Selasa, 05 April 2016

Warta Unsyiah

Rubrik budaya kali ini ditulis Hamdani, S.Pd. alumni FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia yang kini jadi guru MAN Lhokseumawe, yang merekam tsunami dan perdamaian dalam rekaman puisi.


Dapatkan majalah ini di humas Unsyiah. Gratis!


(Sumber berita: instagram univ_syiahkuala)


Terimakasih kepada redaktur Warta Unsyiah. Senang dan bahagia dapat mengabdi di kampus tercinta Unsyiah sebagai alumni FKIP Bahasa dan Satra Indonesia. Dengan memberikan kontribusi dengan menulis.

Sabtu, 02 April 2016

Dalail Khairat dan Qashidah Al-Burdah

Telah terbit buku Shalawat-Shalawat Cinta ringkasan kitab Dalail Khairat karya Syaikh Muhammad Al-Jazuli dan Qashidah Al-Burdah karya Syaikh Muhammad Al-Bushairi karya agung penulis Muslim dunia termasyhur. Yang diterbitkan oleh penerbit Sefa Bumi Persada. Terjemahan edisi Arab-Indonesia.

Penerjemah: Ibnu Muhammad Ali El-Sawanji
Editor          : Hamdani, S.Pd.



“Buku Shalawat-Shalawat Cinta merupakan ringkasan kitab Dalail Khairat karya Syaikh Muhammad Al-Jazuli dan Qashidah Al-Burdah karya Syaikh Muhammad Al-Bushairi adalah karya agung penulis Muslim dunia termasyhur. Yang patut dibaca oleh semua kalangan santri dayah, ulama, pelajar, mahasiswa, guru, cendekiawan Muslim, dan semua orang. Sebagai rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad Saw sebagai kekasih Allah. Kiranya kitab semacam ini perlu untuk disemarakkan untuk dibaca dan dipahami isinya. Salut kepada penerjemahnya Ibnu Muhammad Ali El-Sawanji yang bernama asli Muhammad Khaidir seorang santri dayah dan sekaligus murid saya, yang telah selesai menerjemahkan kitab Cinta Rasul tersebut. Usaha penerjemahan kitab seperti ini perlu digiatkan untuk dilestarikan sebagai upaya pengembangan dakwah dalam bentuk buku. Sehingga menambah ragam khazanah buku-buku Islam. Buku ini enak dibaca meresap dalam hati sehingga dapat merasakan kelezatan Shalawat Rasul.” (Hamdani, S.Pd. pengamat buku pendidikan Islam, Sastrawan Aceh, dan Guru MAN Lhokseumawe) 

Minggu, 20 Maret 2016

Foto Hamdani, S.Pd. dari Masa ke Masa

Ayahanda Hamdani Mulya dan Ananda Keisha Elsria Mulya





Ananda Keisha Elsria Mulya

Hamdani, S.Pd. dan Istri Sri Wahyuni, S.Pd.I.


Hamdani Kecil, ketika duduk di bangku kelas 1
SD Negeri Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara tahun 1987


Hamdani Remaja, ketika duduk di bangku kelas 3
SMP Negeri Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara tahun 1995

Hamdani, S.Pd. tahun 2012

Hamdani, S.Pd. (sebelah kanan)

Hamdani, S.Pd. (posisi kedua kanan baris belakang)




Minggu, 14 Februari 2016

Imum Chiek Masjid Baitul Karim yang Piawai Melukis Kaligrafi dan Jadwal Shalat, Meninggal Dunia

Imum Chiek Masjid Baitul Karim yang Piawai Melukis 
Kaligrafi dan Jadwal Shalat, Meninggal Dunia

(Dimuat majalah online Kanwil Kemenag Provinsi Aceh edisi Senin,10 Juni 2013)

