radio Baiturrahman FM di Banda Aceh tahun 2002, Diklat Guru Bidang Studi Bahasa
Indonesia di Medan tahun 2006, Diklat Pra Jabatan PNS di Sigli tahun 2006, dan Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) di Lhokseumawe tahun 2007.
Hamdani juga telah membacakan beberapa puisi yang
ditulisnya di beberapa kota seperti Lhokseumawe, Sigli, Banda Aceh, dan Medan. Kumpulan puisinya yang berjudul “Mengeja Alamat” dibacakan di radio
Multi Suara FM Lhokseumawe dan puisinya “Syair Orang Sehat” dibacakan di Radio
Republik Indonesia Lhokseumawe. Di samping menjadi guru dan dosen kadang-kadang
juga menjadi juri lomba menulis puisi dan cerpen tingkat siswa di Lhokseumawe. Hamdani
adalah penulis buku Cerdas Berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh
Unimal Press Lhokseumawe tahun 2011.
Puisi
Karya Keisha Elsria Mulya
Hutan adalah paru-paru dunia
Rawatlah hutan kita, Ayo kita jaga bersama
Hutan adalah warisan bagi anak cucu kita
Di negeri merah putih tercinta
Janganlah pohon kau tumbangkan
Lalu kebakaran merusak hutan kita
Asap membumbung, polusi meraung
Luka menganga, rusak paru-paru manusia
Semai Benih Pohon
Karya Keisha Elsria Mulya
Mari kita semai benih pohon itu
Pohon yang kita rindu
mekar di taman bangsa
mekar di taman bangsa
Mari kita tanam pohon lagi
Pohon jati dan cemara
Juga bunga mekar seperti melati
Juga bunga bangsa
Aceh Utara, 25 Juni 2016
![]() |
| Keisha Elsria Mulya |
Biografi Keisha Elsria Mulya
Keisha Elsria
Mulya lahir pada tanggal 18 Oktober 2008 di Aceh Utara. Siswa kelas III MIN
Sumbok, Kec. Nibong, Aceh Utara ini gemar ikut lomba mewarnai dan pernah meraih
juara 1 lomba membaca doa sehari-hari pada kegiatan Ramadhan pada tahun 2016. Di kelas sering mendapat
peringkat 1 dan 5 besar. Keisha panggilan akrab siswa ini suka belajar menulis
puisi bersama ayahnya Hamdani Mulya dan gemar menghafal dan membaca.
Rubrik: BAHASA, SASTRA, SEJARAH, ULAMA
SASTRA
Jumat, 12 Agustus 2016
Tsunami dan Perdamaian dalam Rekaman Puisi
TSUNAMI DAN
PERDAMAIAN
DALAM REKAMAN PUISI
Oleh Hamdani, S.Pd.
Guru MAN Lhokseumawe
Oleh Hamdani, S.Pd.
Guru MAN Lhokseumawe
1. Tsunami dalam
Rekaman Puisi
“Tsunami Begitu Elok Namamu“, demikianlah
sebuah puisi yang berjudul begitu apik, namun tak seelok namanya, amuk tsunami
mengerikan. Sebuah puisi yang ditulis oleh Damiri Mahmud bercerita tentang
tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 yang terkumpul dalam antologi
puisi Lagu Kelu, diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh (ASA) tahun
2005. Puisi selain bagian dari genre (jenis) sastra ternyata juga menjadi
rekaman dokumenter sejarah peradaban manusia. Penyair mencatat dan menuangkan
berbagai tragedi yang memalukan dan memilukan dalam puisinya. Lalu, puisi
jadilah barang antik dan klasik yang menjadi bahan referensi bagi para penulis
dan penikmat sejarah dalam sastra.
Selain Damiri Mahmud adalah Herman RN penyair asal Aceh Selatan yang
mencatat tsunami lewat puisi yang berjudul “Laut berzikir” (Harian Aceh
dan blog Gemasastrin, 2009). Dengan puisi tersebut Herman berpesan bahwa tsunami
merupakan suatu teguran buat manusia, berarti Allah masih sangat menyayangi
hamba-Nya. Bagi yang masih hidup, tentunya dapat mengambil pelajaran dari
bencana dunia tersebut sehingga lahirnya perdamaian di tanah Aceh. Lain dari
itu, Arafat Nur penyair dan novelis yang
berdomisili di Lhokseumawe ini, merekam tsunami lewat puisi yang bertajuk
“Perahu Nuh Itu Masih Ada“ (Lagu Kelu, 2009).
Masih dalam ikon sastra
nasional, penyair sekaligus pendiri komonitas Aliansi Sastrawan Aceh (ASA) Doel
Cp Allisah menuangkan tragedi kemanusiaan yang menggugah hati nurani dunia ini
lewat puisi berjudul “Ingatan” (puisi lomba Porseni Depag 2006 di Banda Aceh
dan dalam Lagu Kelu) yang khusus didedikasikan kepada korban tsunami
Aceh. Kisah tsunami dipaparkan Doel Cp lewat larik-larik berikut: Apa yang
tersisa dari semua kenangan tentang kalian/ selain air mata dan doa kami yang
tak putus-putus ?