Lhoksukon-KemenagNews (10/6/2013) Aceh kembali berduka dan kehilangan sosok ulama. Kali ini ulama termasyhur Teungku Syu’aibun Haji Maun (68) Imum Chiek Masjid Baitul Karim Sumbok Rayeuk Kec. Nibong, Kab. Aceh Utara berpulang ke Rahmatullah pada Senin (10/6/13) sekira pukul 09.00 WIB pagi hari di kediamannya di desa setempat. 
Teungku Syu’aibun ulama yang akrab dengan umara dan pemuda ini merupakan sosok ramah dan lues dalam bergaul merupakan teladan yang patut dicontoh oleh generasi muda.
Tgk. Syu’aibun selain menjadi Imum Chiek Masjid Baitul Karim juga beberapa periode menjabat sebagai imum Meunasah Gampong Sumbok Rayeuk itu dikebumikan di makam desa setempat. “Kami merasa sangat kehilangan, beliau sering mendampingi kami dalam belajar dalail khairat di masjid,” ungkap Tgk. Amir salah seorang remaja masjid dan dibenarkan oleh Tgk. Asy'ari, S.Pt. ketua remaja Masjid setempat.
Sosok ulama ini selain menjadi imam, guru pengajian, dan pengurus balai pengajian “Bale Neubeut Baitul Karim” juga gemar melukis dan mendesain famplet nama dan spanduk. Maka tak heran jika beliau sering melukis dan mengukir sendiri tulisan kaligrafi dan famplet masjid dan balai pengajian. Itulah sosok ulama yang punya seni mengajar mengaji, juga memiliki seni kaligrafi. Bahkan jadwal shalat pun dilukis sendiri oleh Teungku Syu’aibun Haji Maun.
Almarhum meninggalkan tiga orang anak dan seorang istri. “Kami merasa kehilangan Tgk. Syu’aibun ulama yang juga cendekiawan muslim, menurut saya beliau sosok yang bijaksana”, Ungkap Tgk. Hamdani, S.Pd. salah seorang pengurus remaja masjid Baitul Karim yang akrab dengan awak media dan wartawan ini.
“Saya kemarin melihat beliau juga ikut menemani kami dan pemuda-pemuda bergotong royong ngecor lantai dua teras masjid, beliau duduk di balai ‘Bale Neubet Baitul Karim’ kemarin sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah,” tambah Hamdani yang juga guru MAN Lhokseumawe.

[Sumber Berita: Dokumentasi Remaja Masjid Baitul Karim, Sumbok Rayeuk, Kec. Nibong, Kab. Aceh Utara; Tgk. Asy'ari, S.Pt. dan Tgk. Hamdani, S.Pd. pengurus Remaja Masjid]

Rabu, 13 Januari 2016

Riwayat Singkat Ulama Aceh

RIWAYAT SINGKAT ULAMA ACEH
Oleh Tgk. Hamdani, S.Pd.
Guru MAN Lhokseumawe 

Ulama yang terkumpul dalam riwayat singkat ulama Aceh ini merupakan ulama yang pendakwah, cerdik pandai, intelektual, penulis buku, dan ilmuan muslim yang patut menjadi contoh teladan. Ulama merupakan pewaris para nabi yang sangat berjasa dalam menyebarkan syiar Islam di seluruh penjuru muka bumi. Riwayat singkat ulama Aceh ini disusun untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan sejarah Islam.

                                               
1.     Tgk. Abuya Muda Waly Al-Khalidy
Almarhum Abuya Muhammad Muda Waly lahir di Labuhanhaji, Aceh Selatan. Pendiri dayah (pesantren) Darussalam yang bergelar Syaikhul Islam Al-Kaamil Al-Mukammil Al-Arif Billah Abuya Muhammad Waly Al-Khalidy (1917-1961 M). Gubernur Aceh juga menetapkan Abuya Syekh Muhammad Muda Waly sebagai tokoh pendidikan Aceh, karena jasa almarhum dalam berjuang memajukan pendidikan di Aceh ini.Gelar Abuya Muda Waly ditetapkan dalam rapat alim ulama di Darussalam pada tahun 2009. Sehingga beliau bergelar Syaikhul Islam. Kemudian pada tahun 2007 di Masjid Raya Baiturrahman melalui kajian Islam tingkat tinggi para ulama Aceh telah menetapkan gelar Al-Arif Billah untuk Syekh Muda Waly. Seorang ulama yang termasyhur di kalangan masyarakat Aceh dan Padang serta menjadi rujukan bagi penulis sejarah Islam nusantara.

2.     Tgk. H. Hasanul Basri HG
Abu Mudi merupakan ulama kharismatik Aceh termasyhur. Pelopor berdirinya Institut Agama Islam Al-Aziziah Samalanga. Satu-satunya dayah terpadu tingkat perguruan tinggi Islam di seluruh Indonesia. Telah menjadi contoh dan studi banding bagi daerah-daerah lain di nusantara. Ulama yang juga penulis kitab. Sosok inspiratif yang menjadi contoh bagi perkembangan pendidikan di Indonesia dan Asia Tenggara.
  
3.     Tgk. H. Ibrahim Bardan
Abu Panton adalah salah seorang ulama yang akrab dengan murid-muridnya. Penulis buku resolusi konflik. Beliau menawarkan cara-cara menyelesaikan konfik dengan cara-cara bijak dan lembut. Almarhum pernah menjadi pimpinan dayah Malikussaleh Panton Labu, Aceh Utara. Sering menjadi pembicara pada muzakarah (musyawarah) ulama Aceh.                            

4.     Tgk. H. Mustafa Ahmad
Abu Paloh Gadeng adalah seorang ulama kharismatik yang sangat lembut dalam berdakwah. Namun tegas dalam melawan arus pengaruh budaya asing. Seorang ulama tempat berlabuhnya hati rakyat tempat meminta nasehat dan petuah-petuah. Beliau merupakan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Kab. Aceh Utara. Ulama ahli tauhid dan fikih. Sosok yang dikagumi oleh rakyat dan muridnya. Ulama yang termasyhur di seluruh penjuru Aceh.
         
5.     Tgk. Abdul Jalil Bin Hamzah
Seorang ulama yang sering dipanggil Tgk. Samakurok adalah ulama yang memiliki keramat. Ulama yang lembut dan rendah hati. Hidup sederhana tetapi bersahaja. Lahir sekitar tahun 1954 yang diperkirakan oleh ahli sejarah Aceh, di desa Paya Kambuek, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Meninggal di tempat yang sama pada tahun 1971 pada usia 47 tahun. Tgk. Samakurok adalah ayahanda dari Tgk. H. Abdullah yang sekarang menetap dan tinggal di kampung yang sama.

6.     Prof. Dr. Tgk. H.  Muhibuddin Waly
Abuya Muhibuddin Waly atau yang akrab disapa Abuya Profesor merupakan salah seorang ulama yang penulis buku. Ahli fikih yang dikagumi oleh rakyat Aceh, karena ulama itu adalah pewaris nabi. Merupakan salah seorang anak ulama terkemuka Abuya Muhammad Muda Waly dari Labuhahhaji, Aceh Selatan. Pendapat dan pandangan Abuya Muhibuddin sering dijadikan sebagai rujukan bagi ulama Aceh lainnya.

7.     Tgk. H. Abdul Manan
Tgk. Abdul Manan merupakan seorang ulama yang sering mejadi narasumber dan moderator pada acar seminar Islam serta muzakarah ulama Aceh. Beliau adalah ulama yang politisi mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kab. Aceh Utara. Juga menjadi penceramah dan khatib di mimbar-mimbar masjid di Aceh. Ulama ahli tauhid dan fikih ini sering juga menjadi guru pengajian di masjid dan meunasah (surau).
                              
8.     Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA
Abu Profesor Muslim adalah salah seorang ulama intelektual kampus. Beliau merupakan guru besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Seorang penulis dan pengasuh rubrik tanya jawab tentang hukum Islam di surat kabar. Ulama alumni Mesir yang lembut ini adalah putra asli kelahiran Matang Glumpang Dua, Kab. Bireun. Sering mewakili Aceh ke tingkat nasional. Beliau adalah seorang ilmuan muslim yang patut menjadi contoh bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. Mantan Ketua Mejelis Permusyawaratan Ulama Aceh.
                            
9.     Drs. Tgk. H. Djamaluddin Waly
Abuya Djamaluddin Waly adalah salah seorang ulama Aceh terkemuka. Abuya Djamaluddin Waly sering memimpin zikir dan doa bersama yang diberi nama dengan majelis Zikir Al-Waliyyah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Abuya Drs. Djamaluddin Waly sebagai ulama Aceh yang mencintai rakyat ternyata juga piawai dalam menulis syair. Beliau adalah seorang ulama Aceh yang sastrawan. Selain sebagai ulama Aceh dan sastrawan ternyata Abuya Djamaluddin Waly juga seorang politisi andal yang termasuk lumayan lama berkiprah di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Istimewa Aceh (1968-1987) dan menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (1987-1999) di Senayan Jakarta. Juga sering menjadi pembicara pada acara seminar Islam serta menjadi penceramah di masjid.