Demikian pun, penyair dari
belahan sungai Lhokseumawe Hamdani Mulya menyampaikan rasa simpati dan
keprihatinan kepada korban tsunami lewat puisi yang berjudul “Mengeja Alamat
1“. Seperti terbaca jelas pada baris-baris berikut: Dian telah padam pada
nyanyian burung-burung/ terhanyut tsunami/ ribuan nyawa melayang sepanjang laut
dan sungai “krueng” Aceh… kami kehilangan…. Puisi “Mengeja Alamat 1” telah
dibacakan di Radio Citra Multi Suara Lhokseumawe, tahun 2005. Lain daripada
itu, Hamdani Mulya merekam tsunami dengan puisi “Sajak Secangkir Air Mata”
(ASA, 2009) yang ditulis di pendakian gunung Seulawah Aceh, pada Desember 2005.
Terukir pada larik-larik berikut: Secangkir air mata/ Kutuang dalam gelas
kaca warna perak/ tak sebanding denganmu/ kan tinngalkan satu kenangan dalam
rimba luka. Masih banyak puisi lainnya yang tulis oleh Hamdani Mulya yang
berkisah tentang tsunami seperti puisi yang berupa suara keprihatinan penyair
yang terkumpul dalam Lagu kelu.
2. Perdamaian dalam Rekaman
Puisi
Selain tsunami yang tak
seelok namanya. Para penyair juga berteriak tentang damai lewat puisi dan
igauan-igauan mimpi semalam. Lalu puisi menjadi mata air, embun pagi, penyejuk
bagi yang kegerahan akan “damai bersulam bahagia, kita semua rindu, rindu kasih
rindu damai” demikian tentang damai yang terkoyak Hamdani Mulya menulis lewat
puisi “Rindu dalam Damai di Bawah Payung Cinta“ (Wajah Aceh dalam Puisi:
2013), “Adakah Kedamaian ?” (Waspada,
2001), dan “Keluh Kesah“ (Dalam Beku Waktu: 2002). Selain itu, Rosni
Idham penyair asal Aceh Barat merindukan damai lewat ukiran manisnya “Doa Anak
Bangsa“ (majalah Tingkap, 2001) terukir indah dengan bahasa yang
menggugah perasaan pada larik-larik bait terakhir berikut: Tuhan rindu kami/
pada sejuk semilir yang pernah engkau alir/ Pada bening damai yang pernah
engkau semai/ Pada sinar kasih sayang dalam alunan irama tembang/ Pada canda
cinta sesama.
Pada bagian akhir tulisan
ini sebuah puisi yang sangat indah. Goresan apik Nurdin F. Joes saya kutip dari
antologi Podium karya M. Gade atau dengan nama pena Ade Ibrahim.
Kumpulan puisi ini diberikan oleh penyair secara tidak sengaja kepada saya.
Dalam sebuah acara diklat guru Bahasa Indonesia di Medan pada Maret 2009.
Antologi foto kopi puisi Podium ternyata sangat berguna bagi saya
sebagai referensi tulisan ini. Berikut adalah puisi Nurdin F. Joes berbicara
tentang damai yang tertera pada sampul antologi Podium. “Rindu adalah
tapak-tapak penyair. Melintasi padang yang tak terbatas. Melewati jutaan malam
kelam tanpa peta dan alamat serta, menapaki segala peperangan, persengketaan
lewat pertempuran-pertempuran. Para penyair, berangkatlah dengan rindu, cinta
adalah peperangan: cinta adalah perdamaian.”
Demikianlah ulasan singkat
ini kiranya bermanfaat bagi pecinta dan penikmat sastra. Berhubung terbatasnya
referensi dalam menulis tulisan ini, maka saya berharap semoga akan lahir
seribu pujangga lainnya untuk mencatat sejarah dan perdamain dalam bingkai
puisi. Untuk pengembangan sastra dalam kancah sastra tanah air. Saya berharap
nantinya akan muncul genre (jenis) esai maupun puisi katagori sastra sejarah
atau puisi sejarah dan bukan sejarah sastra yang hanya membicarakan sejarah
perkembangan sastra tanah air saja. Melainkan sastra yang mencatat
sejarah-sejarah.
Artinya dalam sastra sejarah
adalah sastra yang berkisah tentang sejarah nasional, sejarah daerah, dan
sejarah dunia. Sastra model ini akan membantu para siswa dan mahasiswa dalam
proses pembelajaran sejarah. Misalnya sastra sejarah yang ditulis oleh Taufiq
Ismail dalam antologi puisi Tirani dan Benteng bercerita tentang sejarah
Orde Baru. Atau seperti Lagu Kelu yang sebagian besar puisi yang
terkumpul di dalamnya bertema Tsunami. Itulah yang saya maksud sebagai sastra
sejarah. Selamat berkarya. Semoga harapan berubah menjadi kenyataan. Jangan
hanya pintar bicara dan “menyanyi “ saja, tetapi juga harus pintar membaca dan
menulis.
Saya akhiri tulisan ini
dengan puisi Taufiq Ismail yang telah mencatat sejarah lewat puisi. Puisi yang
berjudul “Dengan Puisi Aku“. Kiranya
menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa betapa puisi telah menjadi
saksi sejarah hidup kita. “Dengan puisi aku bernyanyi/ sampai senja umurku
nanti/ dengan puisi aku bercinta berbatas cakrawala/ dengan puisi aku mengenang
keabadian yang akan datang/ dengan puisi aku menangis jarum waktu bila kejam mengiris….” (Dipublikasikan di majalah Warta Unsyiah edisi Januari 2016).
Rubrik: BAHASA, SASTRA, SEJARAH, ULAMA
SASTRA
Langganan:
Postingan (Atom)