10.  Drs. Tgk. H. M. Daud Hasbi, M.Ag
Abi Daud adalah seorang ulama dan pejabat negara. Beliau merupakan mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Aceh Utara. Seorang ulama yang tegas dalam berdakwah. Pelopor bangkitnya dayah terpadu di provinsi Aceh. Pendiri dayah Jeumala Amal Lueng Putue dan dayah Inshafuddin Banda Aceh. Namun Abi Daud merupakan asli putra kelahiran desa Paya Kambuek, Kec. Meurah Mulia yang beribukota Jungka Gajah, Kab. Aceh Utara. Sosok yang disegani dan dikagumi di seluruh penjuru Aceh karena berwibawa dan bersahaja.

11. Tgk. H. Faisal M. Ali
Ulama muda yang satu ini sering menjadi nara sumber pada seminar Islam di Majelis Permusyawaratan Ulama dan sering diundang oleh Perguruan Tinggi Islam sebagai pemateri mengenai syariat Islam. Abi Faisal Sibreh juga akrab dengan mahasiswa dan intelektual muslim. Beliau adalah ulama yang dekat dengan kaum muda.                                      
                  


Ulama itu bagaikan embun di pagi hari
Hangat di dekat sejukkan sanubari
Tunjuki umat Muhammad kala gerah di kalbu
Pemberi minum di saat haus ilmu
( Puisi Hamdani Mulya )




Ulama Aceh yang Sastrawan

ABUYA DJAMALUDDIN WALY
ULAMA ACEH YANG SASTRAWAN
 Oleh Hamdani, S.Pd.
Guru MAN Lhokseumawe

Pada suatu hari di pertengahan bulan Juni 2013. Ketua Pengurus Masjid Besar Islamic Centre Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Tgk. H. Ramli Amin, S.Ag. memperkenalkan sebuah buku kepada saya berjudul Panduan Zikir dan Doa Bersama. Setelah saya amati dan saya teliti ternyata buku tersebut ditulis oleh seorang ulama yang termasyhur dan saya kagumi yaitu Abuya Tgk. H. Djamaluddin Waly. Salah seorang anak ulama tersohor di negeri ini almarhum Abuya Muhammad Muda Waly dari Labuhanhaji, Aceh Selatan. Pendiri dayah (pesantren) Darussalam yang bergelar Syaikhul Islam Al-Kaamil Al-Mukammil Al-Arif Billah Abuya Muhammad Waly Al-Khalidy (1917-1961 M).
Mengenai gelar Abuya Muhammad Muda Waly ini saya dapatkan data pada lembaran bagian awal pembuka buku. Di situ tertera foto Abuya Muhammad Muda Waly beserta nama lengkap beliau dan di bawahnya tertulis nama-nama anak ulama yang akrab disapa Abuya Muda Waly yang pernah memimpin dayah Darussalam. Antara lain adalah Abuya Djamaluddin Waly penulis buku Panduan Zikir dan Doa Bersama  yang terdiri atas 6 buku atau 6 jilid ini.
Mengenai julukan gelar Abuya Muda Waly juga dipaparkan oleh penulis buku pada halaman 39 buku keempat (4) dalam bentuk bahasa ragam sastra yang indah. Seperti yang tertulis dalam beberapa bait syair berjudul “Sejarah Singkat Syekh Muda Waly” berikut ini:

Rapat alim ulama di Darussalam
Pada tahun 2009 tahun Masehi
Memberi gelar Syaikhul Islam
Untuk hamba Tuhan Syekh Muda Waly

Dan terbaca pada bait berikutnya pada syair yang sama berikut :

Tahun 2007 di Masjid Raya Baiturrahman
Melalui kajian Islam tingkat tinggi
Para ulama Aceh telah menetapkan
Al-Arif Billah untuk Syekh Muda Waly

Gubernur Aceh juga menetapkan Abuya Syekh Muhammad Muda Waly sebagai tokoh pendidikan Aceh, karena jasa almarhum dalam berjuang memajukan pendidikan di Aceh ini.
Buku  yang bersampul depan warna hijau bagian atas dan kekuning-kuningan bagian bawah ini bergambar Abuya Djamaluddin Waly. Sedangkan  pada sampul bagian  belakangnya tampak dengan jelas gambar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di masjid kebanggaan rakyat Aceh itulah Abuya Djamaluddin Waly sering memimpin zikir dan doa bersama yang diberi nama dengan majelis Zikir Al-Waliyyah.
Tidak banyak sejarawan, kritikus sastra, maupun pengamat sastra yang mengetahui bahwa Abuya Drs. Djamaluddin Waly sebagai ulama Aceh yang mencintai rakyat ternyata juga piawai dalam menulis syair. Saya tidak ragu mengatakan bahwa beliau adalah seorang ulama Aceh yang sastrawan. Hal tersebut tergambar jelas dari isi buku yang ditulisnya, antara lain terdapat dalam buku yang keempat (4) yang rata-rata setiap judul materi ditulis dalam ragam bahasa sastra berbentuk syair 4 baris yang mirip pantun.
Jika provinsi Riau terkenal dengan ulama dan sastrawan Raja Ali Haji, maka Aceh memiliki sastrawan yang juga ulama hebat bernama Abuya Djamaluddin Waly. Jika rakyat Indonesia pernah kagum dengan ulama yang sastrawan seperti Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (HAMKA), maka Abuya Djamaluddin Waly adalah HAMKA-nya orang Aceh. Seperti kita juga kagum kepada sosok ulama dan sastrawan Ali Hasjmy, karena ulama-ulama itu adalah permata bangsa dan pewaris para nabi.
Selain dalam syair di atas nilai sastra yang terkandung dalam buku Abuya Djamaluddin juga terdapat pada bait pertama (1) syair berjudul “Bapak Rohani” pada halaman 32 buku tersebut seperti tersusun rapi pada larik-larik berikut:

Bapak Rohani memberi bimbingan
Untuk mendapat hidayah Rabbi
Mendekatkan diri kepada Tuhan
Siang dan malam petang dan pagi

Dan juga terkandung pada bait keenam (6) syair yang sama berikut ini:

Cinta Tuhan dapat jaminan
Dimasukkan dalam syurga tinggi
Demikian hadis Nabi menjelaskan
Kepada ummat Islam pengikut Nabi

Syair tersebut merupakan ragam karya sastra yang bernuansa sufi atau tasawuf seperti yang pernah ditulis oleh seorang ulama besar dan sastrawan sufi dari dunia sastra Arab bernama Rabiah al-Adawiyah yang dikutip Abuya Djamaluddin Waly pada lembaran kata mutiara halaman 60 buku keenam (6) jilid terakhir berikut ini:
“Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka, bakarlah aku di neraka; Jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan syurga, jauhkan aku dari syurga. Namun, jika aku menyembah-Mu karena-Mu, maka jangan Engkau jauhkan aku dari keindahan abadi” (Rabiah al-Adawiyah dalam Abuya Djamaluddin Waly, 2003:60).
   
 Abuya Djamaluddin juga menulis dengan bahasa yang indah “Sejarah Darussalam Labuhanhaji” pada syair halaman 40 buku keempat (4) berikut:

Di Labuhanhaji Aceh Selatan
Ada bangunan tempat mengaji
Tempat itu dinamakan
Dengan Darussalam Labuhanhaji

Yang membangun Darussalam
Hamba Tuhan Syekh Muda Waly
Sekitar tahun empat puluhan
Menurut hitungan tahun Masehi

Supaya tidak terjadi simpang siur dan salah pengertian perlu dicatat bahwa buku Panduan Zikir dan Doa Bersama tersebut tidak semuanya berisikan syair. Tulisan yang berupa syair hanya terdapat pada halaman 30-45 buku keempat (4) seperti syair “Bapak Jasmani”, “Bapak Rohani”, “Sejarah Singkat Syekh Muda Waly”, “Sejarah Darussalam Labuhanhaji”, dan syair “Alumni Darussalam Labuhanhaji”.
Sebagian besar isi buku ini bahkan berisikan pedoman atau penuntun zikir dan doa yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, Shalawat kepada Rasulullah Muhammad Saw (Cinta Rasul) dan disertai doa. Yang masing-masing lengkap dengan terjemahan menggunakan ragam sastra. Enak dibaca, meresap di hati sehingga merasakan kelezatan berzikir. Seperti yang ditulis dalam tanda kurung oleh Abuya Djamaluddin Waly pada setiap bagian bawah halaman daftar isi.
Ketika saya mengapresiasikan buku tersebut saya teringat akan suatu kenangan saat-saat bersama Abuya Djamaluddin Waly yang hanya sebentar saja saya berkenalan dengannya. Pada suatu hari tanggal 16 Maret 2013 dalam suatu Seminar Islam Internasional di Masjid Islamic Centre Lhokseumawe dan saya berikan cenderamata kepada Abuya Djamaluddin  sebuah buku yang saya tulis berjudul Wajah Aceh dalam Puisi (Hikayat Ulama Aceh).
Selain sebagai ulama Aceh dan sastrawan ternyata Abuya Djamaluddin Waly juga seorang politisi handal yang termasuk lumayan lama berkiprah di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Istimewa Aceh (1968-1987) dan menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (1987-1999) di Senayan Jakarta. Seperti yang tertulis pada data riwayat hidup Abuya Djamaluddin Waly halaman 64 buku kesatu (1).
Sebagai kenang-kenangan saya akhiri tulisan ini dengan sebuah syair indah yang ditulis oleh Abuya Djamaluddin Waly berjudul “Alumni Darussalam Labuhanhaji” berikut ini:

Ulama alumni Darussalam
Dalam hitungan banyak sekali
Hanya sebagian kami sebutkan
Untuk catatan aneuk rohani

Murid pertama Syekh Marhaban
Mengaji di Darussalam pertama kali
Gob nyan pernah mendapat jabatan
Menteri Pertanian di negeri ini

Disusul Syekh Umar adik Marhaban
Ban dua gob nyan aneuk Abu Krueng Kalee
Abu Usman Fauzi di likotnyan
Tempat tinggai gob nyan di Gampong Lueng Ie

Ulama terkenal Abu Adnan
Tinggai di Bakongan wahe ya akhi
Tgk. Hasan di Lamno Jaya
Bapak Mertua Djamaluddin Waly

Jailani Musa di Kluet Utara
Di Meulaboh kota Abdul Hamidi
Di Ujong Baroh Tgk. Abu Bakar
Di Nagan Raya Yahya ‘Umraithi

Abu Kamaruddin tinggai di Teunom
Tgk. Jafar Lailon di Labuhanhaji
Di Cot Keueng Tgk. Muhammad Ismi
Di Alue Bili Tgk. Ismail

Tgk. Muhammad Syam di Aron Tunggai
Tgk. Syam Marpali di Blang Pidie
Tgk. Bahauddin di Simpang Kanan
Tgk. Zamzami Syam di Singkili

Tgk. Basyah Kamal di Long Raya
Di Lamno Jaya Ibrahim Budi
Tgk. Daud Zamzami di Kuta Raja
Di Aceh Raya Muhammad Zamzami

Di Lam Reung Tgk. Zulkifli
Di Pulau Nasi Tgk. Adnan Haitami
Tgk. Gurah di Peukan Bada
Di Lhok Nga Tgk. Raffari

Tgk. Abdullah di Tanoh Mirah
Di Samalanga Tgk. Abdul Aziz
Tgk. Usman Basyah di kota Langsa
Aceh Tenggara Tgk. Jafar Siddiq

Tgk. Syahabuddin di kota Medan
Di Bangkinang Tgk. Aidarus Ghani
Ahmad Dimyati di Palembang
Di Padang Sidempuan Tgk. Nawawi

Haji Djamaluddin di kota Padang
Beserta ngon gob nyan Tgk. Labai Sati
Di Solok Khatib Abu Syamah
Tgk. Ismail di Padang Basi

Di Blang Bladeh Abu Tu Min
Tgk. Ahmad Sabil di Nanggroe Nisam
Tgk. Hanafi di Matang Kuli
Abah Usman di Matang Glumpang Dua

Sebagian besar Ulama di Aceh ini
Punya hubungan dengan Muda Waly
Langsung tak langsung datang mengaji
Tetap ada hubungan rohani

Hubungan rohani tetap abadi
Tidak bisa putus wahai ya akhi
Bapak rohani dengan anak rohani
Akan dipertemukan di akhirat nanti
 
       Itulah sekilas petuah dari permata bangsa ini Abuya Djamaluddin Waly. Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat lewat amanat yang dapat dipetik dari tulisan ringkas ini.